Kuliner's posts with tag: durian

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag durian
ReviewReviewReviewReviewReviewKembang Durian, Renyah dan GurihJul 20, '08 2:51 PM
for everyone
Category:Other
Renyah & Gurih

Bunga dijadikan hiasan rumah itu sih biasa. Tapi kalau bunga dijadikan sayur? Hmm... seperti apa ya rasanya?

Kalau melihat buahnya pastilah semua orang kenal dengan bunga yang satu ini. Melihat bunganya pasti Anda tidak akan menyangka jika bunga dari buah yang tajam baunya ini dapat dijadikan santapan yang lezat!

Musim kemarau tiba, bunga-bunga durian mulai bermunculan. Pasti sebentar lagi akan tumbuh bakal buah yang menjadikannya buah durian yang lezat dan siap untuk dipanen.

Tapi apakah Anda tahu, bahwa bunga durian pun bisa menjadi hidangan yang lezat ditemani nasi pulen yang hangat. Buah dengan nama latin Durio Zibethinus ini tidak hanya enak buahnya tapi juga lezat bunganya.

Saya jadi teringat waktu kecil, dulu saat musim durian bunga-bunga durian banyak sekali yang berguguran. Saya sangat rajin mengumpulkan bunga durian yang telah berguguran itu. Karena nenek saya sering membuat sayur bunga durian.

Bunga yang telah dikumpulkan tadi dipilih yang masih segar atau yang baru saja jatuh dari pohonnya. Sehingga kondisi bunganya pun masih bagus. Bentuk bunganya agak sedikit bulat dan warnanya kuning pucat baunya pun sangat harum. Sebelum dimasak, putik bunganya harus dihilangkan dulu agar rasa sayurnya tidak pahit.

Setelah dipilih dan dicuci bersih, siapkan bumbu untuk menumisnya. Seperti cabai merah, bawang merah, bawang putih, daun salam, dll. Bunga durian ini dimasak jangan terlalu lama sehingga masih terasa renyah saat dimakan kres...kres.

Rasanya tentu saja lezat, hampir mirip dengan daging ayam yang disuir-suir tapi lebih renyah. Hmm... Anda siap untuk mulai mencari bunga durian?

(dev/Odi) Eka Septia
© 2008 detikcom


Blog EntryBolu kukus durianJun 13, '08 9:25 PM
for everyone





















.
Bolu Kukus Rasa Durian
.
Bahan:
  • 1 butir telur
  • 1 sendok teh emulsifier
  • 100 gram gula pasir
  • 100 gram tepung terigu
  • 4 mata durian, ambil dagingnya
  • 50 ml air
  • 3 tetes pewarna merah
Cara membuat:
  1. Kocok telur, emulsifier, dan gula sampai mengembang.
  2. Masukkan durian dan air lalu kocok sebentar.
  3. Bagi adonan menjadi 2 bagian.
  4. Satu bagian ditambahkan pewarna merah.
  5. Masukkan dalam cetakkan bolu kukus yang telah diberi kertas.
  6. Kukus selama 15 menit.
Pengirim: Darma Wati
Kedamin kapuas Hulu - Kalimantan Barat

sumber: Sedap Sekejap

Photo AlbumExtreme cuisine (8 photos)May 31, '08 11:30 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Catatan Bondan Winarno
Kuliner Ekstrem

One man’s meat, is another man’s poison. Pemeo itu saya petik dari majalah Silverkris - inflight magazine-nya Singapore Airlines - edisi Mei 2008. Tulisan ini juga diilhami oleh artikel yang sama.

Sebagai bangsa Asia, kita mempunyai keramahtamahan yang unik, khususnya dalam hal berbagi atau sharing. Dalam budaya Barat, orang-orang saling menyapa dengan pertanyaan "apa kabar". Tetapi, dalam budaya Tionghoa, misalnya, sapaannya adalah: "apa kamu sudah makan?" Artinya, kalau belum makan, pastilah akan ditawari makanan apa adanya.

Orang-orang Asia yang juga sering disebut sebagai orang Timur memang punya kebiasaan berbagi yang sangat kental. Saking sukanya mereka berbagi makanan, kadang-kadang mereka suka pula mendesakkan keinginan agar tamunya mencicipi keistimewaan atau kekhasan makanan mereka.

Pemeo di atas dapat digambarkan dengan mudah dalam kasus durian. Orang Asia pada umumnya sangat gemar makan durian. Mereka akan pergi ke mana saja dan membayar berapa saja untuk mendapatkan durian yang terbaik. Karena itu, mereka umumnya juga menganggap bahwa semua orang suka durian pula. Padahal, kebanyakan orang Barat justru tidak suka durian. Maaf kata, banyak orang Barat yang mendeskripsikan durian sebagai "it smells like hell, and tastes like s***t."

