Kuliner's posts with tag: semarang
 | Category: | | Meat & Seafood | | Style: | | Soulfood | | Servings: | | Untuk 6 Porsi |
Description:Baik siang maupun malam, Anda tak perlu khawatir kelaparan di Semarang. Di kota Lumpia ini segala jenis makanan maupun kue bertebaran. Namun Anda yang kebetulan tidak di Semarang pun, bisa, kok, mencicipinya, tentu dengan membuatnya sendiri. Salah satu makanan khas Semarang adalah daging sapi bumbu keluwak. Nah, selamat mencoba. Ingredients:Bahan:- 300 gram daging sapi, potong-potong
- 1.000 ml air
- 2 cm lengkuas, memarkan
- 1 batang serai, memarkan
- 3 sendok makan kecap manis
- 1 sendok makan garam
- 2 sendok makan minyak, untuk menumis
Bumbu halus:- 5 butir bawang merah
- 2 siung bawang putih
- 2 sendok teh ketumbar
- 3 buah keluwak
- 1 sendok teh terasi
Directions:Cara membuat:- Tumis bumbu halus bersama serai dan lengkuas hingga harum.
- Masukkan daging.
- Aduk-aduk hingga daging berubah warna.
- Tambahkan air, kecap manis, garam.
- Masak hingga kuah mengental. Angkat.
sumber: Sedap Sekejap 
 | Category: | | Appetizers & Snacks | | Style: | | Soulfood | | Special Consideration: | | Quick and Easy | | Servings: | | Untuk 10 Porsi |
Ingredients:Bahan:- 5 buah tahu putih kecil, dipotong 4
- minyak goreng
- 200 gram kol, diiris halus
Gimbal:- 125 gram tepung beras
- 2 siung bawang putih, dihaluskan dengan 1 sendok teh garam
- 150 ml air
- 200 gram udang kupas, tinggalkan ekornya
- 100 gram taoge
Sambal:- 100 gram kacang tanah, digoreng
- 10 buah cabai rawit
- 25 gram gula merah, diiris-iris
- garam secukupnya
- 5 sendok makan kecap manis
- 5 sendok makan air
Directions:Cara membuat:- Goreng tahu hingga matang dan kering.
- Campur semua bahan gimbal, sisihkan.
- Masukkan beberapa potong tahu ke dalam sendok sayur.
- Lalu tuangkan adonan gimbal.
- Masukkan ke dalam minyak panas, goreng hingga matang.
- Haluskan bahan sambal. Tambahkan air dan kecap.
- Sajikan tahu gimbal dengan sambal dan irisan kol.
sumber: Sedap Sekejap 
Nasi Pecel Bu Sumo Semarang From: e1d4tin Import.flv (5.1 MB)
 | Category: | Books | | Genre: | Cooking, Food & Wine | | Author: | Fajar Ayuningsih |
Menikmati Kelezatan Makanan Yogyakarta, Semarang, dan Magelang
Harga: Rp 34.000,- Ukuran: 15 x 21 cm Tebal: 80 halaman Terbit: Juli 2008 Soft Cover
BONUS RESEP PILIHAN Sate Sapi Manis Kepiting Taoco Ungaran Kawista Longan Squah Sate Pisang Wedang Ronde Rujak Es Krim Brongkos Daging Bakmi Jawa
lngin membuktikan kedahsyatan lumpia Sernarang yang legendaris? Penasaran dengan Pecel Mbok Djoyo yang sudah rnelancong hingga ke New York? Atau sekedar bernostalgia sernbari rnenikrnati sedapnya rnasakan khas Yogyakarta? Jangan khawatir! Buku ini hadir untuk rnenernani Anda menelusuri setiap pojok kenikrnatan rnakanan khas di kota Sernarang, Magelang, dan Yogyakarta.
Buku yang wajib dirniliki oleh pencinta kuliner dan siapa saja yang doyan rnakan enak. Berisi lebih dari 60 tempat rnakan pilihan di sekitar Sernarang, Magelang, dan Yogyakarta.
