Kuliner's posts with tag: wisata
|  | Membangun Kejayaan Teh dan Kopi
Di antara Temanggung dan Wonosobo, saya termangu dua kali. Di Desa Rowoseneng, dekat Temanggung, ada sebuah biara Katolik di tengah kebun kopi yang sangat luas. Tempat ini dikenal oleh umat Katolik yang menjadikannya sebagai tempat retret. Kopi dari Rowoseneng juga terkenal di kalangan penggemar kopi.
Beberapa belas kilometer dari Rowoseneng, di sebuah desa bernama Tambi, ada pula sebuah perkebunan teh yang luas. Perkebunan ini sudah mulai beroperasi sejak zaman Hindia-Belanda dulu. Bahkan, selain teh, di kebun ini dulu juga ditanam banyak pohon kina. Maklum, malaria saat itu sedang mewabah di dunia, dan pil kina diperlukan dalam jumlah besar.
Ada beberapa hal yang membuat saya termangu dengan nurani terusik. Pertama, di Rowoseneng saya melihat puluhan pekerja perempuan pemanen kopi yang harus berjalan beberapa kilometer mendaki dan menuruni bukit dengan memanggul karung berisi buah kopi seberat rata-rata 60 kilogram. Ada sentuhan kasih Katolik yang tampak di sana. Semua perempuan itu mengenakan sepatu kets seragam.
Tetapi, mestinya sentuhan kasih tidaklah sebatas memberi sepatu, melainkan juga meringankan beban. Bahkan saya sebagai seorang laki-laki sehat tidak mampu mengangkut beban seberat itu berjalan dalam jarak sepuluh meter. Perempuan-perempuan perkasa itu melakukannya setiap hari. Padahal, setelah bekerja berat di kebun dan pabrik, mereka harus pulang ke rumah untuk memasak bagi keluarga dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Hati saya tidak merelakan “pemandangan” seperti itu berkelanjutan. Para perempuan itu melakukannya karena memang tidak ada pilihan lain.
Mengapa tidak mengoperasikan truk ringan yang hilir mudik mengangkut karung-karung kopi dari kebun ke emplasemen pabrik? Izinkanlah atas nama para pekerja di Rowoseneng saya mengajukan tuntutan ini kepada pihak pengelola pabrik. Bila secara hitung-hitungan bisnis tidak cocok, barangkali umat yang retret di Rowoseneng dapat iuran membelikan truk ringan dan mengoperasikannya di sana untuk meringankan beban pekerja.
Saya ada sedikit dana untuk memulainya. Siapa yang mau ikut? Kalau saya dipercaya untuk mengelola sumbangan, saya akan minta bantuan audit profesional supaya saya tidak kesandung KPK nantinya. Saya tidak kekurangan pekerjaan, kok. Tetapi, untuk yang satu ini saya ikhlas melakukannya.
Di perkebunan teh Tambi, di bawah kerindangan pohon spatudia yang sedang berbunga lebat, saya juga termangu. Pemandangan indah Gunung Sumbing dan Sindoro yang menjulang di atas hamparan perdu teh yang luas menghijau. Keranjang penuh daun teh tentulah tidak seberat karung penuh buah kopi. Karena itu, kegalauan saya tentulah berpindah ke subjek lain.
Perkebunan teh Tambi menghasilkan teh jenis orange pekoe yang terkenal dan berkualitas tinggi. Tetapi, siapa peduli?
Pagi sebelumnya, saya singgah ke sebuah toko teh di Wonosobo yang sudah puluhan tahun berada di sana. Penampilan djadoel (djaman dahoeloe) sangat mencuat dari toko yang terletak di sebuah persimpangan ramai di tengah kota. “Saya mau beli teh orange pekoe,” kata saya di sana, mengharap untuk menenteng pulang oleh-oleh khas Wonosobo, di samping lidah asap kesukaan saya.
“Wah, ndak ada, Pak. Ada-e cuman teh B.O.P.,” kata penjaga toko. Saya melihat sekeliling. Daun-daun teh kering dikemas dalam karung-karung dan kaleng-kaleng bekas minyak memenuhi toko. Pelan-pelan saya menyadari bahwa B.O.P. adalah singkatan dari Broken Orange Pekoe.
“Yang tidak broken apa ada? Yang KW-1 gitu.”
Penjaga toko menggeleng. Alangkah sedihnya. Orang Wonosobo tidak mudah membeli teh orange pekoe yang dihasilkan di perkebunan dekat sana. Yang tersedia adalah rencekan yang termasuk KW-2 – kualitas nomor dua. Pucuk-pucuk daun teh yang muda dan bagus diproses dengan cermat menjadi teh berkualitas tinggi. Sedang daun kualitas rendah beserta ranting-ranting muda yang ikut difermentasi menghasilkan kualitas broken yang rasanya lebih sepet.
Siapa yang salah? Kita semua. Sebagai negara penghasil teh dan kopi penting di dunia, apakah kita “pintar” minum teh dan kopi? Berapa gelintir insan Indonesia yang tahu bedanya teh hijau dan teh hitam (juga sering disebut teh merah)? Berapa banyak orang Indonesia yang paham cara menyedu kopi dengan baik dan benar?
Kuis sederhana untuk Anda. Saya yakin sebagian besar pembaca kolom ini gemar minum Teh Botol Sosro yang dipromosikan dan dipasarkan secara luas – paling tidak pastilah Anda pernah mencicipinya sekali-dua. Tahukah Anda bahwa teh yang dikemas dalam botol itu adalah teh hijau? Survei kecil-kecilan yang saya lakukan menunjukkan bahwa sepuluh dari sepuluh orang yang saya tanyai tidak mengetahui kenyataan itu. “Lho, kan warnanya tidak hijau?” begitu kebanyakan jawab mereka. Mereka tidak tahu bahwa yang namanya teh hijau tidak selalu menghasilkan cairan berwarna hijau. Teh hijau adalah teh yang tidak melalui proses fermentasi atau oksidasi.
Teh hijau dan teh hitam memiliki karakteristik masing-masing – baik dari segi citarasa maupun manfaat terhadap tubuh. Secara umum diketahui teh adalah anti-oksidan yang baik. Tetapi, banyak orang berpendapat bahwa bahwa teh hijau lebih tinggi manfaatnya bagi tubuh manusia. Saya sendiri heran, kenapa produsen teh itu tidak pernah membuat promosi yang lebih mengedepankan substansi bahwa tehnya adalah teh hijau yang lebih bermanfaat bagi manusia.
Tentang teh wangi yang populer di Indonesia – khususnya di kalangan orang Jawa – juga banyak persepsi keliru. Kebanyakan orang berpikir bahwa tehnya dicampur dengan bunga melati. Ini persepsi yang masuk akal karena teh wangi memang menguarkan aroma melati yang kuat – kecuali beberapa merk teh wangi buatan Sumatra yang memakai aroma vanili.
Bunga melati akan menjadi pahit bila diproses menjadi campuran teh. Bunga melati hanya “diperawani” alias “dipakai semalam” oleh daun teh untuk diserap aroma wanginya. Biasanya, pucuk daun teh segar dihamparkan di lantai, lalu di atasnya disebar bunga melati. Sepanjang malam harum melati diserap oleh daun teh. Esok paginya, bunga melati dikumpulkan lagi untuk dikirim ke pembuangan. Habis harum, sampah dibuang. Teh wangi juga jenis teh hijau – yaitu teh yang tidak difermentasikan.
Kebanyakan masyarakat kita juga tidak peduli teh jenis apa yang mereka minum. Berbagai jenis teh yang dipasarkan di Indonesia juga tidak berusaha mendidik masyarakat dengan menampilkan jenis teh pada kemasannya. Lihat saja semua kemasan teh buatan Indonesia. Adakah yang mencantumkan jenis teh yang dipakai?
Padahal, kalau kita di restoran yang menyajikan masakan Tionghoa, bila memesan Chinese tea selalu kita ditanya: “Kwan Im, Oolong, atau bunga krisan?” Lalu, dengan gagahnya kita menyebut jenis teh yang kita sukai. Sama halnya bila kita berada di luar negeri dan ditanya: “Earl Grey, English Breakfast, Lapsang Souchon?” Seperti wine yang tidak hanya merah atau putih, teh pun tidak hanya hijau atau hitam, melainkan tersedia dalam begitu banyak jenis, tergantung pada jenis daun dan cara proses.
Di “subsektor” kopi masyarakat kita juga mengalami sikap “I don’t care” yang sama. Di pedesaan, masih banyak masyarakat yang suka kopi campur jagung ketika digoreng (roasting) agar kopinya lebih kental. Di perkotaan, belum banyak masyarakat modern yang tahu apa bedanya robusta dan arabika. Bahkan belum banyak yang dapat membedakan “kopi enak” dengan “kopi yang lebih enak”.
Kita perlu meningkatkan kepedulian kita terhadap produk Indonesia – dalam hal ini khususnya teh dan kopi. Langkah pertama adalah dengan meng-edukasi diri sendiri memahami jenis-jenis teh dan kopi. Hanya dengan mengenal teh dan kopi secara mendalam kita dapat lebih meng-apresiasi anugrah Allah itu.
Ah, sesudah menyelesaikan tulisan ini, saya akan menyedu teh dari Kayuaro, Sumatra Barat, dengan beberapa lembar daun mint. Tea, anyone?
Bondan Winarno © 2008 Kompas |
|  | Pesta Layang-layang di Pantai Padanggalak
Langit biru di atas Pantai Padanggalak, Denpasar, Bali, awal Juli lalu, terasa semarak oleh ratusan layang-layang berwarna-warni. Layang-layang tradisional Bali, yakni janggan (ular), bebean (ikan), dan pecukan (oval), serta modern (layang-layang dua-tiga dimensi) saling ”bersaing” memperlihatkan keelokan dan kegesitan di atas cakrawala dalam Festival Layang-layang Bali atau Bali Kite Festival Ke-30.
Festival Layang-layang Bali pertama kali digagas budayawan yang juga mantan Gubernur Bali, Ida Bagus Mantra, pada tahun 1978. Dari tahun ke tahun jumlah peserta terus meningkat. Tahun ini, festival diikuti 735 layang-layang yang pesertanya datang dari sekitar 690 banjar se-Bali, sejumlah daerah di Tanah Air, seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan; plus kelompok atau perorangan mewakili 40 negara, antara lain Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Selandia Baru.