Tetapi, tidak banyak orang Asia yang memahami bahwa orang Barat tidak suka durian. Mereka suka memaksa tamunya untuk mencicipi durian paling mahal dan paling enak yang sengaja dibelikan. Memang, ada juga orang Barat yang akhirnya menyukai durian dan mengatakan "it smells like hell, but tastes like heaven."

Teman saya, Bill Howe, seorang mantan Peace Corps yang kemudian menjadi bankir, tidak setuju dengan julukan seperti itu. “To me, durian smells like heaven, and tastes like heaven, too,” katanya. Itu mungkin karena semasa bertugas sebagai sukarelawan Peace Corps di Malaysia, dia sudah beradaptasi secara hampir mengakar. Ketika beberapa tahun Bill bertugas di Singapura sebagai bankir, tiap pagi dia membeli nasi lemak murah seharga satu dolar di pinggir jalan, menentengnya ke kantor, dan menyantapnya di ruang kantornya yang mewah.

Bagi orang Barat, durian adalah bagian dari extreme cuisine. Kalau kita pernah melihat tayangan “Fear Factor” di televisi, kita dapat memahami betapa mata sapi yang direbus merupakan makanan yang sangat menjijikkan bagi mereka. Padahal, kalau makan soto kaki kambing di Jalan Blora, saya selalu minta mata kambing sebagai salah satu lauk yang dipesan.

Tetapi, dalam banyak hal, yang disebut ekstrem dalam kuliner biasanya dibatasi oleh lingkup budaya. Sesuatu yang ekstrem di dalam satu budaya, tidak ekstrem di budaya yang lain. Dulu orang Amerika juga menganggap makan ikan mentah menjijikkan. Tetapi, sekarang orang Amerika sangat doyan sushi dan sashimi.

Di saluran Discovery Travel and Living, ada sebuah program menarik bertajuk 'Bizzare Foods' yang dibawakan oleh Andrew Zimmern. Saya cukup menyukai acara ini karena Andrew tidak sekadar mendemonstrasikan keberaniannya mengganyang berbagai makanan yang 'mengerikan', tetapi ia lebih banyak menceritakan kultur yang bersangkut-paut dengan makanan itu. Andrew juga cukup prudent bila berhadapan dengan makanan dari jenis satwa yang dilindungi. Tetapi, di Asia ada beberapa program televisi yang menampilkan kuliner ekstrem secara menjijikkan.

Sebagai seorang presenter sebuah program kuliner, saya sendiri bersikap untuk menjauhi tayangan gagah-gagahan untuk mendemonstrasikan 'keberanian' makan. Bagi saya, cukuplah bila saya menampilkan makanan-makanan yang normal dan layak dimakan. Kalaupun share dan rating acara seperti itu bagus bagi televisi, biarlah orang lain saja yang melakukan pekerjaan dare devil seperti itu.

Di Belitung, misalnya, saya menolak menampilkan sajian daging monyet. Di Bali, saya juga menolak makan sate penyu. Saya bahkan sudah bertahun-tahun tidak lagi makan sirip ikan hiu. Tetapi, bila menyangkut urusan pusaka kuliner dan masih tetap berbatasan dengan kepantasan, dengan senang hati saya menampilkannya.

Kidu
Belum lama ini saya sempat mencicipi kidu atau ulat enau di Kabanjahe, Sumatra Utara. Sebetulnya, lebih tepatnya ini adalah larva. Pohon enau yang tumbang sengaja dibiarkan beberapa minggu, sampai kemudian muncul larva berwarna putih gendut sebesar jempol laki-laki dewasa. Larva ini digoreng sebentar, dan kemudian dimasak dalam bumbu arsik berkuah santan kental. Memang mak nyus, sekalipun banyak juga yang ngeri melihatnya.

Sebetulnya, di Kabanjahe itu saya juga “ditantang” untuk makan pagit-pagit. Menurut deskripsinya, pagit-pagit dibuat dari isi perut sapi sebelum mengalami proses pemamahbiakan selanjutnya. “Ini pusaka kuliner juga. Supaya jangan ada yang bilang bahwa orang Karo makan tahi,” kata mamak yang “menantang” saya. Terus terang saya masih menyimpan kekhawatiran bahwa penayangannya di televisi justru akan menimbulkan kesalahpahaman.

