Kuliner's posts with tag: kuliner

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag kuliner
ReviewReviewReviewReviewReviewSeafood Laut SulawesiAug 16, '08 11:47 AM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Jl. Teuku Umar Nyak Arif No 10, Simprug
Kepiting Jumbo

Tak hanya sop palumara alias sop ikan bandeng ini saja yang menggugah selera, namun kepiting jumbo dan kerang dara rebus resto seafood ini patut diacungi jempol. Apalagi jika Anda penyuka pedas, pastilah bakal kepincut oleh sambal mangganya yang jempolan!

Dalam rangka traktiran ulang tahun bapak mertua, dua minggu yang lalu saya dan keluarga mencari-cari tempat makan. Sesuai dengan pesanan beliau, saya diminta untuk hunting resto yang menyediakan menu seafood. Akhirnya diputuskan untuk menuju ke daerah permata hijau. Tak lama saya mencoba masuk ke restoran yang bernama 'Seafood Laut Sulawesi'. Lokasinya persis di depan BINUS Arteri Permata Hijau.

Berdasarkan list di menunya, restoran ini menyediakan bermacam-macam seafood dan aneka makanan asal Makasar. Entah karena kalap atau memang kami terbiasa untuk memesan macam-macam makanan (berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah karena porsinya takut gak cukup).

Menu pesanan kami antara lain kerang dara rebus, jalang kote (2 potong), es Palu butung, dan coto Makasar sebagai makanan pembuka atau trial and error food. Kepiting saos padang yang ukuran jumbo, cumi saos padang, cah kangkung, ikan bawal Jepang (katanya kandungan Omega tiganya tinggi lho!), dan sop Palumara (kalo ga salah) untuk sebutan sayur pindang ikan bandeng yang udah ga ada durinya sebagai makanan inti. Es teh manis dan teh manis panas yang ampunnnn manisnya sebagai minumannya.

Tak lama dari kami memesan, satu persatu pesanan datang didahului dengan makanan pembuka. Well menurut saya nih kerang daranya berbeda dari tempat seafood lain, woww... gede-gede!

Coto Makasarnya lumayan lah, es palung butunya saya gak tahu rasanya cuma katanya sih kaya bubur sumsum dicampur pisang trus diberi es. Untuk jalang kotenya rasanya standar kaya pastel-pastel biasa gitu, tetapi sambel encernya pedes banget sampai-sampai membuat saya tersedak.

Makanan pembuka yang pertama datang itu ikan bawalnya (besar dan segar ikannya), terus cumi saos padang plus cah kangkung yang rasanya gak jauh beda dari resto-resto seafood lain. Untuk sup pindang bandengnya sendiri wuihhh... seger pisan, rasanya daging ikannya itu loh mantab, gede dan tanpa duri.

Makanan yang terakhir datang adalah kepiting jumbo saus padang. Begitu si kepiting tiba diatas meja woww.. ternyata kepitingnya super jumbo, lebih besar dari kepiting 'Raja Kepiting' yang ada di BSD. Dagingnya tebal, hmm... mantap sekali! Saya jadi membayangkan bagaimana kalau memesan yang King crab ya, kalau yang jumbonya saja sebesar itu.

Hmm... pokoknya kami benar-benar tidak menyangka kalau pesanan kami saat itu banyak sekali. Sampai-sampai saya yang biasanya suka nyemil kepala ikan plus tulang-tulangnya jadi menyerah. Akhirnya karena sup bandeng masih tersisa lumayan banyak, maka kami membungkusnya untuk dibawa pulang.

Untuk harganya sendiri? Hmmm... yang mahal sih sepertinya kepitingnya, soalnya kepiting jumbo ukuran 1kg lebih yang kami pesan saat itu dibandrol dengan harga Rp 120 ribuan. Nah, berarti per onsnya sekitar sebelas ribuan. Sedangkan harga makananya yang lain, saya rasa standard saja.

Over all, saya recomended jika berkunjung ke resto ini untuk mencoba kepiting dan sup pindang bandengnya. Dijamin bukan hanya top markotop, tetapi maknyossss...

O ya, di sini juga disediakan 3 jenis sambel sebagai pelengkap hidangan seafood ini, yaitu sambel tomat ijo plus bawang merah, sambel terasi, dan sambel mangga (sebenarnya lebih tepat dibilang asinan mangga karena nyaris tidak ada sambalnya). Meskipun begitu saya suka dengan sambel mangga disini. Jadi jangan heran kalau Anda makan disini dan bakal nambah seporsi sambal mangga!

Seafood Laut Sulawesi
Jl. Teuku Umar Nyak Arif No 10, Simprug
Jakarta

Penulis: Anies Anggara
Email: simple_anies[at]yahoo.com
Alamat: Jl. MPR VII No.2

(dev/Odi)
© 2008 detikcom


Photo AlbumGondangdia Lama (3 photos)Aug 15, '08 8:43 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Antara Rawon, Sate Ponorogo dan Pecel Madiun...

Menyusuri Jalan Gondangdia Lama yang kemudian berganti nama menjadi Jalan RP Soeroso, bahkan hingga ke lorong di bawah jalur kereta api, Jalan Cikini IV, mata akan disuguhi berbagai kedai makan di kiri dan kanan jalan. Beberapa warung makanan tradisional bertebaran di kawasan itu.
   
Misalnya, warung yang lebih mirip rumah, persis di samping warung mi legendaris, Mi Gondangdia. Pada pagar halaman terpancang dua penanda dalam ukuran yang terbilang mungil, Sate Ponorogo dan Pecel Madiun.
  
Jangan salah masuk ke sisi kiri. Pilihlah pintu masuk ke dalam rumah. Masuk ke warung ini memang bagaikan bertamu ke rumah seseorang.  Pasalnya, warung ini memang semula rumah tinggal, dan masih berbentuk rumah, yang kemudian berubah fungsi menjadi warung. Suasana Jawa cukup terasa dengan hiasan beberapa wayang di dinding tembok.
  
Seperti yang tertulis pada penanda di pagar luar, menu andalan di sini memang pecel madiun dan sate ponorogo. Tapi masih ada satu andalan lagi, rawon. Tiga menu inilah yang paling sering diserbu pengunjung. Warung ini buka pukul 08.00-17.00, Senin-Sabtu, dan memang menyasar pekerja kantoran. Usai waktu makan siang, sekitar pukul 14.00, biasanya lauk-lauk itu sudah ludes. Yang tersisa menu lain seperti sop, empal, tahu, tempe bacem, dan lainnya.
  
Beruntung, Warta Kota masih bisa mencoba ketiga menu andalan itu. Plus jus stroberi yang terasa begitu segar, manisnya tak terlalu manis, dan asamnya tak terlalu asam. Pecel madiun datang tak berpincuk. Pecel ini dihidangkan dalam piring yang dilapisi daun pisang. Nasi yang tak terlalu penuh disandingkan dengan daun pepaya, daun singkong, taoge, kemangi, kenikir, irisan timun, dan kecipir berlumur bumbu kacang. Tak lupa peyek kacang.
  
Bagi mereka yang tak terlalu doyan pedas, jangan lupa pesan bumbu sedang. Jika tidak, perut Anda bisa langsung panas dan nafsu makan pun lenyap. ”Aslinya pecel madiun itu pedes, memang. Tapi kan enggak semua bisa makan pedes, jadi kita bikin yang sedang. Biasanya juga ada jeroan, goreng-gorengan, tapi kita enggak mau pakai itu. Kita pengin yang sehat aja, jadi daun-daunan aja,” kata Irna HN Hadi Soewito, si pemilik. Menurut dia, jika sedang musim, petai cina dan kembang turi pun ditambahkan dalam pecel.

Keluak obat
Satu piring pecel madiun yang dibanderol Rp 15.000 lumayan penuh mengisi perut. Jika isi kantong memungkinkan, bisa ditambah seporsi sate ponorogo. Daging ayam yang digunakan untuk sate ini harus ayam kampung. Kenapa? Supaya rasanya empuk dan tak banyak lemak seperti kebanyakan daging ayam negeri. ”Cara motongnya juga beda. Jadi ayam harus digantung, diiris-irisnya ya sambil digantung itu. Makanya daging sate bentuknya agak gepeng,” ungkap Irna.

Seporsi sate ponorogo harganya Rp 20.000, bisa pilih daging saja atau campur (dengan ati ampela dan kulit). Bumbu kacangnya sangat halus. Dan yang pasti, dagingnya tak bercampur gombyor lemak.
  
Ada cerita di balik rawon yang dijual di sini. Rawonnya begitu kental. Menurut Irna, ketika dia memulai usaha pada tahun 2000, garasi diubah menjadi warung dengan hanya tiga meja. Menunya hanya pecel madiun. ”Karena dulu rumah itu dikontrakkan, terus habis masa kontraknya. Suami saya bilang, sayang kalau enggak digunakan. Akhirnya dari tiga meja, kita bikin banyak meja di dalam rumah. Bongkar-bongkar sedikit. Menunya juga kita tambah, ada rawon dan sate ponorogo,” tuturnya.
  
Pada awal dagang itu ada satu pelanggan yang tiap pagi pasti pesan makanan di tempat itu. ”Ketika kita tanya, siapa orangnya, ternyata Ibu Hartini Soekarno (alm). Terus saya komunikasi lewat surat yang saya titipkan pada saat Ibu Har pesan makanan. Saya minta dikritik kalau ada yang kurang. Kemudian beliau kritik soal rawon. Katanya kurang mantap. Terus saya dikasih resep. Jadi itu resep Bu Har,” papar ibu lima putra ini.
  
Irna menjelaskan, rawon di Jawa Timur ada dua macam, bening dan tidak bening. Tapi karena mengetahui keluak (pucung) sebagai bahan utama rawon ternyata banyak diekspor, dia bertanya-tanya, kenapa. ”Ternyata dalam keluak ada kandungan yang digunakan sebagai obat hepatitis B. Lantas karena saya ingin makanan yang saya jual itu menyehatkan, ya saya biarkan saja rawon di tempat saya dibikin sangat kental. Kan sekalian untuk obat,” ujarnya.

Pradaningrum Mijarto
© 2008 Kompas

Photo AlbumFestival Jajanan Bango (2 photos)Aug 11, '08 4:25 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Menikmati Surga Makanan di Senayan

Salah satu acara yang ditunggu-tunggu masyarakat Jakata, akhirnya datang juga. Ini adalah kesempatan untuk mengajak lidah menjelajahi aneka masakan khas Indonesia. Bertempat di Plasa Selatan Senayan, Festival Jajanan Bango kembali menyajikan beragam makanan yang mampu menyedot animo masyarakat ibukota selama dua hari, 8-9 Agustus 2008.

Urusan ‘perut' memang selalu menarik, apalagi bagi para pecinta makanan seperti saya. Kesempatan yang tak bisa dilewatkan, meski tahun lalu saya pernah datang ke pesta kuliner ini. Tepat seperti perkiraan, surga kecil makanan di salah satu sudut Jakarta dipadati dipenuhi pengunjung. Padahal acara baru satu jam saja dibuka.