Bagi masyarakat Bali, layang-layang adalah bagian integral budaya agraris mereka. Hal ini tercermin dari cerita rakyat tentang Betara Rare Angon yang kerap digunakan sebagai acuan mengenai sejarah kedekatan layang-layang dengan kehidupan masyarakat Bali. Layang-layang menjadi bentuk ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan petani atas keberhasilan panen mereka kepada Dewa Siwa, satu dari tiga manifestasi Tuhan dalam kepercayaan Hindu.
Permainan layang-layang menandai waktu panen, khususnya padi, di banjar-banjar. Kebetulan, panen raya biasanya datang pada bulan Juni-Agustus, bertepatan dengan tibanya musim kemarau. Permainan itu tetap dilakukan, bahkan dilembagakan di sejumlah banjar, dengan pemain utama anak-anak dan remaja. Festival layang-layang lalu menjadi sarana berbagi kebahagiaan bersama bagi seluruh warga, sekaligus menjadi atraksi wisata.
Foto: Priyombodo Teks: Benny Dwi Koestanto © 2008 Kompas |
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Asian | | Location: | Jl. Teuku Umar Nyak Arif No 10, Simprug |
Kepiting Jumbo
Tak hanya sop palumara alias sop ikan bandeng ini saja yang menggugah selera, namun kepiting jumbo dan kerang dara rebus resto seafood ini patut diacungi jempol. Apalagi jika Anda penyuka pedas, pastilah bakal kepincut oleh sambal mangganya yang jempolan!
Dalam rangka traktiran ulang tahun bapak mertua, dua minggu yang lalu saya dan keluarga mencari-cari tempat makan. Sesuai dengan pesanan beliau, saya diminta untuk hunting resto yang menyediakan menu seafood. Akhirnya diputuskan untuk menuju ke daerah permata hijau. Tak lama saya mencoba masuk ke restoran yang bernama 'Seafood Laut Sulawesi'. Lokasinya persis di depan BINUS Arteri Permata Hijau.
Berdasarkan list di menunya, restoran ini menyediakan bermacam-macam seafood dan aneka makanan asal Makasar. Entah karena kalap atau memang kami terbiasa untuk memesan macam-macam makanan (berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah karena porsinya takut gak cukup).
Menu pesanan kami antara lain kerang dara rebus, jalang kote (2 potong), es Palu butung, dan coto Makasar sebagai makanan pembuka atau trial and error food. Kepiting saos padang yang ukuran jumbo, cumi saos padang, cah kangkung, ikan bawal Jepang (katanya kandungan Omega tiganya tinggi lho!), dan sop Palumara (kalo ga salah) untuk sebutan sayur pindang ikan bandeng yang udah ga ada durinya sebagai makanan inti. Es teh manis dan teh manis panas yang ampunnnn manisnya sebagai minumannya.
Tak lama dari kami memesan, satu persatu pesanan datang didahului dengan makanan pembuka. Well menurut saya nih kerang daranya berbeda dari tempat seafood lain, woww... gede-gede!
Coto Makasarnya lumayan lah, es palung butunya saya gak tahu rasanya cuma katanya sih kaya bubur sumsum dicampur pisang trus diberi es. Untuk jalang kotenya rasanya standar kaya pastel-pastel biasa gitu, tetapi sambel encernya pedes banget sampai-sampai membuat saya tersedak.
Makanan pembuka yang pertama datang itu ikan bawalnya (besar dan segar ikannya), terus cumi saos padang plus cah kangkung yang rasanya gak jauh beda dari resto-resto seafood lain. Untuk sup pindang bandengnya sendiri wuihhh... seger pisan, rasanya daging ikannya itu loh mantab, gede dan tanpa duri.
Makanan yang terakhir datang adalah kepiting jumbo saus padang. Begitu si kepiting tiba diatas meja woww.. ternyata kepitingnya super jumbo, lebih besar dari kepiting 'Raja Kepiting' yang ada di BSD. Dagingnya tebal, hmm... mantap sekali! Saya jadi membayangkan bagaimana kalau memesan yang King crab ya, kalau yang jumbonya saja sebesar itu.
Hmm... pokoknya kami benar-benar tidak menyangka kalau pesanan kami saat itu banyak sekali. Sampai-sampai saya yang biasanya suka nyemil kepala ikan plus tulang-tulangnya jadi menyerah. Akhirnya karena sup bandeng masih tersisa lumayan banyak, maka kami membungkusnya untuk dibawa pulang.
Untuk harganya sendiri? Hmmm... yang mahal sih sepertinya kepitingnya, soalnya kepiting jumbo ukuran 1kg lebih yang kami pesan saat itu dibandrol dengan harga Rp 120 ribuan. Nah, berarti per onsnya sekitar sebelas ribuan. Sedangkan harga makananya yang lain, saya rasa standard saja.
Over all, saya recomended jika berkunjung ke resto ini untuk mencoba kepiting dan sup pindang bandengnya. Dijamin bukan hanya top markotop, tetapi maknyossss...
O ya, di sini juga disediakan 3 jenis sambel sebagai pelengkap hidangan seafood ini, yaitu sambel tomat ijo plus bawang merah, sambel terasi, dan sambel mangga (sebenarnya lebih tepat dibilang asinan mangga karena nyaris tidak ada sambalnya). Meskipun begitu saya suka dengan sambel mangga disini. Jadi jangan heran kalau Anda makan disini dan bakal nambah seporsi sambal mangga!
Seafood Laut Sulawesi Jl. Teuku Umar Nyak Arif No 10, Simprug Jakarta
Penulis: Anies Anggara Email: simple_anies[at]yahoo.com Alamat: Jl. MPR VII No.2
(dev/Odi) © 2008 detikcom 
|  | Antara Rawon, Sate Ponorogo dan Pecel Madiun...
Menyusuri Jalan Gondangdia Lama yang kemudian berganti nama menjadi Jalan RP Soeroso, bahkan hingga ke lorong di bawah jalur kereta api, Jalan Cikini IV, mata akan disuguhi berbagai kedai makan di kiri dan kanan jalan. Beberapa warung makanan tradisional bertebaran di kawasan itu. Misalnya, warung yang lebih mirip rumah, persis di samping warung mi legendaris, Mi Gondangdia. Pada pagar halaman terpancang dua penanda dalam ukuran yang terbilang mungil, Sate Ponorogo dan Pecel Madiun. Jangan salah masuk ke sisi kiri. Pilihlah pintu masuk ke dalam rumah. Masuk ke warung ini memang bagaikan bertamu ke rumah seseorang. Pasalnya, warung ini memang semula rumah tinggal, dan masih berbentuk rumah, yang kemudian berubah fungsi menjadi warung. Suasana Jawa cukup terasa dengan hiasan beberapa wayang di dinding tembok. Seperti yang tertulis pada penanda di pagar luar, menu andalan di sini memang pecel madiun dan sate ponorogo. Tapi masih ada satu andalan lagi, rawon. Tiga menu inilah yang paling sering diserbu pengunjung. Warung ini buka pukul 08.00-17.00, Senin-Sabtu, dan memang menyasar pekerja kantoran. Usai waktu makan siang, sekitar pukul 14.00, biasanya lauk-lauk itu sudah ludes. Yang tersisa menu lain seperti sop, empal, tahu, tempe bacem, dan lainnya. Beruntung, Warta Kota masih bisa mencoba ketiga menu andalan itu. Plus jus stroberi yang terasa begitu segar, manisnya tak terlalu manis, dan asamnya tak terlalu asam. Pecel madiun datang tak berpincuk. Pecel ini dihidangkan dalam piring yang dilapisi daun pisang. Nasi yang tak terlalu penuh disandingkan dengan daun pepaya, daun singkong, taoge, kemangi, kenikir, irisan timun, dan kecipir berlumur bumbu kacang. Tak lupa peyek kacang. Bagi mereka yang tak terlalu doyan pedas, jangan lupa pesan bumbu sedang. Jika tidak, perut Anda bisa langsung panas dan nafsu makan pun lenyap. ”Aslinya pecel madiun itu pedes, memang. Tapi kan enggak semua bisa makan pedes, jadi kita bikin yang sedang. Biasanya juga ada jeroan, goreng-gorengan, tapi kita enggak mau pakai itu. Kita pengin yang sehat aja, jadi daun-daunan aja,” kata Irna HN Hadi Soewito, si pemilik. Menurut dia, jika sedang musim, petai cina dan kembang turi pun ditambahkan dalam pecel.
Keluak obat Satu piring pecel madiun yang dibanderol Rp 15.000 lumayan penuh mengisi perut. Jika isi kantong memungkinkan, bisa ditambah seporsi sate ponorogo. Daging ayam yang digunakan untuk sate ini harus ayam kampung. Kenapa? Supaya rasanya empuk dan tak banyak lemak seperti kebanyakan daging ayam negeri. ”Cara motongnya juga beda. Jadi ayam harus digantung, diiris-irisnya ya sambil digantung itu. Makanya daging sate bentuknya agak gepeng,” ungkap Irna.
Seporsi sate ponorogo harganya Rp 20.000, bisa pilih daging saja atau campur (dengan ati ampela dan kulit). Bumbu kacangnya sangat halus. Dan yang pasti, dagingnya tak bercampur gombyor lemak. Ada cerita di balik rawon yang dijual di sini. Rawonnya begitu kental. Menurut Irna, ketika dia memulai usaha pada tahun 2000, garasi diubah menjadi warung dengan hanya tiga meja. Menunya hanya pecel madiun. ”Karena dulu rumah itu dikontrakkan, terus habis masa kontraknya. Suami saya bilang, sayang kalau enggak digunakan. Akhirnya dari tiga meja, kita bikin banyak meja di dalam rumah. Bongkar-bongkar sedikit. Menunya juga kita tambah, ada rawon dan sate ponorogo,” tuturnya. Pada awal dagang itu ada satu pelanggan yang tiap pagi pasti pesan makanan di tempat itu. ”Ketika kita tanya, siapa orangnya, ternyata Ibu Hartini Soekarno (alm). Terus saya komunikasi lewat surat yang saya titipkan pada saat Ibu Har pesan makanan. Saya minta dikritik kalau ada yang kurang. Kemudian beliau kritik soal rawon. Katanya kurang mantap. Terus saya dikasih resep. Jadi itu resep Bu Har,” papar ibu lima putra ini. Irna menjelaskan, rawon di Jawa Timur ada dua macam, bening dan tidak bening. Tapi karena mengetahui keluak (pucung) sebagai bahan utama rawon ternyata banyak diekspor, dia bertanya-tanya, kenapa. ”Ternyata dalam keluak ada kandungan yang digunakan sebagai obat hepatitis B. Lantas karena saya ingin makanan yang saya jual itu menyehatkan, ya saya biarkan saja rawon di tempat saya dibikin sangat kental. Kan sekalian untuk obat,” ujarnya.