Di Thailand, orang suka mengudap serangga yang digoreng. Tiap sore kita melihat penjaja berkeliling - kadang-kadang dengan sepeda motor - dengan meja terbuka berisi jangkrik goreng, belalang goreng, kumbang goreng, dan lain-lain. Di Filipina, laki-laki suka makan balut - telur ayam yang sudah menjadi embrio di dalamnya. Wong Palembang suka tempoyak - durian yang difermentasikan. Orang Jawa suka memakai tempe busuk sebagai bumbu makanan.

Tetapi, kuliner ekstrem tidak hanya merupakan delicacy bagi bangsa-bangsa Asia. Les escargots alias bekicot panggang di Prancis bukanlah sesuatu yang mudah diterima dalam budaya lain. Begitu juga boeuf tartare yang berupa daging sapi mentah dicincang, dicampur dengan telur mentah dan bumbu-bumbu. Lain padang lain belalangnya. Lain lubuk lain ikannya. Alangkah bijaknya ajaran orang-orang tua kita dulu.

(dev/Odi)
Detik.com @ 2007

Blog EntryEs kacang durianFeb 25, '08 3:15 AM
for everyone





















.
Es Durian Kacang Merah
.
Bahan I:
  • 100 gr daging durian
  • 300 gr es batu
  • 50 ml susu kental manis
  • 50 ml simple sirup
Bahan II:
  • 100 gr kacang merah kering, rendam, rebus
  • 6 biji daging durian
  • 50 gr kacang hijau, rebus
Cara Membuat:
  1. Masukkan semua bahan I ke dalam alat penghalus.
  2. Haluskan hingga semuanya tercampur rata.
  3. Susun kacang merah, daging durian, dan kacang hijau ke dalam gelas saji.
  4. Tuang bahan I yang sudah dihaluskan.
  5. Tuang susu kental manis di atasnya. Sajikan.
Untuk 2 porsi

foto: Daniel Supriyono
© TabloidNova

Blog EntryAsam durian seafoodFeb 16, '08 11:45 AM
for everyone





















.
Asam Durian Ikan Tongkol
.
Bahan:
  • 1 ekor ikan tongkol ukuran sedang
  • 2 sdt air jeruk nipis
  • ½ sdt garam halus
  • 150 gr daging durian matang
  • 3 sdm cabai giling
  • 250 ml air
  • 1 bh tomat hijau, iris tipis
  • 1 ikat daun kemangi
Haluskan:
  • 6 siung bawang putih
  • 2 cm jahe
  • 3 bh bawang merah
  • ½ sdt garam
Cara Membuat:
  1. Ikan tongkol, potong 4 bagian
  2. Lumuri ikan dengan air jeruk nipis dan garam, diamkan sebentar.
  3. Campur daging durian dengan cabai dan bumbu lainnya.
  4. Tambahkan air, masak sambil diaduk hingga mendidih.
  5. Tambahkan ikan tongkol, irisan tomat dan daun kemangi.
  6. Aduk hingga kuah mengental dan ikan matang.
Untuk 6 orang.

Pengirim: Rina Darman - Sumatra Barat
© TabloidNova

ReviewReviewReviewReviewBukan Buah Terlarang!Oct 14, '07 9:05 PM
for everyone
Category:Other
Durian

Meskipun mendapat julukan The King of the Fruit, rajanya buah, durian menjadi buah yang kontroversial. Perbedaan pendapat itu seputar berbahaya atau tidak mengonsumsi durian bagi kesehatan si konsumen. Buah bergizi tinggi ini bukan buah terlarang, karena kadar lemaknya jauh lebih rendah dibanding lemak hewani.

Kekayaan alam yang kita miliki patut untuk disyukuri. Alam tropis Indonesia memberikan anugerah yang cukup besar berupa keragaman hayati. Beragam flora tumbuh dan berkembang dengan baik di negeri ini, di antaranya adalah buah-buahan. Banyak jenis buah tropis menjadi kegemaran turis asing dan lokal, sehingga merupakan daya tarik tersendiri bagi mereka. Kunjungan ke kebun-kebun buah yang telah dijadikan obyek agrowisata merupakan bukti akan hal tersebut.

Untuk memenuhi permintaan konsumen akan buah di luar negeri, telah dilakukan ekspor ke beberapa negara. Ini menjadi bukti, bahwa anggapan mutu buah-buahan lokal kalah dengan buah impor, tidak sepenuhnya benar. Namun kenyataan membanjirnya buah impor di pasaran, diakibatkan oleh meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi buah untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal.