Sebelum memilih makanan apa yang akan disantap, saya bersama beberapa teman mengelilingi gerai-gerai makanan satu persatu, untuk membandingkan dengan tahun lalu. Ternyata, tidak banyak yang berubah. Masakan-masakan Jakarta seperti Asinan Ny.Isye dan Gabus Pucung Pak Misan kembali hadir memeriahkan pesta ini.

Satu yang berbeda adalah, Bango menyelenggarakan acara khusus, yakni penyajian 80 ekor kambing guling dan dibagikan secara gratis pada pengunjung. Selain bertepatan dengan ulang tahun Bango ke 80, acara ini sekaligus memecahkan rekor MURI.

Setelah berkeliling, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada Soto Kaki Mencos yang sudah terkenal dikalangan pecinta kaki sapi. Saya sudah lama memasukkan sop kaki ini dalam daftar buruan, tetapi belum sempat mencobanya. Potongan-potongan kaki sapinya sungguh menggoda.

Setelah mengantri, akhirnya saya mendapatkan semangkuk soto dengan potongan-potongan kaki di dalamnya. Tak salah pilihan saya. Kaki-kaki ini sungguh empuk dan terasa kenyal di lidah. Kuahnya juga segar di mulut. Setelah itu, saya menutup soto kaki dengan es krim Ragusa yang juga segar, tidak terlalu creamy.

Bubur Pontianak
Sayang, perut saya sedang tidak bersahabat sore itu, jadi saya tidak berburu makanan yang lain lagi, hanya mencicipi sedikit dari teman-teman saya. Salah satunya adalah bubur Pontianak. Berbeda dengan bubur Jakarta, bubur ini disiram dengan kuah daging lengkap dengan potongan-potongan daging diatasnya. Selain itu, diatas bubur juga ditaburi dengan ikan asin kecil-kecil dan emping. Perpaduan dari ragam aksesoris bubur mampu menghasilkan kolaborasi yang sedap.

Teman saya yang lain memilih Sop Buntut Cut Meutia. Sayang, kuahnya tidak terlalu panas sehingga mengurangi kelezatan salah satu sop buntut yang terkenal di Jakarta Pusat itu. Semakin malam, pengunjung semakin ramai memadati seluruh area makanan dari ujung yang satu hingga ujung lainnya.Beberapa gerai yang tidak pernah sepi adalah Es Duren Sakinah, Bandung, Nasi Jamblang Cirebon dan Pondok Sate Pejompongan. Butuh kesabaran bagi mereka yang ingin menyantapnya.

Tujuan terakhir kami adalah Es Duren. Meski antrean tak surut juga, tetapi sudah berkurang dibandingkan dengan panjangnya antrean di sore hari tadi. Setelah berdesak-desakan, kami pun mendapatkan seporsi Es Duren untuk disantap rame-rame.

Hmm…aroma duren yang harum membuat kami tak sabar untuk menyantapnya, meski perut sudah terasa penuh. Wow, ternyata durennya banyak juga, sekitar 9 potong buah duren di dalam mangkuk mungil. Sungguh penutup yang pas. Rasanya mantap, mengingatkan saya pada masa-masa kuliah dulu di Bandung, saat ‘nongkrong' di Warung Sakinah .….

Angelina Maria Donna
© 2008 Kompas

ReviewReviewReviewReviewKoko BoganaAug 11, '08 3:58 PM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Jalan Cipaku I No.2 - Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Nasi Komplet

Mumpung sedang meriah suasana perayaan ulang tahun kemerdekaan, Anda bisa menguji selera lewat racikan nasi khas Indonesia. Tak ada duanya, sedap dan bikin ketagihan!

Sejujurnya sudah berminggu-minggu saya memendam rindu masakan Manado. Belum sampai rindu terbalas, saya tiba-tiba ingat dengan racikan nasi bogana yang dibungkus daun pisang khas kota Tegal. Aduh, sedap benar makan pakai tangan dengan nasi beraroma daun pisang. Segera saya memutuskan untuk 'memaksa' 3 orang teman saya menemani saya menebus rasa kangen ini. Maklum, air liur nyaris menetes!

Sasaran saya tentu saja rumah makan spesial nasi rames nusantara, Koko Bogana yang berlokasi di kawasan Kebayoran Baru. Dari luar rumah makan ini telihat seperti rumah biasa. Hanya payung berwarna merah dan putih di pagar depan menjadi aksesori meriah di bulan Agustus. Jajaran pot berisi teratai menambah kesejukan beranda depan yang juga menjadi tempat santap. Di bagian tengah, hingga lantai atas rumah yang berfungsi sebagai ruang makan nyaris sudah penuh. Padahal jam belum menunjukkan pukul 12.00.

Selebaran menu yang disodorkan membuat kami panik campur bingung. Ada 13 jenis nasi rames plus Soto Gombyang, Soto Plered dan Gulai Ikan Melayu. Nasi rames atau nasi dengan lauk-pauk komplet yang ditawarkan oleh Koko Bogana ini antara lain; nasi bogana, nasi pagongan, nasi Rembang, nasi Aburi, nasi Toek-toek, nasi pepes ayam, nasi kuring, nasi kulo, nasi pepes peda, nasi pepes gepek, dan lain-lain.

Nasi bogana yang jadi signature dish rumah makan ini merupakan nasi rames khas Tegal. Teridiri dari nasi puth,telur pindang, suwir opor ayam, serundeng daging, sambal goring hati, orek tempe plus tumis sayuran. Paduan nasi dengan lauk gurih, manis dan pedas ini menjadi ciri utama nasi rames gaya Tegal.

Karena tertantang mencicipi racikan nasi rames yang lain, jadilah kami memesan nasi Rembang, nasi toek-toek, nasi aburi dan nasi pagongan. Sementara menunggu pesanan, beragam jajan pasar yang ditata di lemari kaca menarik perhatian kami. Ada celorot, jentik manis, kue lapis, putu mayang, cenil, jongkong kelapa, bubur lolos, lumpia, risoles, kroket dan jongkong kelapa muda.

Beragam camilan kering dari usus ayam, aneka rempeyek, keripik singkong dan kentang juga memenuhi rak-rak. Rasanya malah seperti pulang kampung di Jawa. Ditambah lagi mas dan mbak pelayan juga berbahasa Jawa! Godaan mata akan jajan pasar akhirnya membuat kamipun membuka makan siang dengan apem kuah gula merah, ongol-ongol dan jentik manis. Apemnya mungil harum, empuk dengan aroma gula yang wangi dan sirop gulanya bersih.

Kenyil-kenyil
Ongol-ongol yang disajikan dalam 2 potongan kecil terasa 'kenyil-kenyil' lembut manis dengan balutan kelapa parut yang gurih. Jentik manis yang lama tak saya makanpun tak terlalu manis, dengan taburan biji mutiara yang kenyal. Dessert yang jadi pembuka inipun nyaris habis kami santap!

Persis yang saya bayangkan, nasi rames yang kami pesan semuanya disajikan dengan bungkusan daun pisang. Ada tambahan lalap kol, kemangi dan timun plus sambal. Saat membuka bungkusan nasi toek-toek, terlihat gaya penyajian nasi rames khas Jawa. Nasi putih diberi alas daun pisang dan di atasnya ditaruh berbagai lauk. Ada 2 iris kecil paru goreng, suwiran empal, sambal teri dengan cabai merah hijau plus sepotong kecil ikan peda goreng, dan pepes tahu yang dibungkus mungil.

Kunyahan pertama nasi yang diaduk dengan remahan opak terasa sangat pulen, lembut, nyaris mirip beras ketan dengan aroma harum. Paduan rasa gurih teri dan peda, terasa sangat pas dengan pedas cabai apalagi dicocol dengan sambal rawit hijau yang jadi pelengkapnya. Empalnya juga empuk pas legitnya. Dalam beberapa menit, nasi yang tak terlalu besar porsinya ini pun licin tak bersisa.

Puas menikmati nasi toek-toek, saya pun melirik nasi pagongan yang dipesan teman saya. Wah, nasinya kehijauan dan aromanya kok wangi juga! Akhirnya sesendok nasipun saya cicipi. Hmm..rasanya sangat sedap, nasinya pulen dan aroma daun bayam juga sangat lembut. Saat melirik ada kering kentang ebi plus oseng jambal roti hampir saja saya menyendok lagi. Untung teman saya buru-buru menyingkirkan piringnya!

Akhirnya saya menutup makan siang dengan pisang goreng tepung. Terus terang saya tertarik akan tampilan pisang yang utuh dengan balutan tepung yang sedikit basah plus lelehan madu pisang yang agak gosong. Ternyata saya tak salah pilih, pisang gorengnya terbuat dari pisang raja yang tua, empuk, legit dan wangi. Persis pisang goreng buatan nenek saya. Demi nostalgia pada nenek sayapun membeli 3 potong pisang goreng untuk dibawa  pulang.

Yang membuat kami makin puas adalah harga yang ditawarkan. Untuk nasi rames harganya berkisar dari Rp. 12.500 sampai Rp. 17.500 dan soto Rp. 20.000. Sedangkan aneka jajan pasar berkisar Rp. 3.500 – Rp. 9.000. Relatif murah untuk sebungkus kenikmatan khas daerah yang tak ada duanya.

Pastinya saya ingin kembali untuk mencicipi semangkuk soto Plered dan sebungkus jongkong kelapa muda. Tak ada salahnya juga di hari-hari peringatan kemerdekaan ini Anda juga ikut melestarikan kuliner nenek moyang lewat sebungkus nasi rames yang enak ini!

Koko Bogana
Jalan Cipaku I No.2
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Telpon: 021-720-3754, 08121228160

(dev/Odi) Odilia Winneke
© 2008 detikcom


Category:Other
Tepo Tahu

MESKI penampilannya mirip dengan kupat tahu, tahu telur atau tahu gimbal, rasa tepo tahu khas Magetan sangat ringan. Tidak ada pula bau bawang putih menyengat seperti umumnya makanan bersaus kacang.

Di Warung Tepo Tahu Mbak Ima di Jalan Pahlawan, Magetan, Jawa Timur, pelanggan dapat memilih tepo plus telur atau tanpa telur, bisa telur ayam negeri, telur ayam kampung, atau telur bebek. Harganya tentu jadi berbeda. Tepo tahu plus telur ayam negeri Rp 5.000 per porsi dan menjadi Rp 6.000 bila memakai telur ayam kampung.

Setelah duduk di bangku kayu kecil di dekat angkringan, Mbak Ima menyampirkan apron putih di pangkuan. Lalu dia mengambil seiris tahu putih dan memotongnya berbentuk dadu di atas wajan kecil. Beberapa saat kemudian dia memecahkan sebutir telur dan mengaduknya. Setelah itu, dia mengiris sehelai tempe dan memotongnya berbentuk dadu ukuran 0,5 x 0,5 sentimeter lantas mencemplungkannya ke dalam gorengan tahu dan telur.

Sembari menunggu campuran tahu, tempe, dan telur matang, Mbak Ima mengulek bumbu di atas cobek tanah liat. Campuran kacang tanah, cabai rawit, dan sedikit bawang putih, garam, serta irisan kucai dia ulek, lalu dia tuang ke dalam piring saji. Setelah itu, potongan tepo mulai ditata.