Pradaningrum Mijarto © 2008 Kompas |
|  | Tiwok di Kaki Malabar
Sisa hawa dingin malam sebelumnya masih terasa menggigit kulit ketika memasuki kawasan Wisata Agro Malabar, Jawa Barat, pada Minggu pagi, 3 Agustus lalu. "Pada puncak musim kemarau seperti sekarang ini, cuaca sedang dingin-dinginnya, terutama pada pagi hari," kata Deni Fauzi, karyawan Wisata Agro Malabar. Bisa dimaklumi, Perkebunan Teh Malabar terletak di ketinggian 1.550 meter di atas permukaan air laut.
Namun, keadaan seperti itu tidak menghalangi rombongan pembaca setia Suara Pembaruan untuk segera melangkahkan kaki menembus jalan-jalan kecil di sela-sela pepohonan teh. Kegiatan yang diberi nama Tiwok 2008 pada Minggu pagi itu, diikuti 150 orang, sebagian besar pembaca setia sejak Suara Pembaruan masih terbit dengan nama Sinar Harapan, yang kemudian dicabut izin terbitnya oleh pemerintah pada Oktober 1986.
Sejauh mata memandang, pepohonan teh menghampar bagai permadani hijau menutup perbukitan. Pada bagian-bagian tertentu, permukaan hamparan teh itu memantulkan warna keemasan ditimpa sinar matahari pagi. Udara terasa segar. Spontan, siapa pun tergerak untuk menghirup udara bersih memenuhi paru-paru. Sungguh kemewahan yang langka ditemui di perkotaan.
Rombongan Tiwok Suara Pembaruan kemudian dipecah menjadi dua regu. Satu regu menempuh jalur pendek 2,5 kilometer, satu regu lagi menempuh jalur lima kilometer ke arah Gunung Nini. Namun, kelompok itu kemudian terpecah lagi, karena ada yang memilih menempuh jarak lebih pendek, kurang dari dua kilometer pergi-pulang, menuju makam Karel Albert Rudolf Bosscha, yang mendirikan kebun teh Malabar.
Di antara regu terakhir itu, terlihat Marlina Hadi. Pada usia menginjak kepala delapan, ia tak melewatkan waktu untuk ikut acara jalan-jalan di kebun teh dan memilih mengikuti rombongan kecil yang melongok makam Bosscha. Sebaliknya, di barisan yang menempuh jalur panjang, terlihat Juan Santosa. Murid kelas satu sekolah dasar berusia 6,5 tahun itu tampak sangat menikmati perjalanan.
Acara jalan-jalan di kebun teh itu diakhiri dengan acara makan siang bersama, menyantap menu masakan Sunda, sambil mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan para biduan dengan iringan organ.
Warisan Bosscha Perkebunan teh Malabar, yang juga dikenal dengan nama Wisata Agro Malabar, termasuk perkebunan tua. Perkebunan teh yang sekarang masuk dalam wilayah administrasi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII itu dibuka pada 1890, dan dikenal menghasilkan teh dataran tinggi bermutu. Berada di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan air laut, suhu udara rata-rata 16 derajat celsius sampai 25 derajat celsius.
Letak perkebunan teh itu 45 kilometer di sebelah selatan Kota Bandung, di kaki Gunung Malabar. Memerlukan waktu satu setengah sampai dua jam menuju lokasi dengan berkendaraan santai, karena selepas Kota Kabupaten Soreang, kota kabupaten terdekat dengan kebun teh, jalannya berliku-liku.
Selain terkenal dengan produk tehnya, kawasan itu juga dikenal karena keindahan pemandangan alamnya, dan pernah menjadi lokasi pengambilan gambar film Petualangan Sherina. Karena dibangun pada masa pendudukan pemerintah kolonial Belanda, kawasan itu tentu menyimpan tempat-tempat bersejarah. Di tempat itu juga masih bisa dijumpai Wisma Malabar, yang aslinya dibangun pada 1894 sebagai kantor administratur perkebunan Malabar, sekaligus sebagai rumah tinggal KAR Bosscha. Bangunan lain, Wisma Melati, dibangun pada 1898. Bangunan itu dulunya rumah tinggal wakil administratur perkebunan. Kini Wisma Melati disewakan untuk wisatawan. Rumah para pemetik teh yang dibangun pada 1890 sebagai rumah asli Sunda tempo dulu, juga masih dipertahankan otentisitasnya.
Satu tempat bersejarah yang wajib dikunjungi adalah makam KAR Bosscha, tak jauh dari Wisma Malabar. Makam itu terletak di hutan kecil, di tengah-tengah kebun teh. Kondisinya terawat, dikelilingi pagar, dan tanaman coleus warna-warni menghiasi halamannya. Pemandu dari Wisata Agro Malabar menceritakan, tempat ini dahulunya merupakan tempat Bosscha melepas lelah setelah menginspeksi kebun teh.
Bosscha tiba di Indonesia pada 1887 pada usia 22 tahun, untuk mempelajari budi daya teh di Jawa Barat. Pada 1896, ia mendirikan Perkebunan Teh Malabar dan kemudian dikenal sebagai administrator perkebunan-perkebunan teh di Kecamatan Pangalengan, sampai meninggalnya pada 26 November 1928. Selama 32 tahun masa jabatannya di perkebunan teh itu, ia mendirikan dua pabrik teh.
Selain dikenal sebagai administrator kebun teh, Bosscha, menurut catatan PTPN VIII, juga dikenal banyak menyumbangkan pikiran, tenaga, dan dana bagi kepentingan-kepentingan sosial dan pembangunan Kota Bandung, seperti Observatorium Bosscha di Lembang, Bala Keselamatan di Jalan Jawa, sekolah bagi penyandang tunarungu dan tunawicara, Telefoon Maatschappij voor Bandung en Preanger di Jalan Tegallega (kini PT INTI), serta kompleks Nederlands-Indische Jaarbeurs (Pekan Raya) yang kini menjadi kantor Kologdam.
Bosscha menjadi ketua Biro Spesialis Teh pada 1910, ketua Pertanian Percobaan pada 1917, dan menjadi anggota dewan penyantun untuk Tehnische Hogereschool (kini ITB) sampai 1928. Ia juga mendirikan Institut Kanker dan yang pertama kali memperkenalkan satuan hektare dan kilometer untuk menggantikan satuan tradisional pal dan bahu. Atas jasa-jasanya, ia diangkat sebagai warga kehormatan Kota Bandung dan kini namanya diabadikan pula sebagai nama sebuah jalan di utara Bandung.
Gunung Nini Selain jalan kaki di sela-sela kebun teh menghirup udara bersih, tamu perkebunan teh Malabar juga bisa memanfaatkan sarana olahraga tenis, bola voli, bulutangkis, dan berenang di Kolam Renang Air Panas Tirta Camelia. Perkebunan teh yang memproduksi teh hitam jenis Orthodox itu, juga membuka pintu bagi wisatawan yang ingin melihat cara pemetikan teh dan pengolahan teh.
Di areal Wisata Agro Malabar seluas 2.032 hektare, wisatawan bisa mengunjungi air terjun Cilaki, main perahu di Situ Cileunca, serta menikmati permandian air panas Cibolang. Catatan PTPN VIII menyebutkan Bosscha menggagas pembangunan pembangkit listrik tenaga air di kawasan air terjun Cilaki, sebagai penyedia energi listrik bagi pabrik teh dan perumahan karyawan.
Tempat lain yang juga jadi tujuan wisata di kawasan itu adalah Gunung Nini. Walaupun hanya sebuah bukit, tempat itu banyak dikunjungi wisatawan untuk menikmati pemandangan indah dari pegunungan yang melingkungi Malabar, Situ Cileunca. Satu momentum yang sering ditunggu-tunggu wisatawan adalah menunggu saat matahari terbit di antara Gunung Wayang dan Gunung Windu.
Belakangan ini, hutan lindung di depan kompleks Wisma Malabar dibuka untuk lokasi pasar kaget pada hari Minggu. Bagi tamu yang datang dari kota-kota besar, pasar kaget bisa menjadi pilihan untuk berburu menu masakan tradisional.
Peserta Tiwok 2008, misalnya, tak menyia-nyiakan kesempatan mengantre di sebuah gerai makanan yang menawarkan menu unik. Gerai itu menjual nasi merah, nasi hitam, nasi putih, lengkap dengan lauk-pauk khas Sunda, seperti aneka pepes, sayur jengkol, empal, wader goreng, aneka gorengan jeroan, tempe dan tahu goreng bumbu kuning, sambal goreng kentang, kikil kuah, dan rambak goreng. Beberapa peserta, kalangan ibu rumah tangga, bahkan ada yang membeli nasi hitam yang terbuat dari beras hitam sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Jakarta.
Di gerai lain bisa ditemukan masakan tutut, bahasa lokal untuk siput air tawar. Menu unik lain adalah jajanan tradisional, seperti urap jagung, cimol, cenil, dan ketan urap kinca. Makanan tradisional itu terselip di antara penjual baju, sepatu, dan mainan.
Pangalengan sendiri, sangat dikenal dengan produk susu sapi perahnya. Diversifikasi produk susu sapi itu kini bisa diperoleh wisatawan yang berkunjung ke kawasan itu sebagai oleh-oleh. Salah satunya, yang terkenal adalah permen susu yang disebut milk caramels. Selain permen susu, produk serbasusu yang lain adalah dodol susu dan kerupuk susu.
Sotyati © 2008 Suara Pembaruan |
|  | Menikmati Surga Makanan di Senayan
Salah satu acara yang ditunggu-tunggu masyarakat Jakata, akhirnya datang juga. Ini adalah kesempatan untuk mengajak lidah menjelajahi aneka masakan khas Indonesia. Bertempat di Plasa Selatan Senayan, Festival Jajanan Bango kembali menyajikan beragam makanan yang mampu menyedot animo masyarakat ibukota selama dua hari, 8-9 Agustus 2008.