Sarat inforrnasi seputar kuliner, dilengkapi dengan resep-resep pilihan. Foto-foto yang rnernikat dengan ulasan yang akrab menjadikan buku ini sebagai sahabat andalan Anda saat jalan- jalan sambil rnakan-rnakan.
ISBN: 978-979-22-3857-0; 21008168 Kategori: Tradisional
Tentang Penulis: Fajar Ayuningsih `Berburu` tempat makan enak dan `menjelajah` resto atau kafe baru adalah kesukaannya. Ditambah lagi dengan pengalamannya selama belasan tahun sebagai food stylist dan food write di beberapa majalah terkenal di Jakarta, semua itu memberinya kesempatan untuk mengenal berbagai seni kuliner tradisional Indonesia dan mancanegara.
Dari sekian banyak tempat makan yang pernah dikunjunginya, resto Nonya termasuk salah satu resto favoritnya. "Citra masakan Nonya sangat akrab dengan lidah melayu saya. Keunikan paduan selera antara seni kuliner Cina dan Malayu, membuat saya ketagihan," begitu kesannya tentang masakan peranakan ini.
Tentang rahasia kepiawaian di dapur penyuka jajan pasar ini punya kiat tersendiri. "Semakin sering seseorang 'terjun' ke dapur, dijamin semakin terampil pula keahlinnya memasak. Soal rasa dan variasi bahan, bisa disesuaikan dengan selera masing-masing. 
 Semarangan Style
Rumah makan yang satu ini memang pas untuk mereka yang sedang kangen berat akan makanan khas Semarang. Dari tahu petis, nasi langgi, semur koyor, hingga lumpia Semarang dapat Anda temui di sini. Pokoknya... uenak tenan!
Jika ditanya tentang makanan khas Semarang, terus terang yang saya tahu hanyalah lumpia Semarang yang terkenal itu. Eits, itu sebelum saya diajak berkunjung ke rumah makan yang ada di bilangan Jakarta Barat ini tentunya. Disini bukan hanya lumpia Semarang, saya pun diperkenalkan dengan aneka penganan Semarang lainnya yang menggoyang lidah.
Menurut teman yang mengajak saya ke sini, 'Waroeng Eddi' ini cukup terkenal sebagai penjual makanan khas Semarang. Tak hanya rasanya yang orisinil namun menu yang ditawarkan pun cukup lengkap, sebut saja tahu petis, nasi langgi, nasi liwet Semarang, mangut atau semur koyor semua komplet.
Waroeng Eddi sendiri sebenarnya memiliki dua cabang yaitu pusatnya yang berada di Jalan Panjang dan satu lagi di bilangan Puri Indah yang sedang kami sambangi ini.
Memasuki area rumah makan ini sebenarnya tidak ada yang istimewa, karena tempatnya kecil, seperti layaknya ruko, sangat sederhana dengan kursi dan meja yang terbuat dari kayu. Sedangkan di dinding restoran terdapat beberapa testimonial dari artis yang pernah mengunjungi rumah makan ini. Termasuk foto bareng pak Eddie sang pemilik warung dengan Mr. Maknyuus, Bondan Winarno!
Daftar menu yang disodorkan masih diperjelas dengan aneka foto berwarna dalam ukuran besar yang ditempel di dinding. Karena sangat ingin tahu rasa makanan Semarangan maka kami memilih beberapa signature dish khas Semarang; bistik galantin dan tahu gimbal udang. Sebagai pembuka tahu petis dan lumpia, serta wedang kacang.
Tak perlu lama menunggu satu demi satu hidangan tersaji di meja. Tahu petis disajikan dalam piring putih panas mengepul. Berisi tahu goreng (sebesar tahu Sumedang) yang dibelah dua dengan isi petis berwarna hitam pekat, berlelehan.