Campuran tahu plus telur dan tempe yang sudah matang diletakkan di atas tepo, kemudian Mbak Ima menuangkan kecap manis, menambah sejumput taoge rebus, rajangan seledri, bawang merah goreng, dan menaburkan kacang tanah goreng. Masih ada lagi, sedikit air putih matang di tepi piring dan Mbak Ima memiringkan piring sejenak sebelum menyerahkan tepo hangat itu kepada pelanggan. Jika suka, pelanggan dapat menikmati tepo tahu dengan lempeng alias kerupuk gendar atau rempeyek kacang.

Setiap hari, Mbak Ima menyiapkan empat liter beras untuk membuat 28 tepo. Sebuah tepo cukup untuk empat porsi. Pada hari libur, Mbak Ima menyiapkan lebih banyak lagi.

Bupati Kabupaten Magetan yang baru, Sumantri, merupakan salah satu pelanggan setia. Padahal, hidangan yang ada di situ hanya tepo tahu, tidak ada masakan lain. Biar begitu, hidangan sederhana itu tak terlupakan.

Ida Setyorini
© 2008 Kompas


Photo AlbumNasi Campur Lengkap (3 photos)Aug 9, '08 8:44 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Nasi Campur Kedewatan,
Favorit Mbak Mega


PULAU DEWATA bukan cuma pemandangan indah. Makanan enak yang menggoda selera bisa ditemui di banyak tempat. Salah satunya adalah Nasi Campur Kedewatan di Ubud. Dari Kota Denpasar rumah makan milik Ibu Mangku ini bisa dicapai setelah menempuh perjalanan 45 menit.

Lurus saja melalui Batu Bulan ke arah Ubud, rumah makan Nasi Campur Kedewatan bisa ditemukan. Anda akan menemui sebuah bangunan khas Bali yang disulap menjadi rumah makan dengan konsep terbuka. Bisa memilih lesehan atau duduk di depan meja.

Nasi Campur Kedewatan berbeda dengan nasi campur ala Chinese Food atau nasi rames ala Warung Tegal. Kalau nasi campur Chinese Food biasanya ada potongan daging babi, sate babi, dan telur ayam, nasi campur dari Ubud ini terdiri dari ayam suwir (semacam bumbu kari), sambel goreng tempe kacang, sayur urap bali, dan kulit ayam goreng kering. Kemudian diguyur kuah ayam suwir itu dan diberi potongan telur.

Mengutip istilah orang Bali Nasi Campur Kedewetan itu memakai bumbu megenap yang artinya bumbu genap atau semua bumbu masuk. Rasa rempah-rempahnya sangat terasa. Bagi Anda penggemar rasa pedas, nasi campur ini bisa menjadi pilihan, sebab rasa sambel di dalamnya sangat menonjol. Tapi, bila Anda tidak ingin pedas, sambalnya bisa disingkirkan.

Namun, agar dapat menikmati makanan ini memerlukan perhitungan waktu yang tepat. Pasalnya, terlambat sedikit seluruh makanan pasti sudah habis. Buka jam 11.00, jam 15.00 biasanya sudah ludes. Kalau masih beruntung, pukul 17.00 masih ada sisanya. Saran bagi yang mencoba, silahkan mampir sebelum pukul 15.00 agar tidak kehabisan. Kalau hari libur sekolah, rumah makan ini dipenuhi turis domestik. Tak heran kalau pengunjung terkadang harus antre agar dapat menikmati sepiring nasi campur.

Jangan pernah berharap rumah makan ini sepi, karena penggemarnya bukan cuma orang yang berdomisili di sekitar Ubud. Mereka yang tinggal di Denpasar atau bahkan di luar Bali banyak yang menyukainya. Ssst...Ketua Umum PDI Perjuangan yang juga mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri adalah salah satu penggemar Nasi Campur Kedewatan. Mau coba?

Nama: Nasi Campur Kedewatan
Lokasi: Kedewatan - Ubud
Pemilik: Ibu Mangku
Harga: Rp. 8000/porsi
Halal: Ya

Franciska Savitri
© 2008 Kompas

Photo AlbumKhas daerah (3 photos)Aug 1, '08 7:45 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Tongseng Kepala Kambing

Baru-baru ini saya menemukan lagi kejutan menyenangkan dalam perburuan mencari masakan-masakan khas daerah. Kejutan ini saya temukan di sebuah desa di Muntilan, tidak jauh dari Candi Borobudur, Jawa Tengah.

Yang membuat saya heran, warung ini direkomendasikan oleh banyak orang yang mengetahui reputasi saya sebagai tukang makan. “Harus dan wajib ke sana, Pak. Pokoke mak nyuss tenin!” begitulah rekomendasi orang-orang kepada saya.

Ketika saya diantar ke sana pada suatu malam, ternyata tempatnya mblusuk-mblusuk di dalam kampung. Sudah pasti saya tidak akan dapat menemukannya kalau disuruh pergi sendiri ke tempat itu.

Sebetulnya tempat ini malah bukan warung, melainkan rumah penduduk biasa. Di samping rumah tinggalnya yang sederhana, dibangun ruang tambahan yang hanya terdiri dari dua ruangan. Ruang depan diisi balai-balai beralas tikar, tempat untuk para tamu makan sambil lesehan. Di belakangnya adalah dapur dengan dua tungku kayu. Dapur ini baru mulai kegiatan setelah shalat magrib ditunaikan. Para tamu bukan jenis mereka yang datang bermobil, melainkan pelanggan bersepeda motor yang datang dari berbagai desa sekitar.

Dua orang kakak-beradik–Komarudin dan Salahudin–bekerja di dapur dengan uraian pekerjaan yang tidak pernah berubah. Yang satu hanya mengiris dan menyiapkan bahan, yang lain memasak. Konon, bila pembagian tugas ini diubah, rasa masakannya akan berubah. Kepintaran memasak kakak-beradik yang sama-sama dipanggil Din ini diturunkan oleh ayah mereka, Yadi, yang merintis usaha dan kini sudah meninggal.

Dapur ini hanya menyajikan satu jenis masakan, yaitu tongseng kepala kambing. Para tamu pun tidak mengharapkan masakan lain. Kebanyakan sudah memesan tempat melalui telepon genggam sebelum datang. Ketika saya datang sesaat lewat pukul enam petang, ternyata saya sudah mendapat giliran nomor tujuh. Semua tamu menunggu dengan sabar.

Ketika mengetahui saya datang pun, Din tetap melayani tamu-tamu lain sesuai urutan. Padahal, beberapa tamu bahkan bersedia mengalah dan malah menyilakan saya memesan lebih dulu. Kakak-beradik Din mungkin tidak sadar bahwa itulah justru profesionalisme yang terpuji. Pejabat atau selebriti tidak punya hak untuk menyerobot antrean.

Setiap saat, dari dapur mengembang harum bawang putih yang sedang ditumis, kemudian aroma masakan tongseng yang khas. Setiap kali satu piring tongseng dibawa ke balai-balai untuk tamu yang menunggu, semua tamu yang lain mendegut ludah. Benar-benar satu bentuk “penyiksaan” yang efektif.

Penyajiannya cukup apik. Kepala kambingnya tidak hadir glundungan di piring saji. Semua bagian berdaging dari kepala kambing yang sudah direbus dalam bumbu – lidah, daging pipi, mata, kulit tebal, otak, dan lain-lain dipisahkan dari tulangnya, lalu dipotong kecil-kecil (bite size). Kita tidak terganggu dengan tulang-tulang ketika menyantapnya.

Kuahnya nyemek–setengah kental–dengan aroma bumbu yang mengesankan. Aroma daging kambingnya tidak tercium lagi. Mungkin karena kambing yang dipakai masih berusia muda atau karena unsur bawang putihnya cukup kuat untuk menyamarkan aroma kambing. Pemakaian kecap manis juga sangat tepat sehingga tone manisnya tidak menutup rasa bumbu gule kuahnya.

Tekstur dagingnya juga bagus. Semuanya empuk, tetapi masih terasa gigitannya. Potongan-potongannya yang kecil juga membantu “melunakkan” serat-serat daging ketika digigit. Pendeknya, mak nyuss!

Sederhana
Ini adalah untuk kelima kalinya saya dibuat mabuk kepayang oleh masakan sederhana yang langsung disajikan di dapurnya. Keempat dapur sebelumnya juga sudah pernah saya tulis di sini. Yang pertama adalah mangut lele di Desa Jetis, dekat Imogiri, Yogyakarta. Yang kedua adalah mangut lele yang lain lagi, di Desa Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Nomor tiga adalah “Gudeg Pawon”, juga di Yogyakarta. Nomor empat adalah bakmi jawa “Mbah Mo” di Desa Code, Bantul, Yogyakarta. Hebat, ya? Kelima tempat itu berada dalam radius 50 kilometer. Orang Yogya rupanya punya keistimewaan untuk menampilkan honest food yang dahsyat langsung dari dapurnya.

Tongseng kepala kamping Pak Din di Muntilan ini mengingatkan saya pada palu basa masakan Daeng Udin di Jalan Serigala, Makassar. Daeng Udin juga memakai semua bagian berdaging dari kepala sapi untuk masakannya. Semuanya dipotong rapi, sehingga sudah tersaji tanpa tulang di piring para pelanggan, dalam kuah yang sungguh mulus dan gurih. Pilihan Daeng Udin untuk memakai kepala sapi–bukan kepala kambing–juga merupakan pilihan sopan. Satu kampiun kuliner lokal yang sungguh tidak boleh dilewatkan.

Masakan mengesankan dari bagian-bagian kepala hewan yang sudah dipisahkan dari tulangnya adalah bacem kepala kambing di daerah Kolombo di Yogya, salah satu pilihan favorit pedoyan makan Butet Kertaradjasa. Sebetulnya, dengan sedikit upaya memisahkan daging dari tulang, sajian pun tampak lebih menarik. Para tamu tidak perlu merasa ngeri melihat bagian daging dan lemak yang masih melekat pada bagian mata atau rahang kambing yang masih bergeligi.

Sekalipun terdengar dan tampak mengerikan bagi sebagian orang, kepala kambing rupanya merupakan daya tarik yang khusus bagi para penggemar makan. Di Solo, tengkleng alias gule encer tanpa santan hampir selalu memakai bagian-bagian dari kepala kambing, tetapi masih lengkap dengan tulang-belulangnya. Begitu juga yang disebut sop kaki kambing di Jakarta sebetulnya justru mengandung banyak bagian kepala kambing, seperti: mata, lidah, dan pipi.

Di Jombang, penjual sate dan gule kambing Ringin Contong sengaja memajang beberapa glundung kepala kambing utuh di atas kuali gulenya sebagai daya tarik. Pelanggan yang berminat bisa memesan kepala itu untuk “dibantai” dan disajikan sebagai gule kepala kambing. Ternyata, setiap hari selalu ada pelanggan yang memesan agar kepala kambing utuh disisakan untuk mereka.