Urusan ‘perut' memang selalu menarik, apalagi bagi para pecinta makanan seperti saya. Kesempatan yang tak bisa dilewatkan, meski tahun lalu saya pernah datang ke pesta kuliner ini. Tepat seperti perkiraan, surga kecil makanan di salah satu sudut Jakarta dipadati dipenuhi pengunjung. Padahal acara baru satu jam saja dibuka.
Sebelum memilih makanan apa yang akan disantap, saya bersama beberapa teman mengelilingi gerai-gerai makanan satu persatu, untuk membandingkan dengan tahun lalu. Ternyata, tidak banyak yang berubah. Masakan-masakan Jakarta seperti Asinan Ny.Isye dan Gabus Pucung Pak Misan kembali hadir memeriahkan pesta ini.
Satu yang berbeda adalah, Bango menyelenggarakan acara khusus, yakni penyajian 80 ekor kambing guling dan dibagikan secara gratis pada pengunjung. Selain bertepatan dengan ulang tahun Bango ke 80, acara ini sekaligus memecahkan rekor MURI.
Setelah berkeliling, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada Soto Kaki Mencos yang sudah terkenal dikalangan pecinta kaki sapi. Saya sudah lama memasukkan sop kaki ini dalam daftar buruan, tetapi belum sempat mencobanya. Potongan-potongan kaki sapinya sungguh menggoda.
Setelah mengantri, akhirnya saya mendapatkan semangkuk soto dengan potongan-potongan kaki di dalamnya. Tak salah pilihan saya. Kaki-kaki ini sungguh empuk dan terasa kenyal di lidah. Kuahnya juga segar di mulut. Setelah itu, saya menutup soto kaki dengan es krim Ragusa yang juga segar, tidak terlalu creamy.
Bubur Pontianak Sayang, perut saya sedang tidak bersahabat sore itu, jadi saya tidak berburu makanan yang lain lagi, hanya mencicipi sedikit dari teman-teman saya. Salah satunya adalah bubur Pontianak. Berbeda dengan bubur Jakarta, bubur ini disiram dengan kuah daging lengkap dengan potongan-potongan daging diatasnya. Selain itu, diatas bubur juga ditaburi dengan ikan asin kecil-kecil dan emping. Perpaduan dari ragam aksesoris bubur mampu menghasilkan kolaborasi yang sedap.
Teman saya yang lain memilih Sop Buntut Cut Meutia. Sayang, kuahnya tidak terlalu panas sehingga mengurangi kelezatan salah satu sop buntut yang terkenal di Jakarta Pusat itu. Semakin malam, pengunjung semakin ramai memadati seluruh area makanan dari ujung yang satu hingga ujung lainnya.Beberapa gerai yang tidak pernah sepi adalah Es Duren Sakinah, Bandung, Nasi Jamblang Cirebon dan Pondok Sate Pejompongan. Butuh kesabaran bagi mereka yang ingin menyantapnya.
Tujuan terakhir kami adalah Es Duren. Meski antrean tak surut juga, tetapi sudah berkurang dibandingkan dengan panjangnya antrean di sore hari tadi. Setelah berdesak-desakan, kami pun mendapatkan seporsi Es Duren untuk disantap rame-rame.
Hmm…aroma duren yang harum membuat kami tak sabar untuk menyantapnya, meski perut sudah terasa penuh. Wow, ternyata durennya banyak juga, sekitar 9 potong buah duren di dalam mangkuk mungil. Sungguh penutup yang pas. Rasanya mantap, mengingatkan saya pada masa-masa kuliah dulu di Bandung, saat ‘nongkrong' di Warung Sakinah .….
Angelina Maria Donna © 2008 Kompas |
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Asian | | Location: | Jalan Cipaku I No.2 - Kebayoran Baru, Jakarta Selatan |
Nasi Komplet
Mumpung sedang meriah suasana perayaan ulang tahun kemerdekaan, Anda bisa menguji selera lewat racikan nasi khas Indonesia. Tak ada duanya, sedap dan bikin ketagihan!
Sejujurnya sudah berminggu-minggu saya memendam rindu masakan Manado. Belum sampai rindu terbalas, saya tiba-tiba ingat dengan racikan nasi bogana yang dibungkus daun pisang khas kota Tegal. Aduh, sedap benar makan pakai tangan dengan nasi beraroma daun pisang. Segera saya memutuskan untuk 'memaksa' 3 orang teman saya menemani saya menebus rasa kangen ini. Maklum, air liur nyaris menetes!
Sasaran saya tentu saja rumah makan spesial nasi rames nusantara, Koko Bogana yang berlokasi di kawasan Kebayoran Baru. Dari luar rumah makan ini telihat seperti rumah biasa. Hanya payung berwarna merah dan putih di pagar depan menjadi aksesori meriah di bulan Agustus. Jajaran pot berisi teratai menambah kesejukan beranda depan yang juga menjadi tempat santap. Di bagian tengah, hingga lantai atas rumah yang berfungsi sebagai ruang makan nyaris sudah penuh. Padahal jam belum menunjukkan pukul 12.00.
Selebaran menu yang disodorkan membuat kami panik campur bingung. Ada 13 jenis nasi rames plus Soto Gombyang, Soto Plered dan Gulai Ikan Melayu. Nasi rames atau nasi dengan lauk-pauk komplet yang ditawarkan oleh Koko Bogana ini antara lain; nasi bogana, nasi pagongan, nasi Rembang, nasi Aburi, nasi Toek-toek, nasi pepes ayam, nasi kuring, nasi kulo, nasi pepes peda, nasi pepes gepek, dan lain-lain.
Nasi bogana yang jadi signature dish rumah makan ini merupakan nasi rames khas Tegal. Teridiri dari nasi puth,telur pindang, suwir opor ayam, serundeng daging, sambal goring hati, orek tempe plus tumis sayuran. Paduan nasi dengan lauk gurih, manis dan pedas ini menjadi ciri utama nasi rames gaya Tegal.
Karena tertantang mencicipi racikan nasi rames yang lain, jadilah kami memesan nasi Rembang, nasi toek-toek, nasi aburi dan nasi pagongan. Sementara menunggu pesanan, beragam jajan pasar yang ditata di lemari kaca menarik perhatian kami. Ada celorot, jentik manis, kue lapis, putu mayang, cenil, jongkong kelapa, bubur lolos, lumpia, risoles, kroket dan jongkong kelapa muda.
Beragam camilan kering dari usus ayam, aneka rempeyek, keripik singkong dan kentang juga memenuhi rak-rak. Rasanya malah seperti pulang kampung di Jawa. Ditambah lagi mas dan mbak pelayan juga berbahasa Jawa! Godaan mata akan jajan pasar akhirnya membuat kamipun membuka makan siang dengan apem kuah gula merah, ongol-ongol dan jentik manis. Apemnya mungil harum, empuk dengan aroma gula yang wangi dan sirop gulanya bersih.
Kenyil-kenyil Ongol-ongol yang disajikan dalam 2 potongan kecil terasa 'kenyil-kenyil' lembut manis dengan balutan kelapa parut yang gurih. Jentik manis yang lama tak saya makanpun tak terlalu manis, dengan taburan biji mutiara yang kenyal. Dessert yang jadi pembuka inipun nyaris habis kami santap!
Persis yang saya bayangkan, nasi rames yang kami pesan semuanya disajikan dengan bungkusan daun pisang. Ada tambahan lalap kol, kemangi dan timun plus sambal. Saat membuka bungkusan nasi toek-toek, terlihat gaya penyajian nasi rames khas Jawa. Nasi putih diberi alas daun pisang dan di atasnya ditaruh berbagai lauk. Ada 2 iris kecil paru goreng, suwiran empal, sambal teri dengan cabai merah hijau plus sepotong kecil ikan peda goreng, dan pepes tahu yang dibungkus mungil.
Kunyahan pertama nasi yang diaduk dengan remahan opak terasa sangat pulen, lembut, nyaris mirip beras ketan dengan aroma harum. Paduan rasa gurih teri dan peda, terasa sangat pas dengan pedas cabai apalagi dicocol dengan sambal rawit hijau yang jadi pelengkapnya. Empalnya juga empuk pas legitnya. Dalam beberapa menit, nasi yang tak terlalu besar porsinya ini pun licin tak bersisa.
Puas menikmati nasi toek-toek, saya pun melirik nasi pagongan yang dipesan teman saya. Wah, nasinya kehijauan dan aromanya kok wangi juga! Akhirnya sesendok nasipun saya cicipi. Hmm..rasanya sangat sedap, nasinya pulen dan aroma daun bayam juga sangat lembut. Saat melirik ada kering kentang ebi plus oseng jambal roti hampir saja saya menyendok lagi. Untung teman saya buru-buru menyingkirkan piringnya!
Akhirnya saya menutup makan siang dengan pisang goreng tepung. Terus terang saya tertarik akan tampilan pisang yang utuh dengan balutan tepung yang sedikit basah plus lelehan madu pisang yang agak gosong. Ternyata saya tak salah pilih, pisang gorengnya terbuat dari pisang raja yang tua, empuk, legit dan wangi. Persis pisang goreng buatan nenek saya. Demi nostalgia pada nenek sayapun membeli 3 potong pisang goreng untuk dibawa pulang.
Yang membuat kami makin puas adalah harga yang ditawarkan. Untuk nasi rames harganya berkisar dari Rp. 12.500 sampai Rp. 17.500 dan soto Rp. 20.000. Sedangkan aneka jajan pasar berkisar Rp. 3.500 – Rp. 9.000. Relatif murah untuk sebungkus kenikmatan khas daerah yang tak ada duanya.
Pastinya saya ingin kembali untuk mencicipi semangkuk soto Plered dan sebungkus jongkong kelapa muda. Tak ada salahnya juga di hari-hari peringatan kemerdekaan ini Anda juga ikut melestarikan kuliner nenek moyang lewat sebungkus nasi rames yang enak ini!
Koko Bogana Jalan Cipaku I No.2 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telpon: 021-720-3754, 08121228160
(dev/Odi) Odilia Winneke © 2008 detikcom 
 Jukung
Jika Anda berlibur ke Bali di akhir pekan ini, jangan lewatkan parade jukung di Sanur. Acara yang digelar satu tahun sekali ini berlangsung sejak Kamis (7/8/2008) hingga Minggu (10/8/2008).