Rasa petis begitu 'nendang' beradu serasi dengan tahu yang lembut dan agak sedikit garing. Menurut teman saya, petis ini bukanlah petis asli tetapi adonan kanji yang diberi tinta cumi plus bawang putih. Karena itu rasanya manis dan lebih encer dari petis asli. Rasa manis gurih tahu petis makin enak saat dikunyah dengan cabai rawit segar. Huahhh... huahh belum apa-apa kami sudah terengah-engah kepedasan.
Lumpia Semarang yang disajikan agak langsing dibandingkan lumpia Semarang yang asli, kurang gendut dan padat. Disajikan panas lengkap dengan acar mentimun plus sasu kecokelatan yang mirip lendir. Rasa rebungnya lumayan segar, hanya saja kulitnya kurang 'crispy'. Meskipun tanpa jejak ebi dan telur orak-arik yang berlimpah lumpia inipun tandas. Dengan Rp 5000,00/buah rasanya cukup sesuai dengan ukuran dan isinya. Apalagi menurut sang pelayan rebungnya langsung didatangkan dari Semarang.
Sajian lain yang menarik dari warung ini adalah Bistik galantin. Bistik ini sebenarnya merupakan pengaruh kuliner Belanda. Adonan ayam dihaluskan bersama bumbu dan roti tawar lalu dibentuk seperti lontong, dikukus dan digoreng.
Di Semarang sendiri galantin cukup terkenal dan banyak dinikmati kaum menengah ke atas. Bistik yang tidak berupa daging utuh ini disajikan dalam ebntuk potongan bundar setebal 0,75 cm dan disajikan berupa dua potong bistik, kentang, irisan wortel, buncis, timun dan daun selada.
Sausnya berupa saus yang agak kecokelatan dengan rasa asam manis. Bistiknya terasa lembut meskipun kurang 'nendang' rasa ayamnya. Sausnya pun terasa kurang sedikit pekat dan sayurannya agak minimalis. Maklum saja harganya dipatok Rp.12.000/porsi.
Setelah sampai di warung Semarang tentu saya tak melewatkan makan tahu gimbal udang. Sajian ini berupa tahu pong (yang tengahnya kosong) goreng dengan gimbal udang, plus telur rebus goreng. Pelengkapnya berupa saus kecap dicampur petis yang encer, sementara bumbu kacangnya ditaburkan di atas tahu gimbal.
Cara makannya, tahu, gimbal udang dan saus harus diaduk jadi satu supaya bumbunya meresap. Setelah itu barulah dinikmati. Wuah...rasanya manis, sedikit gurih plus pedas karena sambal cabai rawit hijau. "Benar-benar 'nendang' dan uenaak," demikian komentar teman saya. Rasa pedas di mulut akhirnya saya padamkan dengan menghirup kuah wedang kacang yang manis. Kacang tanahnya empuk, langsung lumer di lidah saat masuk ke mulut.. Sluururp! Sedap nian!
Meskipun tak bisa dibilang 100% tulen dan enak tetapi warung Eddie bisa jadi alternatif obat kangen Semarang. Apalagi harga yang dipasang tidak terlalu mahal. Bistik gelatin seharga Rp 12.000,- dan tahu petis seharga Rp 2500,-/buah, serta Rp 12.500,- untuk seporsi tahu gimbal udang.
Kapan-kapan kalau lewat daerah Kebon Jeruk mungkin saya mau mampir lagi buat mencicipi nasi goreng babat, babat gongso dan semur koyor yang katanya juga jadi andalan warung ini!
Waroeng Eddi Jl. Raya Panjang No.64, Arteri Kelapa 2 Jakarta Barat Telp 021-70385908
Jl. Pesanggrahan Raya No.8A, Puri Kembangan Jakarta Barat Telp: 70096248
[dev/Odi] Devita Sari © 2008 detikcom 
Semawis, very crowded place in semarang, many food, etc... - this vid showing semawis Before RAIN,and when RAINing.