Di Desa Mengoro, Tembarak, sedikit di luar Kota Temanggung, ada penjual brongkos kepala kambing yang sangat terkenal. Sebetulnya, Warung Makan “Punjung Jiwo” milik Pak Pujo ini sebelumnya sudah terkenal dengan sajian brongkos kikil kambing. Tetapi, setelah memerkenalkan menu baru, warung makan ini menjadi semakin laris-manis. Tidak jauh dari tempat Pak Pujo, ada pula penjual brongkos lainnya yang setia menyediakan hanya brongkos kikil kambing.

Brongkos adalah masakan khas Yogyakarta, yaitu gule kental dengan kluwek. Kalau grombyang di Pemalang merupakan bastar antara soto dan rawon, maka brongkos adalah persilangan antara gule dan rawon. Karena kekentalannya, brongkos terasa lebih nendang. Seringkali brongkos – kebanyakan dibuat dari daging sapi dan koyornya – juga diberi kacang merah, sehingga memberi tekstur yang sangat khas.

Di “Punjung Jiwo”, bagian-bagian kepala kambing disajikan dengan tulang-tulangnya. Otak dibungkus tersendiri di dalam daun pisang. Sekalipun masakannya gurih dan dagingnya empuk, tetapi aroma kambingnya masih cukup kentara menghampiri hidung. Karena itu, di warung ini saya justru lebih menyukai brongkos kikil kambingnya.

Yang paling mengerikan adalah cara menyajikan sop kambing di Jalan Tapanuli, Medan. Kepala kambingnya dimasak utuh dalam kuah sop, termasuk otaknya masih di dalam rongga kepala. Setelah matang, kepala kambing dikeluarkan dari kuah dan di-display di atas piring-piring besar. Pelanggan memilih kepala kambing yang disukainya, lalu dipanaskan lagi di dalam kuah sop, dan disajikan utuh sak glundung dalam piring.

Ya, saya akui, saya pun pernah mencicipinya. Tetapi, Anda tidak perlu bertanya apakah saya ingin mengulangi pengalaman itu. Entahlah, kok rasanya saya jadi sangat barbarian ketika melakukannya. Horor banget rasanya!

Penulis adalah seorang pengelana yang telah mengunjungi berbagai tempat dan mencicipi makanan-makanan khas, dan akan masih terus melanjutkan pengembaraannya. 
(Email : bondanw@gmail.com)

© 2008 Kompas

Photo AlbumSup Berkah (3 photos)Jul 27, '08 5:43 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Sup Spesial Calon Presiden

NAMA aslinya Rumah Makan Berkah, tetapi orang kebanyakan mengenalnya dengan nama Warung Sup Ratu Prabu. Mungkin karena dapat berkah dari ratu prabu itulah, konon, orang yang makan sup daging sapi di tempat itu kelak bisa menjadi presiden. Wah!

Rumah makan tersebut mendapat julukannya karena terletak persis di sebelah gedung perkantoran Ratu Prabu I di Jalan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan. Tepatnya, RM Berkah beralamat di Jalan Jeruk Purut Nomor 22. Dari luar, bangunan berbentuk rumah warna hijau muda itu tidak mengesankan sesuatu yang istimewa.

Sebagian besar orang baru tahu keistimewaan RM Berkah setelah diajak atau diberi tahu teman, kerabat, atau kolega yang pernah lebih dulu ke sana. Menu yang disajikan pun sederhana, yakni sup daging sapi. Namun, percayalah, sup daging yang ini sungguh spesial.

Menurut pemiliknya, Rohis Hadiwijaya (55), sejak dibuka pada pertengahan 1970-an, RM Berkah memang mengkhususkan diri menghidangkan menu sup daging khas Betawi. ”Sup daging ini adalah menu khas Betawi dari dulu. Kami tidak menjual menu lain, paling makanan tambahan, seperti pepes, tahu-tempe goreng, dan perkedel,” ungkap pria Betawi asli ini.

Kuah bening
Begitu masuk ke rumah makan ini, kita tak akan melihat daftar menu yang ditempel di dinding. Alih-alih, hanya ada secarik kertas kecil bertuliskan ”Porsi Besar Rp 27.000, Porsi Kecil Rp 22.000”. Itu menyebutkan harga untuk dua ukuran porsi sup daging yang disesuaikan dengan tingkat kelaparan dan kapasitas perut setiap pelanggan.

Pada pandangan pertama, sup yang dihidangkan di mangkuk keramik warna putih itu tidak ada bedanya dengan sup buatan ibu di rumah. Kuahnya berwarna bening agak kecoklatan dengan potongan daun bawang dan seledri. Kuah yang masih mengepulkan uap putih tipis ini menjanjikan kesegaran.

Yang terlihat berbeda adalah bungkahan-bungkahan daging sapi yang dipotong dengan ukuran relatif besar (berbeda dengan daging sapi dalam soto betawi yang diiris kecil-kecil). Hal ini menambah sensasi makan karena kita harus memotong-motongnya dengan sendok dan garpu atau mencabiknya dengan gigi dulu sebelum kita kunyah.

Daging-daging itu berwarna merah tua, sekilas seperti daging yang masih segar. Namun, saat diiris dengan sendok terasa sangat empuk. ”Kami sengaja menyajikan daging sapi tanpa lemak dan tulang. Tetapi, kalau ada pengunjung yang ingin lemak yang gurih, kami bisa sediakan juga asal bilang dulu saat memesan,” papar Rohis, yang mengelola RM Berkah bersama istrinya, Ruyati (50).

Ditemani lauk
Saat kuahnya diseruput dan potongan daging digigit, dikunyah, dan menyentuh lidah, semuanya terasa pas. Segar dan gurihnya tidak kurang dan tidak lebih. Meski untuk menambah variasi rasa, rumah makan itu menyediakan set penambah rasa standar di meja makan, seperti kecap manis, irisan jeruk nipis, dan sambal cabai merah.

Menyantap nasi putih dan sup daging saja lama-lama lidah akan mulai bosan dan kesepian. Itu sebabnya direkomendasikan mengambil lauk pendamping sesuai selera. Berdasar pengalaman saya, lauk paling istimewa adalah tempe goreng yang masih hangat. Rasanya yang gurih dan crispy melengkapi kuah sup yang segar dan daging yang empuk. Pesanlah minuman es jeruk atau es teh manis untuk membuat acara makan menjadi sempurna.

Untuk seporsi sup, sepiring nasi putih, segelas minuman dingin, dan beberapa potong lauk, seorang pelanggan RM Berkah rata-rata menghabiskan uang Rp 30.000-Rp 40.000. Jumlah yang cukup tinggi untuk ukuran makan rutin setiap hari. Namun, pengunjung rumah makan tersebut selalu penuh, terutama pada jam-jam makan siang. ”Kalau pas jam makan siang, sampai ada yang rela antre di luar,” kata Rohis.

Ditata ulang
Untuk mengakomodasi pengunjung yang membeludak itu, Rohis berulang kali harus menata ulang rumahnya buat dijadikan ruang makan pengunjung. Sampai saat ini sudah dua kamar tidur yang dibongkar di rumah berukuran 200 meter persegi itu untuk menampung 100 tempat duduk bagi para tamu. ”Dulu saya sekeluarga tinggal di sini, tetapi lama-lama tempatnya tak cukup, jadi kami hijrah ke rumah baru di Ciganjur. Di sini khusus untuk rumah makan,” papar Rohis, yang meneruskan usaha warung sup daging ini dari mertuanya.

Pengunjung RM Berkah tak hanya para pekerja kantoran yang datang untuk makan siang, tetapi juga keluarga yang berjalan-jalan pada hari libur sampai para artis dan tokoh politikus terkenal.

”Sudah gak terhitung artis atau pejabat terkenal yang makan di sini. Tetapi, saya sengaja tak mendokumentasikannya agar semua orang merasa nyaman di sini. Tidak ada perlakuan istimewa meski yang datang pejabat,” tutur Rohis.

Bicara soal politikus, Rohis bercerita sudah ada tiga Presiden RI yang makan di rumah makan sederhana itu, yakni Gus Dur, Megawati, dan SBY. ”Mereka makan di sini sebelum menjadi presiden. Setelah makan di sini, mereka langsung jadi presiden. Jadi, kalau mau jadi presiden, makanlah di sini dulu, he-he-he,” ungkapnya.

Ayo, ayo, mumpung lagi musimnya mimpi jadi presiden!

Dahono Fitrianto
foto Arbain Rambe
© 2008 Kompas

Photo AlbumMie Hijau (2 photos)Jul 25, '08 7:05 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Pilih Mana, Mi Hijau
atau Udang Telur Asin?


Begitu mendengar Lippo Cikarang yang ada di benak saya adalah Waterboom, wahana rekreasi air yang sudah tak asing lagi. Namun, kali ini teman saya membawa saya menjelajahi aneka makanan yang ada di area Lippo Cikarang.

Hmm… ada apa ya di kawasan yang dalam benak saya kering dan panas itu? Tetapi, tertarik dengan ajakan icip-icip kuliner, saya dan dua orang teman pun berangkat dari Jakarta menjelang jam makan siang. Perjalanan dari Semanggi ke Cikarang memakan waktu satu jam karena kami tidak harus melalui kemacetan.

Kesan pertama, kawasan ini memang seperti yang saya pikirkan. Namun, itu tak lama. Perlahan, kesan itu menghilang ketika memasuki Lippo Cikarang. Tak ubahnya seperti kawasan perumahan di Jakarta, pengembang Lippo menata daerahnya dengan apik dan asri.

Kami pun tiba di Ruko Plasa Menteng yang terletak tak jauh dari Waterboom. Rasa lapar dan dahaga membuat tak sabar melihat hidangan-hidangan yang menanti. Kedai 12 Bakul adalah rumah makan tujuan pertama kami. Kedai mungil yang buka sejak 1992 itu menyajikan aneka macam masakan Indonesia dan China.

Beberapa yang istimewa adalah nasi udang telur asin, mi hijau organik, gado-gado, dan rujak ulek. Tak perlu berpikir lama, kami segera memesan semuanya. Nurhayati, pemilik restoran, menuturkan, dua menu terakhir merupakan resep keluarga yang diwariskan turun-temurun.

Sementara itu, untuk mi organik tidak seperti kebanyakan mi hijau yang terbuat dari bahan dasar bayam, ia menggantinya dengan sawi hijau. "Kalau memakai sawi hijau, mi jadi lebih kenyal. Beda dengan bayam yang membuat mi agak lembek," tuturnya.

Sembari mengobrol, satu per satu makanan tersaji di depan mata. Wow, semuanya begitu menggoda selera. Saya harus menahan lapar dulu karena kami harus memotret menu-menu itu satu per satu. Akhirnya, sesi pemotretan pun usai. Semua mata pun melirik aneka makanan yang sedari tadi siap disantap.

Pilihan pertama saya jatuh pada udang telur asin. Eits, salah jika Anda membayangkan ada udang dan telur asin dalam satu wadah. Tetapi, ini udang yang digoreng dengan bumbu yang telah dicampur telur asin. Kolaborasi antara udang laut dan bumbu telur asin menghasilkan rasa yang gurih, asin, dan sedikit rasa manis yang berganti-ganti di lidah saya. Sedap! Hanya, jika bumbu telur asin ditambahkan sedikit lagi, saya yakin rasanya akan jauh lebih mantap.