Wisatawan mancanegara dan nusantara yang sedang berlibur di Pulau Dewata menyempatkan diri untuk menyaksikan parade jukung atau perahu tradisional, Kamis kemarin. Kegiatan ini merupakan rangkaian memeriahkan kegiatan Sanur Village Festival (SVF) ke-3 yang berlangsung selama lima hari hingga 10 Agustus. Vionny Lica wisatawan asal Australia di Sanur, Bali, Kamis mengungkapkan kekagumannya dapat menyaksikan parade jukung yang dilakukan oleh kelompok nelayan Desa Sanur. "Saya merasa senang dan kagum menyaksikan parade jukung tersebut, karena untuk dapat menonton atraksi itu harus menunggu waktu setahun lagi," ucap perempuan yang senang dengan kegiatan budaya. Parade jukung yang diikuti 100 peserta yang mengambil start di Pantai Mertasari dan berakhir di depan Pantai Segara dengan jarak tempuh mencapai enam kilometer. Koordinator parade jukung, I Wayan Jelantik mengatakan, penyelenggaraan kegiatan parade jukung itu merupakan agenda rutin SVF yang diikuti oleh semua nelayan Desa Sanur. "Kegiatan ini merupakan sebagai pelestarian masyarakat pesisir, disamping juga memberikan porsi khusus dalam ajang tahunan ini," ujarnya. Tampak para bendega atau nelayan pada parade tersebut mengenakan busana Bali, begitu juga jukungnya dihiasi dengan janur guna menambah kesemarakan pada kegiatan tersebut. Sementara itu Ketua Panitia SVF, Ida Bagus Gde Sidartha Putra mengatakan, keterlibatan para bendega ini merupakan bagian dari komunitas Sanur yang dikenal dengan kehidupan nelayan. "Obyek wisata Sanur sebagai destinasi wisata tertua tak lepas dari kehidupan masyarakat Desa Sanur sebagai nelayan," kata Sidharta menambahkan.
MBK © 2008 Kompas 
 Tepo Tahu
MESKI penampilannya mirip dengan kupat tahu, tahu telur atau tahu gimbal, rasa tepo tahu khas Magetan sangat ringan. Tidak ada pula bau bawang putih menyengat seperti umumnya makanan bersaus kacang.
Di Warung Tepo Tahu Mbak Ima di Jalan Pahlawan, Magetan, Jawa Timur, pelanggan dapat memilih tepo plus telur atau tanpa telur, bisa telur ayam negeri, telur ayam kampung, atau telur bebek. Harganya tentu jadi berbeda. Tepo tahu plus telur ayam negeri Rp 5.000 per porsi dan menjadi Rp 6.000 bila memakai telur ayam kampung.
Setelah duduk di bangku kayu kecil di dekat angkringan, Mbak Ima menyampirkan apron putih di pangkuan. Lalu dia mengambil seiris tahu putih dan memotongnya berbentuk dadu di atas wajan kecil. Beberapa saat kemudian dia memecahkan sebutir telur dan mengaduknya. Setelah itu, dia mengiris sehelai tempe dan memotongnya berbentuk dadu ukuran 0,5 x 0,5 sentimeter lantas mencemplungkannya ke dalam gorengan tahu dan telur.
Sembari menunggu campuran tahu, tempe, dan telur matang, Mbak Ima mengulek bumbu di atas cobek tanah liat. Campuran kacang tanah, cabai rawit, dan sedikit bawang putih, garam, serta irisan kucai dia ulek, lalu dia tuang ke dalam piring saji. Setelah itu, potongan tepo mulai ditata.
Campuran tahu plus telur dan tempe yang sudah matang diletakkan di atas tepo, kemudian Mbak Ima menuangkan kecap manis, menambah sejumput taoge rebus, rajangan seledri, bawang merah goreng, dan menaburkan kacang tanah goreng. Masih ada lagi, sedikit air putih matang di tepi piring dan Mbak Ima memiringkan piring sejenak sebelum menyerahkan tepo hangat itu kepada pelanggan. Jika suka, pelanggan dapat menikmati tepo tahu dengan lempeng alias kerupuk gendar atau rempeyek kacang.
Setiap hari, Mbak Ima menyiapkan empat liter beras untuk membuat 28 tepo. Sebuah tepo cukup untuk empat porsi. Pada hari libur, Mbak Ima menyiapkan lebih banyak lagi.
Bupati Kabupaten Magetan yang baru, Sumantri, merupakan salah satu pelanggan setia. Padahal, hidangan yang ada di situ hanya tepo tahu, tidak ada masakan lain. Biar begitu, hidangan sederhana itu tak terlupakan.
Ida Setyorini © 2008 Kompas 
|  | Nasi Campur Kedewatan, Favorit Mbak Mega
PULAU DEWATA bukan cuma pemandangan indah. Makanan enak yang menggoda selera bisa ditemui di banyak tempat. Salah satunya adalah Nasi Campur Kedewatan di Ubud. Dari Kota Denpasar rumah makan milik Ibu Mangku ini bisa dicapai setelah menempuh perjalanan 45 menit.
Lurus saja melalui Batu Bulan ke arah Ubud, rumah makan Nasi Campur Kedewatan bisa ditemukan. Anda akan menemui sebuah bangunan khas Bali yang disulap menjadi rumah makan dengan konsep terbuka. Bisa memilih lesehan atau duduk di depan meja.
Nasi Campur Kedewatan berbeda dengan nasi campur ala Chinese Food atau nasi rames ala Warung Tegal. Kalau nasi campur Chinese Food biasanya ada potongan daging babi, sate babi, dan telur ayam, nasi campur dari Ubud ini terdiri dari ayam suwir (semacam bumbu kari), sambel goreng tempe kacang, sayur urap bali, dan kulit ayam goreng kering. Kemudian diguyur kuah ayam suwir itu dan diberi potongan telur.
Mengutip istilah orang Bali Nasi Campur Kedewetan itu memakai bumbu megenap yang artinya bumbu genap atau semua bumbu masuk. Rasa rempah-rempahnya sangat terasa. Bagi Anda penggemar rasa pedas, nasi campur ini bisa menjadi pilihan, sebab rasa sambel di dalamnya sangat menonjol. Tapi, bila Anda tidak ingin pedas, sambalnya bisa disingkirkan.
Namun, agar dapat menikmati makanan ini memerlukan perhitungan waktu yang tepat. Pasalnya, terlambat sedikit seluruh makanan pasti sudah habis. Buka jam 11.00, jam 15.00 biasanya sudah ludes. Kalau masih beruntung, pukul 17.00 masih ada sisanya. Saran bagi yang mencoba, silahkan mampir sebelum pukul 15.00 agar tidak kehabisan. Kalau hari libur sekolah, rumah makan ini dipenuhi turis domestik. Tak heran kalau pengunjung terkadang harus antre agar dapat menikmati sepiring nasi campur.
Jangan pernah berharap rumah makan ini sepi, karena penggemarnya bukan cuma orang yang berdomisili di sekitar Ubud. Mereka yang tinggal di Denpasar atau bahkan di luar Bali banyak yang menyukainya. Ssst...Ketua Umum PDI Perjuangan yang juga mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri adalah salah satu penggemar Nasi Campur Kedewatan. Mau coba?
Nama: Nasi Campur Kedewatan Lokasi: Kedewatan - Ubud Pemilik: Ibu Mangku Harga: Rp. 8000/porsi Halal: Ya
Franciska Savitri © 2008 Kompas |
|  | Gunung Rinjani Makin Diminati
Kunjungan wisatawan ke Gunung Rinjani (3.726 m di atas permukaan laut) di Pulau Lombok, NTB yang merupakan salah satu obyek wisata andalan daerah ini, terus meningkat. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Ir. M. Arief Toengkagie di Mataram, Jumat mengatakan, selama empat bulan tahun 2008 (April-Juli) jumlah wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata pendakian itu tercatat 5.038 orang, 3.238 orang di antaranya wisatawan mancanegara (Wisman) dan 1.800 orang wisatawan nusantara (wisnu). Dibanding dengan data kunjungan wisatawan pada periode yang sama tahun 2007 sebanyak 4.477 orang, maka terjadi peningkatan cukup signifikan, selama tahun 2007 (Januari-Desember) jumlah wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata tersebut mencapai 9.517 orang, 5.065 orang diantaranya dari mencanegara dan 4.452 orang wisnu. "Melihat kecenderungan semakin ramainya kunjungan wisatawan, maka hingga akhir tahun 2008 nanti diperkirakan jumlah wistawan yang berkunjung ke obyek wisata tersebut bisa mencapai lebih dari 10.000 orang," kata Arief. Obyek wisata yang secara geografis terletak di tiga kabupaten, yakni Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur melalui jalur pendakian Sembalun, dapat ditempuh selama 4-5 jam menggunakan kendaraan umum. Sedangkan untuk jalur pendakian Sembalun, dari Sembalun Lawang ke Puncak Gunung Rinjani ditempuh selama tujuh jam jalan kaki, sementara Sembalun Lawang-Segara Anak selama 8-10 jam jalan kaki. Sedangkan untuk jalur pendakian Senaru, Kecamatan Bayan, dari Mataram dapat ditempuh selama tiga-empat jam dengan kendaraan umum, selanjutnya Senaru-Segara Anak selama tujuh hingga 10 jam jalan kaki. Para wisatawan yang berkunjung ke Gunung Rinjani bisa menikmati berbagai obyek wisata menarik, antara lain di Senaru yang merupakan gerbang pendakian terdapat desa adat Senaru dan di desa tersebut juga terdapat air terjun dua tingkat, yakni Sedang Gila dengan ketinggian 25 meter dan Tiu Kelep. Selain itu juag bisa ditemukan air terjun Jeruk Manis dengan ketinggian 30 meter di Desa Kembang Kuning dan di lokasi tersebut terdapat berbagai jenis fauna, antara lain lutung (Tracyphitecusauratus cristatus) dan burung elang. Di puncak Gurung Rinjani para wisatawan bisa menikmati keindahan dan memancing ikan di Danau Segara anak yang berada pada ketinggian 2.010 dpl dan mandi di sumber air panas, Aik Kalak dan pemdangan alam yang indah di obyek wisata ini juga bisa ditemukan berbagai jenis fauna dan flora.
IGN Sawabi © 2008 Kompas
|
|  | Tongseng Kepala Kambing
Baru-baru ini saya menemukan lagi kejutan menyenangkan dalam perburuan mencari masakan-masakan khas daerah. Kejutan ini saya temukan di sebuah desa di Muntilan, tidak jauh dari Candi Borobudur, Jawa Tengah.