From: moreuse Import.flv (2.2 MB)
 Lawang Sewu
Gedung Lawang Sewu dibangun secara bertahap sejak 1908, artinya sampai dengan tahun 2008 ini gedung tersebut sudah berusia 100 tahun. Pada tahun 1920, bangunan tersebut digunakan sebagai kantor pusat Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij yang merupakan salah satu dari kantor-kantor modern pertama yang didirikan di Indonesia. Perencananya adalah Klinkkamer dan Ouendaag dari Belanda, dengan gaya neoklasik yang dibuat agak berbeda dari zamannya.
Gedung ini menjadi saksi bisu ketika meletus perang "Lima Hari" di Semarang, dengan lokasi sekitar Tugu Muda menjadi ajang pertempuran pada saat itu. Setelah zaman kemerdekaan RI, fungsinya diambil alih oleh Angkatan Darat, digunakan sebagai Kantor Badan Prasarana Kodam IV Diponegoro. Namun, secara administrasi milik PT Kereta Api (dulu PJKA). Setelah markas Kodam pindah ke Watu Gong, gedung ini kembali dikelola oleh PT Kereta Api dan sering digunakan untuk ajang kegiatan pameran.
Karena banyaknya pintu yang terlihat dari luar bangunan, maka masyarakat menyebutnya dengan gedung Lawang Sewu. Ada cerita menarik di gedung ini, di samping yang sudah terkenal dengan keangkerannya, ternyata juga menyimpan cerita lain. Yaitu, ketika gedung ini akan diperbaiki dengan cara menghilangkan atau mengurangi satu pintunya, para kondektur bus protes ke wali kota saat itu, mereka tidak setuju sebab akan menyulitkan bagi kondektur untuk menawarkan tujuan kepada calon penumpang.
Yang tadinya bisa berteriak... "lawang sewu, lawang sewu..." akan berubah menjadi... "lawang sangang atus sangang puluh songo...". Meskipun itu hanya sekadar guyonan saja, tetapi hal tersebut menunjukkan bahwa Lawang Sewu sudah menjadi milik masyarakat.
Dalam berita akhir-akhir ini terdengar kabar bahwa Lawang Sewu akan dijadikan hotel. Alih fungsi Lawang Sewu menjadi hotel heritage atau warisan budaya ini harus dipandang sebagai gagasan yang positif. Hal itu selaras dengan pengertian konservasi (pelestarian), yaitu suatu proses pemeliharaan untuk mempertahankan makna budaya yang dikandungnya melalui perawatan dan preservasi, restorasi, rekonstruksi, dan adaptasi (The Burra Charter, 1981).
Pendaurulangan bangunan juga sesuai dengan hakikat pelestarian sumber daya alam. Namun, kita tidak boleh melupakan adanya rambu- rambu yang harus dipatuhi dalam pelaksanaan rehabilitasi dalam rangka pelestarian bangunan bersejarah dengan model alih fungsi (adaptasi). Undang-Undang No 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya (UUCB), Peraturan Pemerintah No 10/1993 tentang Pelaksanaan Undang- Undang No 5/1992 itu, dan SKWK 646 (kalau masih berlaku), merupakan perangkat yang tak boleh dilewatkan begitu saja dalam perencanaan di bangunan bersejarah ini.
Kita semua pasti yakin bahwa bangunan Lawang Sewu tidak akan dibongkar, tetapi yang namanya alih fungsi, apalagi dari bangunan bekas kantor menjadi hotel, pasti akan terjadi penambahan dan pengurangan serta pengaturan di sana-sini. Dalam pengertian yang terdapat pada Pasal 1 ayat (2) UUCB, tapak atau lokasi seluruh bangunan gedung Lawang Sewu merupakan situs yang tidak boleh dirusak. Pasal 1 ayat (2) menyebutkan, situs ialah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya, termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya.