Lebih kenyal & lembut
Masakan kedua yang saya cicipi adalah mi hijau organik. Benar kata ibu Nurhayati, mi terasa lebih kenyal dan lembut jika dibandingkan dengan mi yang terbuat dari bayam. Rasanya nyaris sama dengan mi kuning biasa bahkan lebih alami dan sehat. Kuahnya juga segar dan gurih. Apalagi, ditambah dengan potongan jamur dan ayam yang tersebar di atas mi. Tak salah jika pengunjung memilihnya sebagai menu favorit.

Lalu, bagaimana dengan dua menu warisan keluarga? Kesimpulan kami tak jauh beda dengan masakan sebelumnya, sedap. Gado-gado ulek yang terdiri atas potongan tahu, kacang panjang, kentang, kol, dan telur benar-benar mantap dengan bumbu kacangnya yang medok. Sesuatu yang unik saya temukan di menu rujak ulek, ada yang menggelitik rasa. Ada aroma yang berbeda di bumbu rujak karena mampu meninggalkan after taste yang kuat, agak-agak langu gimana gitu…

Ternyata, itu rahasianya. Istri Eddy Himawan ini mengungkapkan, keistimewaan rujak ulek miliknya terletak di bunga laos. Jadi, selain asam dan gula merah, ia menambahkan bunga laos sebagai penambah aroma sehingga menimbulkan sensasi tersendiri bagi penikmatnya ketika dimakan dengan aneka buah-buahan segar.

Petualangan pertama pun berakhir di sini. Meski perut ini sudah cukup penuh, perjalanan belum selesai karena kami beranjak ke tempat kedua, kawasan Sirkus, pusat jajajan kaki lima pada sore hari. Dinamakan Sirkus karena tenda-tenda mirip dengan tenda Sirkus, dengan ujung lancip di tengah.

Beragam makanan tersedia di setiap sudut, mulai dari bakso, kwetiauw, satai, seafood, hingga sop kaki kambing. Begitu banyak yang harus dipilih. Kami akhirnya singgah di Seafood 68 yang mempunyai menu spesial udang saos padang. Selain itu, saya memesan cumi saos mentega dan kerang rebus.

Rasanya? Udangnya lumayan enak, tetapi cuminya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Selanjutnya, saya mencicipi sop kaki kambing meski perut saya sudah totally full, tapi mumpung di Cikarang, pantang kan kalau tidak menjelajahinya? Karena sudah kekenyangan, kami hanya memesan satu porsi saja untuk dicicipi ramai-ramai.

Warung makan yang merupakan cabang dari Tanah Abang ini layak dijadikan pilihan. Seporsi sop kaki kambing yang kami pesan memang sedap. Kaki-kaki kambingnya empuk dengan kuah yang begitu segar. Meski saya hanya mencicipinya sedikit, tetapi cukuplah untuk menyimpulkan rasanya.

Tak sadar, hari sudah berganti malam. Saatnya kami kembali ke Jakarta setelah beberapa jam menyambangi tempat-tempat kuliner di Lippo Cikarang.

Angelina Maria Donna
© 2008 Kompas

ReviewReviewReviewReviewReviewSayur trancamJul 25, '08 6:12 PM
for everyone
Category:Other
Menikmati Rasanya Trancam

TIDAK ada yang suka berada dalam keadaan terancam. Jantung berdegup kencang, tangan dingin, keringat bercucuran dan perut melilit. Meski konstruksi katanya hampir sama, Trancam tidak akan membuat jantung Anda bergedup kencang, tangan dingin, keringat bercucuran atau perut yang melilit.

Ketika saya dan rombongan berkunjung ke rumah makan Boyong Kalegan, makanan ini menjadi fokus saya. Komposisinya tidak jauh berbeda dengan urap biasa. Berbagai sayuran ditambah parutan kelapa. Trancam adalah makanan khas Jawa Tengah, terdiri dari tauge, kacang panjang yang dipotong kecil-kecil, timun yang dipotong dadu, irisan halus sawi putih serta irisan daun kemangi.

Namun, beberapa resep juga menambahkan irisan halus daun bayam dan potongan wortel. Semuanya diaduk jadi satu dengan parutan kelapa karena dicampur dengan bumbu bawang putih, cabai dan kencur.

Ketika menikmatinya, lidah akan segera dapat mengenali perbedaannya dengan urap. Semua sayurannya mentah! Karena mentah, ketika dimakan rasanya lebih kres dan sangat segar. Aroma dan rasa daun kemanginya terasa sekali. Pas jika dimakan bersama dengan nasi dan ikan bakar khas Boyong Kalegan.

Jika ingin menikmati Trancam dan makanan khas Jawa lainnya, Anda dapat berkunjung ke Boyong Kalegan. Tepatnya di Jl Raya Turi-Pakem km 3 Sleman Yogyakarta, 15 km ke arah utara dari Malioboro. Di tempat ini, Anda juga dapat menikmati keindahan alam yang sangat natural.

Trancam dijual dengan harga murah Rp 6.000.Yang pasti, ketika Anda menikmati Trancam, Anda tidak akan merasa terancam.

Caroline Damanik
© 2008 Kompas


Photo AlbumPecel Pincuk (2 photos)Jul 23, '08 1:14 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Yogya Mungil di Pasar Cikini

Pasar Cikini Ampiun, Jakarta Pusat,  menyimpan seabrek kisah. Bukan hanya tentang pasar itu sendiri, namun juga tentang penghuninya. Pasar yang didirikan tahun 1962 pada masa Gubernur DKI Soemarno itu sempat menjadi pasar kelas atas. Tak mengherankan sebab kawasan tersebut memang jadi kawasan permukiman elite.
    
Lantas kenapa namanya Pasar Cikini Ampiun? Menurut Alwi Shahab, di belakang Pasar Cikini, pada masa lalu, ada kampung Cikini Kramat Kamboja. Kampung itu juga dikenal sebagai Gang Ampiun dan dilintasi kereta api barang yang mangkal di Gang Kenari (di samping FK UI).

Spesialis Gudeg
Untuk kali ini, pasar masih akan menjadi latar belakang cerita, sebab Warta Kota mencoba mengajak pembaca untuk menelusuri jejak kuliner yang bahkan hingga kini masih terus bertahan sebagai 'pemanis' pasar yang makin kusam itu. Gudeg Bu Harjo adalah salah satu pemanis tadi. Berada di antara kios buah, makanan kecil, dan peralatan rumah tangga, tempat makan mungil ini menjadi begitu ingar-bingar manakala jam makan tiba.
   
Meski tempat tak memadai, akal tak mati. Selain kursi panjang, yang setengahnya bisa dipakai duduk, beberapa kursi plastik bertumpuk siap digunakan pelanggan yang memulai paginya di sini untuk sarapan, juga bagi mereka yang mencari makan siang. "Tapi paling banyak pesanan dari kantor untuk makan siang," ujar Bu Nil, penjaga warung mungil ini.
   
Tak sedikit orang yang menjadi saksi atas rasa gudeg racikan Bu Harjo yang usianya tak terlalu jauh beda dengan usia pasar itu sendiri. Seporsi nasi gudeg komplet ayam kampung, berisi gudeg, krecek, telur ayam negeri, dan suwiran ayam kampung dipatok Rp 35.000. Sementara nasi gudeg komplet ayam negeri dibanderol Rp 30.000.
   
Tentu saja ada yang langsung berdecak mendengar harga seporsi gudeg tadi. Tapi tentu harga itu sepadan dengan rasa yang disajikan. Memang, soal rasa tergantung selera, tapi jika membandingkan beberapa gudeg yang ada di Jakarta, rasanya gudeg ini terbilang pas. Tak terlalu manis, gudegnya pun kering. Suwiran ayam terasa empuk, rasanya menjadi begitu klop ketika semua itu dibenamkan dalam areh (kuah gudeg). Areh inilah yang membuat Gudeg Bu Harjo bertahan hingga nyaris setengah abad. Kini usaha Bu Harjo itu dilanjutkan oleh putrinya, Sri Rahayu.   

Rames dan pecel
Meski spesialisasinya gudeg, mendiang Bu Harjo rupanya tak lantas terpaku hanya pada satu menu itu saja. Ia juga memperkenalkan nasi rames ala Yogya. Isinya, sayur asem-asem (terdiri atas buncis, potongan tahu, dan daging), mi goreng, kering tempe, serundeng daging, telur, dan acar. Harga yang harus dibayar Rp 25.000. Tapi dengan lauk seabrek rasanya pantas-pantas saja. Apalagi serundeng dagingnya empuk. Terlebih lagi, seberapa sering warga Jakarta asal Yogya bisa menemukan serundeng daging seperti ini?
   
Selain dua menu tadi, ada menu lain yang tak kalah menggoda, yakni nasi pecel. Bumbu kacangnya begitu kental dengan rasa yang tak kalah kental. Pedas, manis, asin, bercampur pas mengguyur rebusan dedaunan. Meski demikian, primadona menu tetap saja gudeg. Warung yang buka setiap hari mulai pukul 08.00-15.00 ini bahkan sudah kehabisan dua baskom ayam, kampung dan negeri, ketika jam makan siang belum terlalu jauh beranjak.
    
Kini kelangsungan warung ini tentu tak lepas dari peran Pemprov DKI untuk mengayomi kekayaan wisata kuliner yang ada. Gudeg Bu Harjo adalah Pasar Cikini, demikian sebaliknya. Sebuah warung tradisional di sebuah pasar tradisional bersejarah yang tak boleh lenyap berganti mal atau plasa.

Pradaningrum Mijarto
© 2008 Kompas

Photo AlbumGudeg Pawon (3 photos)Jul 19, '08 9:44 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Nikmatnya Gudeg Pawon di Tengah Malam

MENEMUKAN Kota Yogyakarta yang ”waton-waton asal kelakon”, biar lambat asal selamat, mungkin sudah susah. Jalanan kini karut-marut. Namun, soal lidah, jangan salah! Kota ini masih setia menggoda pendatang dengan gudeg yang sedikit cicip langsung merangsang indera pengecap.

Selamat datang di Kota Gudeg! Kalau pagi buta perut sudah minta jatah, di sepanjang jalan Malioboro para penjaja gudeg sudah menanti. Siang hari, tengok kawasan Wijilan—dikenal sebagai kawasan sentra gudeg—yang mayoritas menjual gudeg kering.

Malamnya, kawasan Jalan Laksda Adi Sucipto bisa jadi pilihan.  Lebih malam lagi? Coba mampir di gudeg pawon yang terletak di Jalan Janturan Nomor 36-38 Warungboto, Umbulharjo, Yogyakarta.

Jarum jam hampir menunjuk pukul 23.00 malam ketika tiba di warung gudeg Rubiyem atau akrab disapa dengan Mbah Prapto Widarso (72). Bagi yang baru pertama kali datang, mungkin bisa tersesat karena tidak ada papan penanda warung.

Tanya saja penduduk lokal dengan menyebut nama gudeg pawon, mungkin mereka akan rela menjadi penunjuk jalan ke lokasi. Sesuai dengan namanya, pawon—yang artinya dapur—warung gudeg satu ini memang menyajikan sensasi makan di dapur. Di ruangan berukuran 4 meter x 6 meter yang dindingnya mulai menghitam, pengunjung bisa langsung memesan.