Yang membuat saya heran, warung ini direkomendasikan oleh banyak orang yang mengetahui reputasi saya sebagai tukang makan. “Harus dan wajib ke sana, Pak. Pokoke mak nyuss tenin!” begitulah rekomendasi orang-orang kepada saya.
Ketika saya diantar ke sana pada suatu malam, ternyata tempatnya mblusuk-mblusuk di dalam kampung. Sudah pasti saya tidak akan dapat menemukannya kalau disuruh pergi sendiri ke tempat itu.
Sebetulnya tempat ini malah bukan warung, melainkan rumah penduduk biasa. Di samping rumah tinggalnya yang sederhana, dibangun ruang tambahan yang hanya terdiri dari dua ruangan. Ruang depan diisi balai-balai beralas tikar, tempat untuk para tamu makan sambil lesehan. Di belakangnya adalah dapur dengan dua tungku kayu. Dapur ini baru mulai kegiatan setelah shalat magrib ditunaikan. Para tamu bukan jenis mereka yang datang bermobil, melainkan pelanggan bersepeda motor yang datang dari berbagai desa sekitar.
Dua orang kakak-beradik–Komarudin dan Salahudin–bekerja di dapur dengan uraian pekerjaan yang tidak pernah berubah. Yang satu hanya mengiris dan menyiapkan bahan, yang lain memasak. Konon, bila pembagian tugas ini diubah, rasa masakannya akan berubah. Kepintaran memasak kakak-beradik yang sama-sama dipanggil Din ini diturunkan oleh ayah mereka, Yadi, yang merintis usaha dan kini sudah meninggal.
Dapur ini hanya menyajikan satu jenis masakan, yaitu tongseng kepala kambing. Para tamu pun tidak mengharapkan masakan lain. Kebanyakan sudah memesan tempat melalui telepon genggam sebelum datang. Ketika saya datang sesaat lewat pukul enam petang, ternyata saya sudah mendapat giliran nomor tujuh. Semua tamu menunggu dengan sabar.
Ketika mengetahui saya datang pun, Din tetap melayani tamu-tamu lain sesuai urutan. Padahal, beberapa tamu bahkan bersedia mengalah dan malah menyilakan saya memesan lebih dulu. Kakak-beradik Din mungkin tidak sadar bahwa itulah justru profesionalisme yang terpuji. Pejabat atau selebriti tidak punya hak untuk menyerobot antrean.
Setiap saat, dari dapur mengembang harum bawang putih yang sedang ditumis, kemudian aroma masakan tongseng yang khas. Setiap kali satu piring tongseng dibawa ke balai-balai untuk tamu yang menunggu, semua tamu yang lain mendegut ludah. Benar-benar satu bentuk “penyiksaan” yang efektif.
Penyajiannya cukup apik. Kepala kambingnya tidak hadir glundungan di piring saji. Semua bagian berdaging dari kepala kambing yang sudah direbus dalam bumbu – lidah, daging pipi, mata, kulit tebal, otak, dan lain-lain dipisahkan dari tulangnya, lalu dipotong kecil-kecil (bite size). Kita tidak terganggu dengan tulang-tulang ketika menyantapnya.
Kuahnya nyemek–setengah kental–dengan aroma bumbu yang mengesankan. Aroma daging kambingnya tidak tercium lagi. Mungkin karena kambing yang dipakai masih berusia muda atau karena unsur bawang putihnya cukup kuat untuk menyamarkan aroma kambing. Pemakaian kecap manis juga sangat tepat sehingga tone manisnya tidak menutup rasa bumbu gule kuahnya.
Tekstur dagingnya juga bagus. Semuanya empuk, tetapi masih terasa gigitannya. Potongan-potongannya yang kecil juga membantu “melunakkan” serat-serat daging ketika digigit. Pendeknya, mak nyuss!
Sederhana Ini adalah untuk kelima kalinya saya dibuat mabuk kepayang oleh masakan sederhana yang langsung disajikan di dapurnya. Keempat dapur sebelumnya juga sudah pernah saya tulis di sini. Yang pertama adalah mangut lele di Desa Jetis, dekat Imogiri, Yogyakarta. Yang kedua adalah mangut lele yang lain lagi, di Desa Sewon, Bantul, Yogyakarta.
Nomor tiga adalah “Gudeg Pawon”, juga di Yogyakarta. Nomor empat adalah bakmi jawa “Mbah Mo” di Desa Code, Bantul, Yogyakarta. Hebat, ya? Kelima tempat itu berada dalam radius 50 kilometer. Orang Yogya rupanya punya keistimewaan untuk menampilkan honest food yang dahsyat langsung dari dapurnya.
Tongseng kepala kamping Pak Din di Muntilan ini mengingatkan saya pada palu basa masakan Daeng Udin di Jalan Serigala, Makassar. Daeng Udin juga memakai semua bagian berdaging dari kepala sapi untuk masakannya. Semuanya dipotong rapi, sehingga sudah tersaji tanpa tulang di piring para pelanggan, dalam kuah yang sungguh mulus dan gurih. Pilihan Daeng Udin untuk memakai kepala sapi–bukan kepala kambing–juga merupakan pilihan sopan. Satu kampiun kuliner lokal yang sungguh tidak boleh dilewatkan.
Masakan mengesankan dari bagian-bagian kepala hewan yang sudah dipisahkan dari tulangnya adalah bacem kepala kambing di daerah Kolombo di Yogya, salah satu pilihan favorit pedoyan makan Butet Kertaradjasa. Sebetulnya, dengan sedikit upaya memisahkan daging dari tulang, sajian pun tampak lebih menarik. Para tamu tidak perlu merasa ngeri melihat bagian daging dan lemak yang masih melekat pada bagian mata atau rahang kambing yang masih bergeligi.
Sekalipun terdengar dan tampak mengerikan bagi sebagian orang, kepala kambing rupanya merupakan daya tarik yang khusus bagi para penggemar makan. Di Solo, tengkleng alias gule encer tanpa santan hampir selalu memakai bagian-bagian dari kepala kambing, tetapi masih lengkap dengan tulang-belulangnya. Begitu juga yang disebut sop kaki kambing di Jakarta sebetulnya justru mengandung banyak bagian kepala kambing, seperti: mata, lidah, dan pipi.
Di Jombang, penjual sate dan gule kambing Ringin Contong sengaja memajang beberapa glundung kepala kambing utuh di atas kuali gulenya sebagai daya tarik. Pelanggan yang berminat bisa memesan kepala itu untuk “dibantai” dan disajikan sebagai gule kepala kambing. Ternyata, setiap hari selalu ada pelanggan yang memesan agar kepala kambing utuh disisakan untuk mereka.
Di Desa Mengoro, Tembarak, sedikit di luar Kota Temanggung, ada penjual brongkos kepala kambing yang sangat terkenal. Sebetulnya, Warung Makan “Punjung Jiwo” milik Pak Pujo ini sebelumnya sudah terkenal dengan sajian brongkos kikil kambing. Tetapi, setelah memerkenalkan menu baru, warung makan ini menjadi semakin laris-manis. Tidak jauh dari tempat Pak Pujo, ada pula penjual brongkos lainnya yang setia menyediakan hanya brongkos kikil kambing.
Brongkos adalah masakan khas Yogyakarta, yaitu gule kental dengan kluwek. Kalau grombyang di Pemalang merupakan bastar antara soto dan rawon, maka brongkos adalah persilangan antara gule dan rawon. Karena kekentalannya, brongkos terasa lebih nendang. Seringkali brongkos – kebanyakan dibuat dari daging sapi dan koyornya – juga diberi kacang merah, sehingga memberi tekstur yang sangat khas.
Di “Punjung Jiwo”, bagian-bagian kepala kambing disajikan dengan tulang-tulangnya. Otak dibungkus tersendiri di dalam daun pisang. Sekalipun masakannya gurih dan dagingnya empuk, tetapi aroma kambingnya masih cukup kentara menghampiri hidung. Karena itu, di warung ini saya justru lebih menyukai brongkos kikil kambingnya.
Yang paling mengerikan adalah cara menyajikan sop kambing di Jalan Tapanuli, Medan. Kepala kambingnya dimasak utuh dalam kuah sop, termasuk otaknya masih di dalam rongga kepala. Setelah matang, kepala kambing dikeluarkan dari kuah dan di-display di atas piring-piring besar. Pelanggan memilih kepala kambing yang disukainya, lalu dipanaskan lagi di dalam kuah sop, dan disajikan utuh sak glundung dalam piring.
Ya, saya akui, saya pun pernah mencicipinya. Tetapi, Anda tidak perlu bertanya apakah saya ingin mengulangi pengalaman itu. Entahlah, kok rasanya saya jadi sangat barbarian ketika melakukannya. Horor banget rasanya!
Penulis adalah seorang pengelana yang telah mengunjungi berbagai tempat dan mencicipi makanan-makanan khas, dan akan masih terus melanjutkan pengembaraannya. (Email : bondanw@gmail.com) © 2008 Kompas |
|  | Dieng, Bulan Madu Menikmati Candi
Situs kompleks percandian Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Senin (28/7/2008) ramai dikunjungi wisatawan nusantara dan mancanegara, menyusul selesai dipugarnya Candi Arjuna. Berbagai atraksi kesenian tradisional masyarakat setempat ditampilkan. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik yang datang untuk meresmikan Museum Kailasa dan Candi Arjuna setelah dipugar sejak 2006 lalu, menyatakan kekagumannya akan keindahan alam kawasan dataran tinggi Dieng yang berhawa sejuk.
"Kawasan wisata ini menarik untuk jadi wisata bulan madu, karena sepi dan dingin. Orang Jepang dan Korea senang tempat seperti ini untuk menikmati bulan madunya. Saya saja berpikir, kapan bisa bulan madu kedua di Dieng," katanya.
Dataran tinggi Dieng berada pada ketinggian 2.000 - 2,500 mdpl, terkenal karena tinggalan purbakala dan pemandangan alamnya. Sampai saat ini terdapat 22 prasasti berbahasa Jawa Kuno yang berisi gambaran Dieng sebagai pusat kegiatan religius. Dieng semula merupakan gunung berapi yang meletus dengan dahsyat, dan menyebabkan puncaknya hancur. Dataran terbentuk dari kawah gunung yang telah mati kemudian jadi danau dan dikeringkan untuk kegiatan agama Hindu.