Peraturan Pemerintah No 10/1993 tentang Pelaksanaan Undang- Undang No 5/1992 mengatur lebih lanjut tentang hal itu, Pasal 23 menyiratkan tentang adanya peluang untuk melakukan sesuatu sembari melindungi benda cagar budaya. Ayat (2) menyebutkan, dalam rangka melindungi benda cagar budaya, perlu diatur batas-batas situs dan lingkungannya sesuai dengan kebutuhan.
Nah, sesuai dengan informasi yang ada dalam pemberitaan media, perkembangan saat ini, draf nota kesepahaman antara PT Kereta Api selaku pemilik dengan calon investor PT Griya Inti Sejahtera Insani (GISI) sedang diajukan kepada Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (Menneg BUMN), dan Wali Kota akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu memperlancar proses perizinan dan sejenisnya.
Pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab, sudahkah dilakukan penelitian terhadap kondisi nyata bangunan bersejarah tersebut? Penelitian ini tentu saja tidak cukup hanya melulu mendokumentasi dan mengidentifikasi gaya bangunan, tetapi harus lebih mengarah pada penelitian arkeologis dan kesejarahan, yang dilakukan oleh tim independen yang berkompeten.
Integritas arsitektural Mau tidak mau, proses perencanaan yang akan digunakan pastilah dengan pendekatan alih fungsi (dari kantor menjadi hotel). Alih fungsi adalah pengalihan penggunaan bangunan dengan perubahan- perubahan yang diperlukan. Proses ini adalah salah satu cara yang dapat dibenarkan dalam pelestarian bangunan bersejarah. Setelah melalui penelitian arkeologis dan kajian dalam disiplin ilmu yang terkait, serta berbagai negosiasi, akhirnya akan diputuskan bentuk rehabilitasi dan perubahan yang terjadi terhadap bangunan bersejarah ini yang dapat ditoleransi.
Ada kriteria yang harus dipenuhi untuk mewujudkan gagasan baru di lokasi bersejarah, yaitu integritas arsitektural. Integritas di sini adalah kejelasan makna dan nilai dari bangunan dan tapak secara keseluruhan. Ada beberapa atribut yang dapat menciptakan integritas arsitektural, yaitu bentuk atau langgam, kekriyaan, bahan, tipe dan fungsi bangunan, lokasi, serta kesinambungan.
Dari sekian atribut itu, paling-paling hanya beberapa yang masih dapat dipertahankan, mengingat alih fungsi yang sangat kontras, yaitu dari kantor menjadi hotel. Kemungkinan besar yang masih bisa dipertahankan adalah integritas langgam, kekriyaan, dan lokasi. Perencana dan pelaksana pembangunan harus benar-benar paham akan hal tersebut. Integritas lokasi menjadi sangat dominan karena menyangkut masalah lingkungan sekitar bangunan atau yang lebih dikenal sebagai setting.
Munculnya bangunan baru harus menyesuaikan setting yang sudah terbentuk, jangan sampai unsur baru atau tambahan bangunan baru justru merusak setting yang sudah ada. Perlu pengaturan semacam penempatan posisi latar depan dan latar belakang dalam sebuah setting, unsur-unsur baru ditarik menjadi latar belakang agar tidak merusak facade yang sudah memiliki nilai sejarah sangat tinggi dan pengaturan mintakat situs yang jelas mengingat lokasi sekitar Lawang Sewu sudah berkembang pesat.
Oleh: Parfi Khadiyanto, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang © Kompas 
 Pasar Imlek Semawis
Barangkali itulah kata yang cocok untuk menggambarkan para penjual jajanan dan makanan di kegiatan Pasar Imlek Semawis, yang berlangsung di Jalan Gang Pinggir, wilayah Pecinan Semarang, 2-5 Februari 2008. Kegiatan menjual makanan yang dimulai sore hari, kadang pada beberapa penjual, makanan sudah habis ketika hari belum terlalu malam. Padahal, kegiatan yang seperti pasar malam dengan aneka makanan/jajanan serta berbagai pertunjukan kesenian lokal itu berlangsung sampai tengah malam.