Pada Rabu (16/7/2008) malam itu Mbah Prapto ditemani anak dan menantunya melayani pengunjung. Di pawon itu ada tiga tungku yang dua di antaranya tetap menyala. Tungku pertama untuk memasak nasi, yang lain untuk memanasi telur yang dimasak dengan santan.

Kuali dan panci berukuran besar diletakkan di tempat cuci piring tidak jauh dari tungku. Opor ayam terus dipanaskan di sisi lain pawon dengan kompor minyak tanah. Begitu memesan, salah satu dari anggota keluarga akan segera mengambil piring, menaruh seporsi nasi yang tidak terlalu banyak, kemudian membubuhkan gudeg, sayur nangka muda atau gori yang dimasak dengan gula merah, ditambah dengan daun singkong.

Atas permintaan konsumen, lauk lain seperti sambal goreng krecek atau kulit sapi yang sedikit pedas dan berkuah, ayam opor, tahu, tempe atau telur pun dibubuhkan. Bagi yang suka pedas, meng-kletus (menggigit) cabai rawit segar melengkapi perjalanan menjelajah rasa menjadi semakin mantap.

Tak berbeda
Sebenarnya apa yang tersaji tidak berbeda dengan gudeg yang dijual di tempat lain. ”Ya, gudeg seperti biasa saja tidak ada yang berbeda,” ujar Bambang, menantu Mbah Prapto, yang delapan tahun terakhir ikut terjun di pawon.

Gudeg yang dijual Mbah Prapto adalah jenis gudeg basah yang merupakan perpaduan rasa manis dan gurih. Proses pembuatannya berbeda dengan gudeg kering yang umumnya dimasak lama dengan lauk dibacem agar bisa tahan lama. Adapun gudeg basah disajikan dengan lauk berkuah yang segar.

Sumarwanto (47), anak kedua Mbah Prapto, menceritakan, proses pembuatan gudeg dimulai pukul 09.00. Seluruh keluarga terlibat dalam memproses 10-15 kilogram nangka muda, 200 butir telur ayam, dan 15 potong ayam kampung beserta krecek, tempe, tahu, kelapa, dan gula merah.

Sepupu Sumarwanto, Tuti, hingga kini bahkan bisa mengupas kulit 200 butir telur ayam dalam waktu setengah jam! ”Ya, setiap hari kerjanya begitu, jadi sudah biasa saja,” katanya. Pukul 17.00 semua proses berhenti. Waktunya untuk istirahat. Sekitar pukul 21.00 aktivitas kembali dimulai. Mereka menanak nasi dengan dandang yang terbuat dari tanah liat dan memanasi gudeg serta lauk-pauknya di tungku berbahan bakar kayu yang didatangkan dari Gunung Kidul.

Sumarwanto mengaku tidak pernah menghitung secara detail berapa porsi yang terjual setiap hari. Yang pasti, ketika buka pukul 23.00, setidaknya pukul 01.30 gudeg sudah ludes. Jika dihitung, dari 15 ekor ayam kampung yang bisa dipotong sepuluh, ditambah 200 butir telur ayam, setidaknya 350 porsi gudeg terjual setiap malam.

Tak heran, usaha ini juga menjadi ”dapur” yang menghidupi keluarga Prapto Widarso. Bahkan, dari tiga anaknya, dua di antaranya beserta para menantu terlibat di penjualan warung gudeg ini.

Selain itu, salah satu keponakan Mbah Prapto pun kecipratan dengan berjualan minum. Tengah malam Mencicipi gudeg tengah malam apa enaknya? Tetapi, justru itu yang dicari oleh beberapa pengunjung yang bingung mencari pengganjal perut selepas pukul 23.00.

Porsinya pas
Wildan Rais (25) adalah salah satu pengunjung yang mencari kenikmatan makan tengah malam. ”Sudah makan malam, sih. Tapi kalau tengah malam lapar, ya cari ke sini,” ujar wiraswastawan yang berdomisili di Yogyakarta ini.

Bagi Wildan, gudeg Mbah Prapto ini cocok di lidahnya yang tidak begitu akrab dengan rasa manis. ”Gurih, tidak manis sekali seperti gudeg kering. Porsi nasinya pun tidak begitu banyak,” katanya.

Pengunjung lain, Siti Asrowiyah, datang dengan keempat anaknya, Nizar, Danang, Lisa, dan Gustin, serta seorang cucunya, Angga. Tak lupa, ia membawa seplastik emping melinjo serta dua kantong rempeyek guna menemani gudegnya.

Danang, seorang pebisnis, mengaku hampir setiap hari mampir ke gudeg pawon untuk menikmati santap tengah malamnya. ”Anak saya yang sering mengajak. Kalau tiba-tiba dia terbangun tengah malam, pasti mengajak makan di sini. Lagi pula gudegnya masih panas, disantapnya pun jadi seger,” ujarnya.

Atmosfer di dalam pawon itu hangat. Tidak hanya karena kedua tungkunya menyala. ”Suasana ini yang kami cari, makan di dapur tradisional. Sepertinya tidak ada di tempat lain,” kata Nizar yang mengaku senang berwisata kuliner.

Makan besar tengah malam yang katanya bisa membuat ukuran pinggang bertambah tidak membuat para pengunjung berhenti datang. Semakin larut justru semakin banyak pengunjung hingga membentuk antrean.

foto: Arum Tresnaningtyas
Oleh: Maria Serenade Sinurat, Amanda Putri Nugrahanti & Harry Susilo
© 2008 Kompas

Photo AlbumDawet Kalasan (4 photos)Jul 11, '08 3:51 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ke Yogya,
Jangan Lupa Dawet Kalasan


SETIAP musim liburan seperti sekarang ini, Yogyakarta selalu penuh oleh wisatawan domestik dari berbagai kota di Jawa dan luar Jawa. Sebagian besar adalah mereka yang berasal dari daerah Yogyakarta dan sekitarnya dan kini tinggal di kota-kota lain, tetapi tak sedikit pula orang luar Yogya dan sekitarnya yang sengaja berlibur ke Yogya.

Malioboro adalah tujuan utama wisatawan, karena rasanya memang belum sampai Yogya kalau belum ke Malioboro. Padahal, Malioboro dari dulu ya begitu-begitu saja: pedagang kaki lima memenuhi emperan toko di sepanjang sisi barat jalan, Pasar Beringharjo dengan batik murahnya, mal Malioboro sebagai ikon modernitas baru, serta warung lesehannya yang mahal dengan gangguan pengamennya yang datang silih berganti.

Meski begitu, Malioboro memang selalu menarik. Menyusuri emperan toko yang padat pedagang kaki lima, keluar masuk toko yang dari dulu rasanya tak berubah, atau berjalan beringsut-ingsut di antara becak dan delman justru menjadi keasyikan tersendiri yang selalu ngangeni. Eh… siapa tahu dapat barang bagus tapi murah.

Lebih penting dari itu, sebenarnya Malioboro lebih sebagai tempat menyalurkan romantisme masa muda bagi banyak orang yang pernah tinggal dan besar di Yogyakarta dan sekitarnya.

Nah, kalau Anda kebetulan berlibur di Yogya membawa kendaraan sendiri, tentu saja banyak tempat yang bisa Anda kunjungi untuk memuaskan romantisme itu. Ada candi Borobudur, Prambanan, Parangtritis, Samas, Baron, sampai Kaliurang di lereng Merapi. Hampir di semua jalur menuju kawasan wisata itu sekarang banyak warung yang bisa membawa Anda bernostalgia ke masa lalu.

Salah satu yang boleh dicoba adalah dawet Kalasan. Ini memang bukan warung makan untuk mengenyangkan perut, tetapi sekadar tempat mampir melepas dahaga saja. Lokasinya hanyalah di pinggir jalan, tepatnya di jalur lambat Prambanan Yogya, persis di seberang bong supit Bogem yang terkenal itu.

Di sana ada berjejer-jejer pedagang dawet atau cendol bagi orang Jakarta. Tetapi ada dua yang menarik. Mereka tidak menjual dawet beras seperti kebanyakan cendol yang sekarang dijual di Jakarta, baik dawet ayu dari Banjarnegara, cendol Bandung, atau cendol-cendol dari daerah lain yang banyak dijajakan di Jakarta. Dawet bikinan Pak Sumardi dan seorang rekannya terbuat dari pathi atau tepung aren.

Berbeda dengan dawet dari bahan baku beras yang lembek dan mblenyek, dawet aren bikinan Pak Sumardi lebih kenyal. Warnanya bening, sehingga terkesan bersih. Tak heran kalau warung Pak Sumardi hampir selalu penuh. Pembelinya pun orang-orang bermobil, meski banyak juga yang bersepeda motor.

Dari plat nomornya, pembeli banyak pula yang datang dari luar Yogya-Solo yang mungkin sedang berlibur. Pak Sumardi yang asli Dusun Bogem, Kelurahan Nengahan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, itu mengaku sudah berdagang dawet aren di sana sejak 25 tahun lalu. “Meneruskan usaha bapak,” katanya.

Sehari ia bisa menghabiskan 25 kg tepung aren untuk membuat cendol. Kalau hari libur Sabtu-Minggu atau di musim liburan seperti sekarang, sehari ia bisa menghabiskan 35 kg tepung aren.

Berapa keuntungan yang didapat Pak Sumardi dari berjualan dawet aren? Ia enggan menajwab, tetapi dalam sehari minimal dia mendapat penghasilan kotor Rp 400.000-an. Kalau liburan seperti sekarang bahkan bisa Rp 500.000 sampai Rp 600.000.

Dawet item
Proses pembuatan dawet aren sama saja dengan cendol lain. Tepung aren direbus sambil terus diaduk-aduk, lalu disaring. Itu saja. Kalau Anda kurang suka dawet aren, tak jauh dari tempat mangkal Pak Sumardi juga ada pedagang dawet ayu. Kalau kebetulan Anda sudah terlanjur mau pulang ke Jakarta ada juga dawet item di Kutoarjo.

Dawet item menggunakan tepung beras sebagai bahan baku, tetapi untuk pewarnaannya digunakan jerami tanaman padi. Rasanya juga enak, meski untuk lidah saya dawet aren lebih nikmat.

Dawet memang minuman tradisional sejak zaman baheula. Di Yogya dan sekitarnya saat ini juga banyak dijual. Umumnya bahan yang digunakan beras, tetapi sebenarnya dawet atau cendol bisa dibuat dari bahan tepung apa saja.

Waktu saya kecil banyak dijual dawet ganyong. Bahan bakunya dari tepung ganyong, sebuah tanaman mirik lengkuas tapi warna akar umbinya agak ungu. Seratnya kasar. Nah dawet ganyong ini lebih kenyal. Penjualnya biasa memberi buah nangka sebagai pengharum aroma.

Selain dawetnya yang berupa cendol, pedagang biasanya juga menyediakan jenang ganyong. Antara dawet/cendol dengan jenang itu sebenarnya ya sama saja rasanya. Bedanya, cendol berukuran kecil-kecil sebagai hasil saringan, sementara jenang berupa prongkolan atau irisan besar-besar seperti halnya hungkue atau kue lapis.