Abad ke VIII sampai XII Masehi, dibangun candi-candi. Situs kompleks percandian Dieng seluas 900.000 meter persegi terdiri dari kompleks Candi Arjuna, Candi Dwarawati, Candi Gatot Kaca, dan Candi Bima. Kompleks Candi Arjuna terdiri dari Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.
Telaga Jero Wacik menjelaskan, kawasan percandian Dieng dikembangkan atas perintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebagai tempat tujuan wisata, bukan hanya kompleks percandian Dieng yang menarik untuk dinikmati, tetapi juga keindahan alam dan sejuknya hawa pegunungan, serta wisata alam dengan empat buah telaga.
"Sekarang dilengkapi dengan Museum Kailasa, yang memberikan informasi tentang kepurbakalaan di dataran tinggi Dieng. Di museum ada temuan-temuan lepas yang sangat bernilai, arca khas Dieng seperti arca Siwa Trisirah dan Siwanandisawahanamurti. Benda-benda purba itu bukan tidak ada makna, tapi punya filosofi dan pemahaman akan nilai luhur," paparnya.
Menurut Jero Wacik, pemahaman ini diharapkan dapat mengubah sikap masyarakat khususnya generasi muda dalam memandang arti pelestarian dan pemanfaatan benda cagar budaya, situs, dan kawasan. Juga bagi masyarakat sekitar Dieng agar dapat terlibat secara aktif dalam pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya setempat.
Yurnaldi © 2008 Kompas |
 Gratis Beberapa anak tampak bermain di meriam kuno di Taman Fatahillah Jakarta. Setiap akhir pekan kawasan Taman Fatahillah-yang sekitarnya terdapat beberapa museum-ramai dikunjungi warga dan pelajar. Sejumlah museum di Jakarta mengadakan program interaktif bagi pengunjung untuk menarik minat masyarakat. Dalam kunjungan pada hari Sabtu (26/7/2008), Museum Tekstil di Tanah Abang, Jakarta Pusat, membuka kelas membatik serta Museum Seni dan Keramik menggelar kursus membuat tembikar. Kegiatan serupa digelar di Museum Wayang yang memberikan kesempatan pengunjung memainkan gamelan lengkap.
Bagian Umum Museum Tekstil di Tanah Abang, Mis Ari, mengatakan, pihaknya menyediakan kain dan sarana membatik bagi pengunjung agar dapat mengenal langsung tradisi budaya. Koleksi yang dipamerkan juga mencakup berbagai jenis songket, ulos, serta kain tenun dari Sumba, Flores, dan Maluku. ”Kami memiliki 1.700 koleksi tekstil langka yang tidak ada duanya di dunia. Kami juga menanam 30 tanaman asli Indonesia yang dijadikan bahan baku pewarnaan alami. Kain batik dari Sumatera, Jawa, hingga Papua dapat dilihat. Juga dipamerkan pakaian dari kulit kayu yang masih dibuat hingga kini,” ujarnya. Kepala Seksi Koleksi Museum Wayang Katimo mengatakan, di museumnya terdapat sekitar 5.000 wayang dan boneka dari seluruh dunia yang dipamerkan. ”Wayang adalah warisan dunia sesuai maklumat UNESCO. Kami memiliki berbagai koleksi wayang langka yang perlu diketahui masyarakat luas,” katanya. Kegiatan serupa berlangsung di Museum Seni Rupa dan Keramik, puluhan gadis remaja terlihat sibuk membuat pot dan cendera mata keramik. Tanah liat dan tungku pembakar disediakan di Museum Seni Rupa dan Keramik. Muslich, pemandu setempat, mengatakan, kegiatan tersebut secara rutin dilakukan di Museum Seni dan Keramik. Sementara itu, di Museum Sejarah Jakarta diadakan pameran perkembangan wilayah dan penduduk Jakarta abad ke-19 hingga ke-20, bekerja sama dengan Tropen Instituut (Institut Tropis), Amsterdam, Belanda. Sebanyak 30.000 tiket gratisSebanyak 30.000 tiket gratis mengunjungi museum disediakan bagi masyarakat umum sejak 15 Juli hingga 14 Agustus 2008. Manajer Komunikasi PT Sari Coffee Yuflinda Susanta yang ditemui di sela-sela kunjungan Museum Tour Starbucks Coffee, yang berlangsung sehari penuh di lima museum di DKI Jakarta, menjelaskan, pemberian tiket tersebut merupakan pelayanan masyarakat sekaligus membangkitkan kecintaan terhadap warisan budaya dan sejarah Indonesia. ”Kami sudah bekerja sama dengan pemerintah menyediakan tiket gratis untuk mengunjungi Museum Nasional, Museum Tekstil, Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, serta Museum Wayang. Semua gerai Starbucks juga menyediakan brosur gratis lima museum yang terlibat program. Hal terpenting yang hendak dicapai adalah menimbulkan kecintaan dan kebanggaan sebagai orang Indonesia yang dapat timbul setelah mengetahui koleksi museum di Jakarta,” tutur Yuflinda Susanta. Selain itu, Starbucks juga menyiapkan buku panduan gratis museum tersebut yang disediakan di semua gerai se-Jabotabek. Kedai keliling juga disediakan di Kota Tua Jakarta sepanjang akhir pekan selama masa promosi berlangsung. Iwan Santosa© 2008 Kompas
|  | Sup Spesial Calon Presiden
NAMA aslinya Rumah Makan Berkah, tetapi orang kebanyakan mengenalnya dengan nama Warung Sup Ratu Prabu. Mungkin karena dapat berkah dari ratu prabu itulah, konon, orang yang makan sup daging sapi di tempat itu kelak bisa menjadi presiden. Wah!
Rumah makan tersebut mendapat julukannya karena terletak persis di sebelah gedung perkantoran Ratu Prabu I di Jalan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan. Tepatnya, RM Berkah beralamat di Jalan Jeruk Purut Nomor 22. Dari luar, bangunan berbentuk rumah warna hijau muda itu tidak mengesankan sesuatu yang istimewa.
Sebagian besar orang baru tahu keistimewaan RM Berkah setelah diajak atau diberi tahu teman, kerabat, atau kolega yang pernah lebih dulu ke sana. Menu yang disajikan pun sederhana, yakni sup daging sapi. Namun, percayalah, sup daging yang ini sungguh spesial.
Menurut pemiliknya, Rohis Hadiwijaya (55), sejak dibuka pada pertengahan 1970-an, RM Berkah memang mengkhususkan diri menghidangkan menu sup daging khas Betawi. ”Sup daging ini adalah menu khas Betawi dari dulu. Kami tidak menjual menu lain, paling makanan tambahan, seperti pepes, tahu-tempe goreng, dan perkedel,” ungkap pria Betawi asli ini.
Kuah bening Begitu masuk ke rumah makan ini, kita tak akan melihat daftar menu yang ditempel di dinding. Alih-alih, hanya ada secarik kertas kecil bertuliskan ”Porsi Besar Rp 27.000, Porsi Kecil Rp 22.000”. Itu menyebutkan harga untuk dua ukuran porsi sup daging yang disesuaikan dengan tingkat kelaparan dan kapasitas perut setiap pelanggan.
Pada pandangan pertama, sup yang dihidangkan di mangkuk keramik warna putih itu tidak ada bedanya dengan sup buatan ibu di rumah. Kuahnya berwarna bening agak kecoklatan dengan potongan daun bawang dan seledri. Kuah yang masih mengepulkan uap putih tipis ini menjanjikan kesegaran.
Yang terlihat berbeda adalah bungkahan-bungkahan daging sapi yang dipotong dengan ukuran relatif besar (berbeda dengan daging sapi dalam soto betawi yang diiris kecil-kecil). Hal ini menambah sensasi makan karena kita harus memotong-motongnya dengan sendok dan garpu atau mencabiknya dengan gigi dulu sebelum kita kunyah.
Daging-daging itu berwarna merah tua, sekilas seperti daging yang masih segar. Namun, saat diiris dengan sendok terasa sangat empuk. ”Kami sengaja menyajikan daging sapi tanpa lemak dan tulang. Tetapi, kalau ada pengunjung yang ingin lemak yang gurih, kami bisa sediakan juga asal bilang dulu saat memesan,” papar Rohis, yang mengelola RM Berkah bersama istrinya, Ruyati (50).
Ditemani lauk Saat kuahnya diseruput dan potongan daging digigit, dikunyah, dan menyentuh lidah, semuanya terasa pas. Segar dan gurihnya tidak kurang dan tidak lebih. Meski untuk menambah variasi rasa, rumah makan itu menyediakan set penambah rasa standar di meja makan, seperti kecap manis, irisan jeruk nipis, dan sambal cabai merah.
Menyantap nasi putih dan sup daging saja lama-lama lidah akan mulai bosan dan kesepian. Itu sebabnya direkomendasikan mengambil lauk pendamping sesuai selera. Berdasar pengalaman saya, lauk paling istimewa adalah tempe goreng yang masih hangat. Rasanya yang gurih dan crispy melengkapi kuah sup yang segar dan daging yang empuk. Pesanlah minuman es jeruk atau es teh manis untuk membuat acara makan menjadi sempurna.
Untuk seporsi sup, sepiring nasi putih, segelas minuman dingin, dan beberapa potong lauk, seorang pelanggan RM Berkah rata-rata menghabiskan uang Rp 30.000-Rp 40.000. Jumlah yang cukup tinggi untuk ukuran makan rutin setiap hari. Namun, pengunjung rumah makan tersebut selalu penuh, terutama pada jam-jam makan siang. ”Kalau pas jam makan siang, sampai ada yang rela antre di luar,” kata Rohis.
Ditata ulang Untuk mengakomodasi pengunjung yang membeludak itu, Rohis berulang kali harus menata ulang rumahnya buat dijadikan ruang makan pengunjung. Sampai saat ini sudah dua kamar tidur yang dibongkar di rumah berukuran 200 meter persegi itu untuk menampung 100 tempat duduk bagi para tamu. ”Dulu saya sekeluarga tinggal di sini, tetapi lama-lama tempatnya tak cukup, jadi kami hijrah ke rumah baru di Ciganjur. Di sini khusus untuk rumah makan,” papar Rohis, yang meneruskan usaha warung sup daging ini dari mertuanya.