Para penjual makanan yang tampil di Pasar Imlek Semawis adalah mereka yang sehari-hari memang membuka kios makanan/jajanan di seputar kawasan Pecinan, seperti Gang Warung, Gang Baru, dan Gang Gambiran. Sejumlah pedagang dari gang-gang tadi pada acara Pasar Imlek Semawis berkesempatan membuka kiosnya di arena Pasar Imlek Semawis—yang setiap harinya dikunjungi manusia sampai berjubel, jalan pun kadang susah.
Mengapa pada kesempatan seperti itu mereka tak membuat makanan atau jajanannya dalam jumlah lebih banyak? ”Wis kesel... (Sudah capai),” kata seorang pedagang. Mungkin, memang seperti itulah virtue para pedagang di kawasan Pecinan Semarang itu: sebuah antitesis dari sesuatu yang bersifat massal.
Kecap Mirama Lihat, misalnya, sekelumit cerita mengenai Kecap Mirama—produk yang sangat diakrabi oleh masyarakat Semarang. ”Anakku yang sekolah di Singapura atau siapa saja kenalan dari Semarang yang tinggal di luar negeri selalu akan meminta oleh-oleh Kecap Mirama. Makan nasi dengan kecap ini saja cukup,” kata Benita Eka Arijani. Dia termasuk penggerak kegiatan ini. Di seputar Pecinan, semua pedagang akan menyapanya. Di situ perempuan asal Salatiga ini seperti selebriti.
”Untuk membeli Kecap Mirama, diberlakukan kuota. Satu orang tak boleh membeli lebih dari dua botol,” kata Widya Wijayanti, arsitek yang juga punya peran dalam pelaksanaan acara ini. Widya menyunting buku Pasar Imlek Semawis 2006, yang di dalamnya tercatat riwayat kegiatan ini, termasuk riwayat beberapa usaha makanan legendaris di Semarang. Di salah satu kios penjual makanan, petang itu tampak Widya menikmati sate ayam, sampai berkeringat. ”Kecapnya Mirama,” katanya menunjuk saus untuk satenya.
Kecap memang terkait erat dengan kelokalan atau tradisi lokal. Tiap daerah punya unggulan kecap masing-masing. Itulah makanya ada sebutan, kecap selalu nomor satu—paling tidak untuk lidah daerah masing-masing. Untuk lidah Semarang, makanan baru afdal kalau dimasak dengan Kecap Mirama.
Lihat saja. Jalan-jalan petang hari di Pasar Imlek yang sangat hidup ini, pertama-tama menikmati apa yang disebut bakmi jowo. Dimasak dengan arang, bakmi goreng dengan ditambah kekian ini luar biasa sedap. Rasanya mau menggasak lebih dari satu porsi kalau tidak mengingat bahwa makanan-makanan lain perlu diberi tempat. Nasi goreng dan soto ayam di dekat situ menunjukkan lagi kualitasnya yang prima—juga dengan andalan kecapnya. Mengapa selalu Kecap Mirama? ”Wis kulino... (sudah terbiasa),” kata si pedagang. (Bukankah ada istilah bahasa Jawa juga, ”Tresno jalaran soko kulino”?)
Makanan/jajanan di situ betapapun sederhananya, umumnya berakar pada tradisi yang panjang—ditumbuhkan dari kecintaan yang terpelihara dari generasi ke generasi. Kalau mau sedikit membandingkan dengan semangat zaman sekarang, itulah kelebihan mereka. Mereka tekun dan setia pada satu hal yang mereka cintai, yakni membuat makanan sampai roh pembuatnya seperti memanifestasi pada kelezatannya.