Biasanya, dalam semangkuk dawet ganyong itu, dulu pedagang selalu menambahkan satu iris jenang ganyong sebagai bonus. Sayang, dawet ganyong itu sekarang sangat susah didapat. Saya sudah berkeliling sampai ke sawah-sawah di sekitar Bantul, Klaten, dan Wonosari, tetapi belum nemu juga. Ada yang punya informasi?

M Suprihadi
© 2008 Kompas

ReviewReviewReviewReviewReviewPidie 2000Jul 5, '08 2:42 PM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Margonda Pondok Cina No. 339, Depok
Mie lezat

Mandi Keringat Menyantap Mie Aceh!

Tempatnya sederhana, namun siapa sangka di warung tenda nan sederhana ini tersimpan kelezatan kuliner tanah rencong. Mie dengan racikan bumbu yang kaya rempah dan bercita rasa pedas benar-benar menggetarkan lidah. Shtttt... bisa-bisa Anda ketagihan dibuatnya!

Ya, ditilik dari namanya 'Pidie 2000 Mie Aceh Centre' sudah dapat ditebak bahwa warung makan ini menyediakan hidangan khas Aceh khususnya mie. Letaknya yang tepat berada di Jl. Margonda, Depok membuat warung makan mie Aceh ini tak sulit dicari. Selain sudah cukup dikenal bukan hanya oleh orang Aceh sebagai pelepas rindu, namun juga oleh warga Depok dan sekitarnya.

Meskipun di sisi kiri dan kanannya terdapat berbagai restoran besar, ternyata Pidie2000 tak kalah pamor. Ketika kami menyibak spanduk yang nyaris menutup rapat warung, hampir semua bangku telah terisi penuh. Namun untunglah masih ada sebuah meja kosong yang dapat kami tempati.

Mie yang asal muasalnya dari Cina, di warung tenda ini diracik dengan bumbu khas Aceh. Karena mi jadi kegemaran banyak orang makan racikan mi yang ini juga bikin kami ingin menjajal rasanya. Dari daftar menu yang sederhana, mie tumis dan mi goreng special menjadi pilihan kami.

Sambil menunggu pesanan sang pelayan menyajikan sepiring kue timpan yang menurut teman saya merupakan jajanan khas Aceh. "Cobain deh enak loh," ujarnya sambil mengambil sebuah. Suapan pertama rasa dominan pisang dan manis gula langsung menyerbu lidah. Hmm... benar juga rasanya enak! Tak lama kami pun sudah asyik mengunyah kue yang mirip dodol dan berbalut daun pisang ini. Kue ini terbuat dari tepung ketan, pisang, dan gula yang dilumatkan.

Tempat kami duduk persis bersebelahan dengan tungku tempat memasak mi, maka dengan leluasa kami mengamati proses pembuatan mie. Satu wajan besi besar berisi bumbu merah kecokelatan berminyak, mirip bumbu rendang yang diaduk oleh sang koki. Gaya mengaduknya mirip orang Betawi mengaduk dodol, pakai gaya ‘mendayung’. Kami tahu untuk membuat bumbu dengan belasan rempah ini pasti diperlukan waktu beberapa jam plus kesabaran dalam mengaduk. Aroma harum bumbupun mulai menusuk-nusuk hidung!

Setelah menunggu antrian akhirnya mie tumis tersaji mengepul. Kuahnya 'nyemek', kental, mirip lo mie dengan warna semburat kemerahan. Disajikan dengan sepiring kecil irisan timun bawang merah, cabe rawit dan emping goreng. Tampilan yang sangat eksotik menggoda untuk segera dicicip. Saat diaduk, aroma wangi rempah langsung menyerbu hidung.

Beraroma kari
Mie kuning besar, jenis mi hokkian merupakan ciri khas mie Aceh ini. Dilengkapi dengan irisan tomat, daun bawang dan iris tipis daging plus tauge. Rasa mienya kenyal lembut, dagingnya juga mulus saat dikunyah dan kuahnya memang istimewa. Beraroma kari yang lembut dan rasa ‘panas’nya langsung menyengat, membuat dahi dan muka saya langsung berlelehan keringat! Wuah..sedap nian!

Untuk mie goreng rupanya aroma rempah jauh lebih terasa kuat. Mie nya terlihat agak basah dan berwarna kecokelatan berlumur rempah. Sungguh menggoda dan nyaris membuat saya menitikkan air liur sebelum mencicipinya. Karena mi goreng ini spesial maka isinya juga komplet, udang, daging, seledri, telur, dan tomat.

Ternyata bumbu mi goreng lebih kuat menonjok lidah kami sehingga keringatpun makin deras berlelehan. Rasa pedas inilah yang justru membuat saya tak berhenti menyuapnya. Tenggorokan justru terasa lega setelah dilumuri racikan bumbu tanah rencong ini.

Meskipun berbagai aneka jus segar seperti jus anggur, pear New Zeland, dan jus timun tersedia namun untuk mengalahkan rasa pedas kami memutuskan untuk memesan segelas es teh manis. Seporsi mie tumis dihargai Rp 14.000,00 dan mie goreng Rp 12.000. Sedangkan untuk aneka jus harganya berkisar dari Rp 5000 - Rp 6000,00. Nah, tak mahal bukan?

Selain tak perlu jauh-jauh datang ke Aceh, untuk merasakan keunikan kuliner Aceh, Anda tak perlu membayar mahal. O ya, selain itu sebagian dari penghasilan warung Pidie 2000 ini akan disisihkan untuk membantu pendidikan anak-anak di Aceh.

'Pidie 2000' Mie Aceh Centre
Jl. Margonda Pondok Cina No. 339, Depok
Telp: 021-78887882 / 77212658

(dev/Odi) Devita Sari
© 2008 detikcom


Photo AlbumBebek Ginyo (2 photos)Jul 4, '08 4:32 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Bebeknya Si Mbah

Di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, di tepi Jalan Casablanca, tepatnya di Jalan Tebet Utara Dalam ada tempat tongkrongan baru. Keramaian di tempat itu mulai menggeliat tahun 2007. Sejumlah distro, kafe, dan tempat makan berdiri dan menjadi tujuan wisata nongkrong pada akhir pekan. Jalanan yang dulu sepi kini padat oleh kendaraan yang parkir di pinggir jalan.

Di sepanjang jalan ini ada tempat makan yang ramai jadi perbincangan dari mulut ke mulut dan diskusi dari milis ke milis. Namanya Bebek Ginyo. Tempat makan ini tiba-tiba populer. Padahal, restoran ini baru dibuka Mei 2007. Pasti ada yang istimewa di sana.

Suatu malam akhir pekan saya menyempatkan diri mengunjungi tempat makan ini. Hari sudah gelap. Tidak sulit mencari lokasi Bebek Ginyo karena Jalan Tebet Utara Dalam terletak di sisi Jalan Casablanca di samping SMP 115. Betul kata orang, ruas jalan itu ramai sekali. Di sisi jalan kanan dan kiri penuh motor dan mobil diparkir. Plang besar betuliskan Nasi Bebek Ginyo mencolok di sisi kiri jalan. Halaman parkir yang kecil di depan rumah makan itu penuh. Mobil dan motor berbagi tempat berdesakan. Di halaman depan, di sisi kanan, para pengunjung tampak berderet antre untuk mendapatkan menu bebek. Saya ikut bergabung dalam antrean itu.

Swalayan
Rumah makan Bebek Ginyo merupakan resto siap saji dengan layanan self service. Para pengunjung dipersilakan mengambil sendiri sesuai kebutuhan perut masing-masing. Ada nasih uduk dan nasi biasa. Silakan ambil sepuasnya. Banyak atau sedikit harganya sama hanya Rp 4.000. Selanjutnya, lima pilihan bebek tersedia di sebuah etalase kaca yang terbuka. Silakan pilih  mana yang Anda suka: Bebek Goreng Kremes, Bebek Goreng, Bebek Bakar, Bebek Balado, dan Bebek Cabai Hijau. Ada juga menu tambahan lain seperti tahu, tempe, dan botok bebek. Saya memilih Bebek Cabai Hijau.

Selanjutnya di meja berikutnya di ujung antrean, sebelum kasir, terdapat deretan lalapan, sambal, dan  aneka minuman. Ada dua macam sambal, sambal mangga muda dan tentu saja blendo bebek berwarna kehijauan. Blendo bebek dibuat dari campuran minyak bebek, santan kental, dan sejumlah rempah. Rasanya gurih.

Di Bebek Ginyo, para pencinta bebek tidak hanya dimanjakan oleh ragam menu bebek, tapi juga diajak kembali ke masa lalu. Rumah makan ini didesain dengan nuansa jawa tempo doeloe. Masuk ke ruang makan di dalam rumah kita disergap oleh kekunoan. Di dalam ruangan berjejer meja makan dan kursi yang terbuat dari kayu jati besar-besar. Di dindingnya bertebaran aneka poster iklan jadoel (jaman doeloe).

Ada poster rokok ”Kris” yang menampilkan lukisan seorang perempuan dengan sebatang rokok di tangannya. Ada potret kusam keluarga besar yang bediri di depan rumah. Mereka mengenakan beskap, jarik, lengkap dengan blangkon di kepala. Di sudut ruangan berdiri sebuah gong besar. Sementara di langit-langit berputar kipas angin kayu. Ada juga telepon engkol dan radio tua terpajang di ruangan itu. Tempat makan ini seperti sebuah museum mini.

Empuk, gurih dan tidak amis
Tapi, orang ramai datang ke tempat ini tentu bukan karena ingin melihat barang-barang antik. Bebeknya empuk, gurih dan tidak amis. Tulang dan dagingnya langsung bercerai ketika ditarik. Cabai hijau yang melumuri daging bebek tidak terlalu pedas. Dipadu dengan sambal mangga serut dan blendo daging bebek bergoyang-goyang di lidah saya.

Berapa ”kerusakan” isi dompet Anda makan di tempat ini? Jauh dari mahal. Semua jenis bebek harganya hanya Rp 14.000. Di warung-warung pecel bebek yang banyak dijumpai di trotoar Jakarta dengan daging bebek yang sering alot Anda harus merogoh kocek lebih kurang sama.

Bebek Ginyo hanya bisa dijumpai di Tebet karena memang belum membuka cabang. Ibu Kardjono, wanita setengah baya si empunya warung, mengatakan, ia dan suaminya masih mencari tempat untuk membuka cabang baru nasi bebek ini. Warung ini adalah usaha tempat makannya yang kesekian setelah sebelumnya kurang sukses membuka warung makan dengan menu yang lain.

Nama Ginyo yang diambil sebagai ”judul” bebeknya rupanya nama orang tua Pak Kardjono, suaminya. Tapi, Mbah Ginyo yang sekarang sudah almarhum bukan penjual bebek. Ia pembuat keris di Yogyakarta. Namanya membawa berkah ketika disandingkan dengan bebek.