Pengunjung RM Berkah tak hanya para pekerja kantoran yang datang untuk makan siang, tetapi juga keluarga yang berjalan-jalan pada hari libur sampai para artis dan tokoh politikus terkenal.
”Sudah gak terhitung artis atau pejabat terkenal yang makan di sini. Tetapi, saya sengaja tak mendokumentasikannya agar semua orang merasa nyaman di sini. Tidak ada perlakuan istimewa meski yang datang pejabat,” tutur Rohis.
Bicara soal politikus, Rohis bercerita sudah ada tiga Presiden RI yang makan di rumah makan sederhana itu, yakni Gus Dur, Megawati, dan SBY. ”Mereka makan di sini sebelum menjadi presiden. Setelah makan di sini, mereka langsung jadi presiden. Jadi, kalau mau jadi presiden, makanlah di sini dulu, he-he-he,” ungkapnya.
Ayo, ayo, mumpung lagi musimnya mimpi jadi presiden!
Dahono Fitrianto foto Arbain Rambe © 2008 Kompas |
|  | Pilih Mana, Mi Hijau atau Udang Telur Asin?
Begitu mendengar Lippo Cikarang yang ada di benak saya adalah Waterboom, wahana rekreasi air yang sudah tak asing lagi. Namun, kali ini teman saya membawa saya menjelajahi aneka makanan yang ada di area Lippo Cikarang.
Hmm… ada apa ya di kawasan yang dalam benak saya kering dan panas itu? Tetapi, tertarik dengan ajakan icip-icip kuliner, saya dan dua orang teman pun berangkat dari Jakarta menjelang jam makan siang. Perjalanan dari Semanggi ke Cikarang memakan waktu satu jam karena kami tidak harus melalui kemacetan.
Kesan pertama, kawasan ini memang seperti yang saya pikirkan. Namun, itu tak lama. Perlahan, kesan itu menghilang ketika memasuki Lippo Cikarang. Tak ubahnya seperti kawasan perumahan di Jakarta, pengembang Lippo menata daerahnya dengan apik dan asri.
Kami pun tiba di Ruko Plasa Menteng yang terletak tak jauh dari Waterboom. Rasa lapar dan dahaga membuat tak sabar melihat hidangan-hidangan yang menanti. Kedai 12 Bakul adalah rumah makan tujuan pertama kami. Kedai mungil yang buka sejak 1992 itu menyajikan aneka macam masakan Indonesia dan China.
Beberapa yang istimewa adalah nasi udang telur asin, mi hijau organik, gado-gado, dan rujak ulek. Tak perlu berpikir lama, kami segera memesan semuanya. Nurhayati, pemilik restoran, menuturkan, dua menu terakhir merupakan resep keluarga yang diwariskan turun-temurun.
Sementara itu, untuk mi organik tidak seperti kebanyakan mi hijau yang terbuat dari bahan dasar bayam, ia menggantinya dengan sawi hijau. "Kalau memakai sawi hijau, mi jadi lebih kenyal. Beda dengan bayam yang membuat mi agak lembek," tuturnya.
Sembari mengobrol, satu per satu makanan tersaji di depan mata. Wow, semuanya begitu menggoda selera. Saya harus menahan lapar dulu karena kami harus memotret menu-menu itu satu per satu. Akhirnya, sesi pemotretan pun usai. Semua mata pun melirik aneka makanan yang sedari tadi siap disantap.
Pilihan pertama saya jatuh pada udang telur asin. Eits, salah jika Anda membayangkan ada udang dan telur asin dalam satu wadah. Tetapi, ini udang yang digoreng dengan bumbu yang telah dicampur telur asin. Kolaborasi antara udang laut dan bumbu telur asin menghasilkan rasa yang gurih, asin, dan sedikit rasa manis yang berganti-ganti di lidah saya. Sedap! Hanya, jika bumbu telur asin ditambahkan sedikit lagi, saya yakin rasanya akan jauh lebih mantap.
Lebih kenyal & lembut Masakan kedua yang saya cicipi adalah mi hijau organik. Benar kata ibu Nurhayati, mi terasa lebih kenyal dan lembut jika dibandingkan dengan mi yang terbuat dari bayam. Rasanya nyaris sama dengan mi kuning biasa bahkan lebih alami dan sehat. Kuahnya juga segar dan gurih. Apalagi, ditambah dengan potongan jamur dan ayam yang tersebar di atas mi. Tak salah jika pengunjung memilihnya sebagai menu favorit.
Lalu, bagaimana dengan dua menu warisan keluarga? Kesimpulan kami tak jauh beda dengan masakan sebelumnya, sedap. Gado-gado ulek yang terdiri atas potongan tahu, kacang panjang, kentang, kol, dan telur benar-benar mantap dengan bumbu kacangnya yang medok. Sesuatu yang unik saya temukan di menu rujak ulek, ada yang menggelitik rasa. Ada aroma yang berbeda di bumbu rujak karena mampu meninggalkan after taste yang kuat, agak-agak langu gimana gitu…
Ternyata, itu rahasianya. Istri Eddy Himawan ini mengungkapkan, keistimewaan rujak ulek miliknya terletak di bunga laos. Jadi, selain asam dan gula merah, ia menambahkan bunga laos sebagai penambah aroma sehingga menimbulkan sensasi tersendiri bagi penikmatnya ketika dimakan dengan aneka buah-buahan segar.
Petualangan pertama pun berakhir di sini. Meski perut ini sudah cukup penuh, perjalanan belum selesai karena kami beranjak ke tempat kedua, kawasan Sirkus, pusat jajajan kaki lima pada sore hari. Dinamakan Sirkus karena tenda-tenda mirip dengan tenda Sirkus, dengan ujung lancip di tengah.
Beragam makanan tersedia di setiap sudut, mulai dari bakso, kwetiauw, satai, seafood, hingga sop kaki kambing. Begitu banyak yang harus dipilih. Kami akhirnya singgah di Seafood 68 yang mempunyai menu spesial udang saos padang. Selain itu, saya memesan cumi saos mentega dan kerang rebus.
Rasanya? Udangnya lumayan enak, tetapi cuminya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Selanjutnya, saya mencicipi sop kaki kambing meski perut saya sudah totally full, tapi mumpung di Cikarang, pantang kan kalau tidak menjelajahinya? Karena sudah kekenyangan, kami hanya memesan satu porsi saja untuk dicicipi ramai-ramai.
Warung makan yang merupakan cabang dari Tanah Abang ini layak dijadikan pilihan. Seporsi sop kaki kambing yang kami pesan memang sedap. Kaki-kaki kambingnya empuk dengan kuah yang begitu segar. Meski saya hanya mencicipinya sedikit, tetapi cukuplah untuk menyimpulkan rasanya.
Tak sadar, hari sudah berganti malam. Saatnya kami kembali ke Jakarta setelah beberapa jam menyambangi tempat-tempat kuliner di Lippo Cikarang.
Angelina Maria Donna © 2008 Kompas |
 Menikmati Rasanya Trancam
TIDAK ada yang suka berada dalam keadaan terancam. Jantung berdegup kencang, tangan dingin, keringat bercucuran dan perut melilit. Meski konstruksi katanya hampir sama, Trancam tidak akan membuat jantung Anda bergedup kencang, tangan dingin, keringat bercucuran atau perut yang melilit.
Ketika saya dan rombongan berkunjung ke rumah makan Boyong Kalegan, makanan ini menjadi fokus saya. Komposisinya tidak jauh berbeda dengan urap biasa. Berbagai sayuran ditambah parutan kelapa. Trancam adalah makanan khas Jawa Tengah, terdiri dari tauge, kacang panjang yang dipotong kecil-kecil, timun yang dipotong dadu, irisan halus sawi putih serta irisan daun kemangi.
Namun, beberapa resep juga menambahkan irisan halus daun bayam dan potongan wortel. Semuanya diaduk jadi satu dengan parutan kelapa karena dicampur dengan bumbu bawang putih, cabai dan kencur.
Ketika menikmatinya, lidah akan segera dapat mengenali perbedaannya dengan urap. Semua sayurannya mentah! Karena mentah, ketika dimakan rasanya lebih kres dan sangat segar. Aroma dan rasa daun kemanginya terasa sekali. Pas jika dimakan bersama dengan nasi dan ikan bakar khas Boyong Kalegan.
Jika ingin menikmati Trancam dan makanan khas Jawa lainnya, Anda dapat berkunjung ke Boyong Kalegan. Tepatnya di Jl Raya Turi-Pakem km 3 Sleman Yogyakarta, 15 km ke arah utara dari Malioboro. Di tempat ini, Anda juga dapat menikmati keindahan alam yang sangat natural.
Trancam dijual dengan harga murah Rp 6.000.Yang pasti, ketika Anda menikmati Trancam, Anda tidak akan merasa terancam.
Caroline Damanik © 2008 Kompas 
|  | Papua Makin Populer di Mata Turis
Jalan-jalan ke Papua? Jauh kaleee.... Mungkin itu tanggapan sebagian orang jika ditawarkan jalan-jalan ke provinsi di ujung timur Indonesia itu. Papua memang tidak populer sebagai destinasi wisata. Selain jauh, infrastruktur di provinsi itu juga terbatas.
Namun, siapa nyana, ternyata salah satu kabupaten di Papua, yaitu Biak Numfor, mendapat lonjakan kedatangan wisatawan. Arus kunjungan wisatawan ke Kabupaten Biak Numfor,Papua, dalam dua tahun terakhir mengalami kenaikan 29,3 persen dari 16.216 orang menjadi 20.976 orang. "Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Biak Numfor 30,17 persen itu terbanyak adalah wisatawan Nusantara," kata Bupati Yusuf Melianus Maryen, dalam laporan pertanggungjawaban akhir jabatan 2004-2008 di Biak, Selasa (22/7/2008). Ia menyebutkan, dari peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Biak Numfor dengan waktu tinggal bagi turis luar negeri berkisar 3-10 hari hingga satu bulan. Sejalan dengan itu, peningkatan arus kunjungan wisatawan ke Biak diimbangi juga dengan terpenuhinya tingkat hunian hotel mencapai 80 persen dari kapasitas kamar yang tersedia. "Peningkatan arus kunjungan wisatawan luar negeri dan nusantara ke daerah ini terjadi sejak pemerintah kabupaten mencanangkan Biak sebagai kota jasa sejak beberapa tahun belakangan ini,"ungkap B |
|
|