Kecap Mirama, misalnya, dibuat oleh nyonya yang katanya sangat hobi memasak, yakni Nyonya Kwik Sik Giem, pada sekitar tahun 1935. Yang meneruskan usahanya kini adalah pewaris kesekian. Tempat makan lain, Rumah Makan Air Mancur, sudah eksis sejak tahun 1940-an dan kini dilanjutkan oleh generasi ketiga. Meski namanya ”rumah makan”, jangan bayangkan satu tempat yang mewah. Tempatnya sederhana, menempati ruko dua lantai, dengan sajian nasi langgi, nasi berkat, lontong cap go meh, dan lain-lain. Dalam hal cita rasa, dia terasa lebih sedap dibandingkan dengan beberapa restoran peranakan yang sedang menghiasi kekenesan Jakarta.
Es puter Cong Lik Setiap tempat makan di situ umumnya selalu punya sejarah panjang seperti itu. Bahkan juga es puter Cong Lik, dengan penampilan kiosnya yang sederhana. Es puter durian, kacang hijau, atau ketan hitamnya luar biasa, menyempurnakan petualangan makan sepanjang petang dan malam hari.
Menurut Yvonne, pemiliknya, usaha es putarnya ini sudah dimulai sejak tahun 1944. Tentu saja yang menjualnya waktu itu kakek buyutnya, yang katanya berjualan es puter dengan mendorong gerobak ketika umurnya masih sepuluh tahun. ”Makanya disebut cong (kacung) cilik (kecil),” kata Yvonne, ibu dua anak yang mengaku ”jomblo” ini sembari tertawa.
BRE/IND © Kompas 
|  | Gereja Blenduk Semarang
Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel, di kawasan kota tua Semarang, populer pula disebut dengan istilah "Gereja Blenduk". Bangunan tersebut juga disebut blenduk karena bentuk kubahnya yang seperti irisan bola. Bentuk seperti itu oleh penduduk setempat disebut mblenduk. Gereja Blenduk dibangun pada tahun 1750 dan dipugar pada tahun 1894 oleh arsitek Belanda, HPA de Wilde Westmas.
Gereja peninggalan Belanda ini menempati areal seluas 400 meter persegi, berbentuk heksagonal yaitu segi delapan beraturan. Sebagai salah satu bangunan kuno bersejarah di lingkungan Kota Lama, Semarang, bangunan ini merupakan salah satu objek wisata favorit di Semarang, khususnya bagi mereka yang senang melihat bangunan-bangunan kuno bersejarah peninggalan Belanda.
Wartawan "Pembaruan" Ignatius Liliek |

. Kue Maco Bahan:- 250 gr tepung ketan
- 1 sdm tepung beras
- 1/2 sdt garam
- 225 ml air
- 175 gr gula pasir
- 3 lbr daun pandan
- 1/2 sdt vanili
- 500 ml minyak utuk menggoreng
Isi:- 250 gr kacang hijau kupas
- 200 gr gula pasir
- 1300 ml air
- 200 ml santan kental
- 1 sdt garam
- 2 lbr daun jeruk
- 3 lbr daun pandan
Lapisan:Cara Membuat:- Rebus air, gula, dan daun pandan hingga harum dan gula larut.
- Angkat dan diamkan hingga cukup hangat.
- Campur sisa bahan I, aduk rata kemudian tuangkan adonan di atas sambil diuleni hingga adonan halus dan dapat dipulung.
- Diamkan selama 15 menit.
- Isi: rebus air, daun jeruk, daun pandan, garam, dan kacang hijau.
- Masak sampai kacang hijau empuk dan matang.
- Masukkan sisa bahan, masak hingga dapat dipulung.
- Bulatkan isi, isikan ke dalam adonan, lakukan hingga selesai.
- Letakkan wijen dalam nampan kecil.
- Gulingkan kue maco di atasnya hingga tertutup.
- Panaskan minyak goreng, goreng hingga kecokelatan.
- Tiriskan, angkat dan sajikan.