___________________________
Jl. Tebet Utara Dalam No. 12, Jakarta Selatan
Tel. (62-21) 829 2343
Harga Rp 4.000 – 14.000
Jam Buka : Pk 11.00 – 22.00 wib

MBK/Heru Margianto
© 2008 Kompas

Photo AlbumKuliner Banjar (3 photos)Jul 3, '08 1:09 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ketupat Kandangan dan Lontong Orari

Sudah terlalu lama saya tidak berkunjung ke Banjarmasin. Entah kenapa, kota yang satu ini agak jarang masuk ke dalam layar radar saya. Kalau dulu saya selalu terpesona dengan berbagai hidangan itik (bebek) di kota ini, rupanya bebek-bebek yang sudah makin membebek di berbagai kota Nusantara sudah jauh meninggalkan kualitas masakan itik Banjarmasin yang masih “begitu-begitu” saja.

Mungkin sekali saya sudah terlanjur bias alias opinionated dalam hal ini. Bagi saya saat ini, hanya ada satu bebek yang top markotop. Tempatnya di Solo. Bebeknya mak nyuss. Sambalnya dahsyat. Semua bebek – mau tidak mau – terpaksa dipatok standarnya berdasarkan bebek Solo itu. Bebek Bukittinggi berada satu garis tipis di bawah bebek Solo ini. Semua yang lain lalu menjadi so-so.

Padahal, dulu Banjarmasin punya reputasi unggul dalam soal itik atau bebek. Di sekitar Amuntai, sekitar tiga jam perjalanan dari Banjarmasin, dikenal itik Alabio yang berbeda dari jenis bebek yang biasa kita dapati di Jawa.

Di masa lalu, saya bahkan pernah mendengar bahwa para peternak melakukan proses khusus untuk membuat daging itik Alabio ini lebih empuk ketika dimasak. Caranya? Bebek-bebek itu “ditanam” dalam lumpur sawah selama seminggu. Hanya leher dan kepalanya saja yang menyembul ke luar, sementara seluruh badannya terbenam di dalam lumpur yang agak padat, sehingga bebek tetap terjebak di dalamnya.

Setelah seminggu, bebek ini “dicabut” dari lumpur. Hampir semua bulunya sudah lepas, baru kemudian bebek dipotong. Hasilnya adalah bebek tanpa aroma anyir dan lebih empuk dagingnya. Cara yang “menyiksa” ini mirip dengan cara menghasilkan hati angsa yang lebih besar untuk diproses menjadi foie gras di Prancis.

Dari beberapa penjual masakan bebek di Banjarmasin saya mendapat informasi bahwa itik Alabio sekarang sudah tidak sebaik dulu mutunya. Dagingnya cenderung alot, sehingga sulit dimasak. Katanya, bebek yang sekarang kebanyakan dipakai untuk disajikan dagingnya adalah hasil persilangan antara itik Alabio dengan menthok. Bebek hasil persilangan ini disebut itik bekisar atau itik sarati.

Tetapi, sekalipun bebek Banjarmasin sudah tidak lagi memikat hati saya, ikan patin bakar dari Banjarmasin masih tetap juara dunia. Ini bukan jenis ikan patin yang sejak beberapa tahun terakhir ini populer di Jakarta dan kota-kota besar lainnya – yaitu hasil budidaya dari tambak. Ikan patin di Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, dan Palembang biasanya adalah patin sungai yang masih liar. Beratnya bisa mencapai 15-18 kilogram per ekor. Konon, patin Samarinda suka harum Lux, sehingga ikan ini biasa dipancing dengan sabun mandi ini. Di Banjarmasin lain lagi. Patinnya lebih suka sabun cuci Sunlight. Heran!

Dalam kunjungan ke Banjarmasin terakhir, saya bahkan merasa belum cukup puas makan ikan patin bakar, goreng, maupun kuah, sampai-sampai saya harus membawa pulang ke Jakarta seekor patin yang cukup besar. Udang galah dari sungai-sungai di sekitar Banjarmasin juga terkenal istimewa.

Namun, ada makanan sederhana yang justru sangat memukau saya di Banjarmasin. Makanan ini dikenal dengan nama Ketupat Kandangan. Kandangan adalah sebuah kota di Kalimantan Selatan. Kalau tidak salah, ini adalah daerah asal Hamzah Haz, mantan Wakil Presiden RI. He he, sudah lupa ‘kan bahwa kita pernah punya wakil presiden bernama Hamzah Haz yang kini tidak lagi terdengar namanya. Untungnya, dengan masakan ketupatnya, Kandangan tetap kondang di seluruh Nusantara.

Ketupat Kandangan
Ketupat adalah makanan yang sangat umum dan dapat dijumpai di berbagai wilayah Nusantara dengan ciri khas masing-masing. Dari Sabang sampai Merauke, kita dapat menemukan berbagai hidangan ketupat dengan ciri-ciri kedaerahan yang khas. Dalam catatan saya, beberapa sajian ketupat yang paling saya sukai adalah: ketupat sayur di Banda Aceh; ketupat dengan sayur pakis di Sicincin, Sumatra Barat; ketupat sayur dengan lauk pindang bandeng di Kebayoran Lama, Jakarta; lontong kari di Bandung; lontong capgomeh di Semarang; ketupat dengan lauk rujak di Madura; tipat cantok di Bali; dan ketupat kandangan ini.

Ketupat kandangan disajikan hanya dengan guyuran kuah santan mirip opor, berwarna kekuningan, ditaburi bawang merah goreng. Cara makannya sangat khas. Sekalipun berkuah, ketupat ini justru harus disantap tanpa sendok, melainkan dengan tangan. Ketupatnya hanya dibelah dua ketika disajikan, lalu “dihancurkan” dengan tangan. Beras Banjarmasin memang tidak pulen seperti di Jawa.

Ditanak sebagai nasi pun hasilnya seperti nasi pera yang tidak lengket satu sama lain. Ketika dimasak menjadi ketupat pun nasinya masih mudah tercerai-berai lagi. Setelah nasi ketupat itu “bubar jalan”, masing-masing akan menyerap kuah santan, sehingga mudah pula disuap dengan tangan. Sungguh, cara makan yang sangat unik.

Pendamping yang cocok untuk ketupat kandangan ini adalah ikan haruan goreng, atau ikan haruan masak habang (seperti bumbu bali atau bumbu balado). Ikan haruan mirip ikan gabus yang di Jawa sering disebut sebagai iwak kutuk, tetapi durinya tidak terlalu banyak. Ikan haruan Banjarmasin lebih mirip ikan gabus dari Danau Sentani di Papua Barat yang juga sedikit durinya, dan dagingnya lebih gurih.

Di sebuah warung ketupat kandangan di Banjarmasin, sajian pendampingnya termasuk sate telur ikan haruan, sate isi perut ikan haruan, dan telur rebus masak habang. Dalam kunjungan terakhir ke Banjarmasin, saya menemukan satu lagi sajian lontong yang membuat saya langsung “jatuh cinta” dan terpaksa “bercerai” dengan ketupat kandangan.

Sajian yang menggetarkan ini dikenal warga Banjarmasin dengan nama Lontong Orari. Dulu, rumah yang sekarang dipakai untuk berjualan makanan ini adalah markasnya para aktivis radio amatir yang tergabung dalam ORARI (Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia). Seperti kita ketahui, para breakers ini selain gemar cuap-cuap di udara juga sering melakukan “copy darat” agar dapat saling bertemu muka. Kebetulan, tidak jauh dari tempat mereka berkumpul itu ada seorang penjual lontong yang sungguh enak.

Lama-kelamaan, penjual lontong itupun “diakuisisi” dan kini lontong lezat itu “go public” – tidak lagi hanya dapat dinikmati para breakers. Rumah besar itu selalu ramai oleh para pelanggan setianya. Lontongnya berbentuk segitiga lebar dan pipih. Satu porsi full berisi dua lontong. Porsi ini benar-benar kelas berat. Saya saja tidak mampu menghabiskan satu lontong yang berukuran besar itu.

Seperti ketupat kandangan, lontongnya juga diguyur opor nangka muda. Warna kuahnya tidak sekuning ketupat kandangan, karena bumbunya memang tidak memakai kunyit. Cara makannya mirip dengan ketupat kandangan, yaitu memakai tangan – tidak memakai sendok.

Lauknya disajikan dalam piring terpisah – sebutir telur rebus dan ikan haruan goreng masak habang. Kuah lauk berwarna merah ini setelah bercampur dengan kuah putih lontong akan menghasilkan warna yang mengagumkan. Warna kuahnya langsung membuat saya teringat lontong capgomeh “Warung Air Mancur” di Semarang. Lontong Orari ini termasuk kategori mak nyuss! Sungguh memukau.

Satu catatan penting tentang kuliner Banjarmasin yang harus saya kemukakan di sini adalah kecenderungan citarasa manis yang berlebihan. Bahkan sayur asem yang seharusnya berasa asam, tetap harus tampil manis di Banjarmasin. Orang Banjar memang suka masakan manis. Sepedas apapun sambal yang ditampilkan, selalu ada tone manis yang muncul.

Bondan Winarno
© 2008 Kompas

ReviewReviewReviewReviewMenikmati Kelezatan MakananJul 2, '08 3:40 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Cooking, Food & Wine
Author:Fajar Ayuningsih
Menikmati Kelezatan Makanan Yogyakarta, Semarang, dan Magelang

Harga: Rp 34.000,-
Ukuran: 15 x 21 cm
Tebal: 80 halaman
Terbit: Juli 2008
Soft Cover

BONUS RESEP PILIHAN
Sate Sapi Manis
Kepiting Taoco Ungaran
Kawista Longan Squah
Sate Pisang
Wedang Ronde
Rujak Es Krim
Brongkos Daging
Bakmi Jawa

lngin membuktikan kedahsyatan lumpia Sernarang yang legendaris? Penasaran dengan Pecel Mbok Djoyo yang sudah rnelancong hingga ke New York? Atau sekedar bernostalgia sernbari rnenikrnati sedapnya rnasakan khas Yogyakarta? Jangan khawatir! Buku ini hadir untuk rnenernani Anda menelusuri setiap pojok kenikrnatan rnakanan khas di kota Sernarang, Magelang, dan Yogyakarta.

Buku yang wajib dirniliki oleh pencinta kuliner dan siapa saja yang doyan rnakan enak. Berisi lebih dari 60 tempat rnakan pilihan di sekitar Sernarang, Magelang, dan Yogyakarta.

Sarat inforrnasi seputar kuliner, dilengkapi dengan resep-resep pilihan. Foto-foto yang rnernikat dengan ulasan yang akrab menjadikan buku ini sebagai sahabat andalan Anda saat jalan- jalan sambil rnakan-rnakan.

ISBN: 978-979-22-3857-0; 21008168
Kategori: Tradisional

Tentang Penulis: Fajar Ayuningsih
`Berburu` tempat makan enak dan `menjelajah` resto atau kafe baru adalah kesukaannya. Ditambah lagi dengan pengalamannya selama belasan tahun sebagai food stylist dan food write di beberapa majalah terkenal di Jakarta, semua itu memberinya kesempatan untuk mengenal berbagai seni kuliner tradisional Indonesia dan mancanegara.

Dari sekian banyak tempat makan yang pernah dikunjunginya, resto Nonya te