Untuk 15 buah foto: Widi Nugroho© 2001 TabloidNova

. Tahu Pong Komplit Bahan:- 2 bks tahu pong, potong dadu 2 cm
- 1/2 sdt garam
- 4 bh telur rebus, kupas
- 3 sdm bawang merah goreng
Gimbal udang:- 100 gr udang
- 125 gr tepung terigu
- 2 siung bawang putih, haluskan
- 1/2 sdt lada
- 1 sdt garam
- 200 ml air
Saus:- 2 siung bawang putih, haluskan
- 10 bh cabai rawit hijau, haluskan
- 4 sdm petis udang
- 2 sdm kecap manis
- 1 sdt gula merah
- 1/2 sdt garam
- 300 ml air
- Minyak goreng
Cara membuat:- Panaskan minyak, goreng tahu hingga kering, angkat, tiriskan.
- Goreng pula telur hingga kecokelatan, angkat, tiriskan.
- Buat gimbal udang: campur tepung terigu, bawang putih, lada dan garam.
- Aduk rata, tuang air sedikit demi sedikit hingga adonan kental.
- Panaskan dua buah wajan, satu wajan anti lengket dan satu wajan dengan minyak banyak.
- Tuang 1 sendok sayur adonan, taruh 3-4 ekor udang.
- Goreng hingga setengah matang, angkat.
- Masukkan dalam wajan satunya, goreng hingga kering, angkat, tiriskan.
- Buat kuah: panaskan minyak, tumis bawang putih hingga layu.
- Masukkan cabai rawit, petis, kecap manis, gula merah, garam.
- Tuang air, masak hingga mendidih, angkat.
- Susun dalam piring, tahu pong potong, gimbal udang potong, dan telur goreng potong.
- Beri sausnya, taburkan bawang merah goreng, sajikan.
Untuk 4 orang foto: Widi Nugroho© 2001 TabloidNova

. Lumpia Semarang Bahan:- 20 lbr kulit lumpia siap pakai
- Daun bawang cung
Isi:- 75 gr udang cincang
- 75 gr ayam cincang
- 300 gr rebung, iris korek api
- 100 gr tauge
- 1 btg daun bawang, iris halus
- 2 sdm kecap manis
- 1/2 sdt garam
- 1/2 sdt lada
- 1 sdt gula pasir
- 1 btr telur, kocok lepas
- Minyak goreng
Bumbu halus:- 2 siung bawang putih
- 2 sdm ebi
- 4 bh bawang merah
- 1/2 sdt garam
- 1/4 sdt lada bubuk
Acar, aduk rata:- 150 gr ketimun
- 10 bh cabai rawit
- 1 sdm gula pasir
- 1/2 sdt garam
- 1 sdt cuka
Saus:- 2 siung bawang putih, cincang
- 50 gr gula merah
- 150 ml air matang
- 3 sdm tepung sagu, larutkan
- 1/4 sdt garam
- 1 sdm minyak untuk menumis
Cara membuat:- Buat isi: panaskan minyak, tumis bumbu halus sampai harum.
- Masukkan ayam dan udang, aduk sampai berubah warna.
- Tambahkan rebung, tauge, daun bawang, kecap manis, garam dan lada.
- Aduk, masak hingga kering.
- Masukkan telur kocok, aduk-aduk, masak hingga kering, angkat, dinginkan.
- Ambil selembar kulit lumpia, beri 1 sdm adonan isi.
- Lipat kedua ujungnya lalu gulung dan rekatkan dengan putih telur.
- Panaskan minyak, goreng lumpia sampai kuning kecokelatan, angkat, tiriskan.
- Buat saus: panaskan minyak, tumis bawang putih hingga layu.
- Tambahkan air dan garam, rebus hingga mendidih.
- Masukkan larutan tepung sagu, aduk.
- Masak hingga mendidih dan kental, angkat.
Untuk 8 buah foto: Widi Nugroho© 2001 TabloidNova
| |