Meningkatnya konsumsi buah-buahan menunjukkan peningkatan pengetahuan gizi masyarakat akan pentingnya vitamin dan mineral. Buah-buahan juga merupakan sumber serat pangan (dietary fibre) yang sangat berguna bagi kelancaran proses pencernaan makanan di dalam tubuh manusia, sehingga sangat bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, jantung koroner, hipertensi, stroke, dan berbagai kanker.

Banyak buah-buahan Indonesia yang dimasukkan ke dalam kategori buah unggul. Namun demikian, baru sekitar sembilan jenis buah yang varietas unggulnya telah dilepas oleh Menteri Pertanian. Kesembilan jenis buah tersebut adalah anggur, apel, alpukat, belimbing, durian, mangga, nangka, rambutan dan salak. Di antara kesembilan jenis buah tersebut, durianlah yang memiliki varietas unggul terbanyak.

Rajanya Buah
Durian (Durio zibenthinus Murr.) mendapat julukan sebagai The King of the Fruit. Buah ini sudah dikenal dan banyak dibudidayakan di daerah tropis terutama Indonesia. Produksi yang melimpah dan banyak disukai menyebabkan durian mempunyai prospek yang baik. Rasanya yang lezat dan aromanya yang khas menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemar buah berduri ini.

Pada awalnya, tanaman ini tumbuh liar dan terpencar-pencar di hutan Malaysia, Sumatera dan Kalimantan. Kemudian menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, Thailand, India dan Pakistan. Seiring dengan perkembangannya tersebut, kini telah ditemukan 300 spesies yang bermarga Durio di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, telah ditemukan sekitar 27 spesies. Akan tetapi dari jumlah spesies tersebut, baru enam spesies yang umum dikonsumsi masyarakat

Durio zibenthinus Murr. merupakan spesies yang sangat digemari masyarakat dan paling sukses dibudidayakan. Tanaman ini termasuk tanaman musiman berasal dari Kalimantan dan Sumatera. Secara morfologi buah durian ini dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu kulit, daging buah dan biji. Pada bagian kulit luar (perikarp) buah durian memiliki duri-duri yang sangat tajam.

Tanaman durian memiliki sosok berupa pohon tinggi yang dapat mencapai ketinggian 50 meter, dan dapat tumbuh mencapai umur ratusan tahun. Warna daging buahnya pun bervariasi, yaitu putih, krem, kuning muda, kuning kehijauan dan ada pula yang berwarna kuning tembaga. Di dalam buah terdapat pongge, yaitu biji yang diselimuti oleh daging buah.

Tanaman ini dapat tumbuh baik pada tempat yang subur, bertanah gembur dan tidak bercadas. Dalam setiap musim, jumlah buah yang dihasilkan bisa sekitar 80-100 buah per pohon, tergantung besarnya pohon. Sedangkan pohon yang telah cukup tua, bisa menghasilkan 200 buah per pohon. Musim berbunga pohon durian dimulai pada bulan Juni sampai September, dan buah akan menjadi matang pada bulan Oktober sampai Februari.

Durian dapat dikembangbiakkan melalui tiga cara, yaitu secara vegetatif, generatif, serta campuran antara vegetatif dan generatif. Namun umumnya durian diperbanyak secara generatif dengan menggunakan biji. Perbanyakan ini akan menghasilkan keturunan yang bervariasi, dengan sifat-sifat yang berlainan dari sifat tanaman induk, karena durian adalah tanaman yang menyerbuk silang.

Untuk mempertahankan sifat-sifat yang sama dengan tanaman induk, maka ada pula yang dilakukan dengan perbanyakan vegetatif. Cara yang biasanya dilakukan adalah dengan okulasi (penempelan mata atau budding).

Varietas Unggul
Harga durian yang bervariasi sangat ditentukan oleh faktor keunggulannya. Semakin unggul jenisnya, semakin tinggi pula harganya. Saat ini Menteri Pertanian telah melepas 13 jenis varietas durian sebagai varietas unggul. Ketigabelas varietas itu adalah durian bokor (asal Majalengka), durian kani (introduksi dari Thailand), durian otong (introduksi dari Thailand), durian perwira (asal Majalengka), durian petruk (asal Jepara), durian si dodol (asal Kalimantan Selatan), durian si hijau (asal Kalimantan Selatan), durian si japang (asal Kalimantan Selatan), durian si mas (asal Bogor), durian si tokong (asal Pasar Minggu), durian si riwig (asal Majalengka), durian sukun (asal Gempolan), dan durian sunan (asal Boyolali).

Durian-durian tersebut sering diekspor, tetapi secara kuantitatif belum memenuhi permintaan pasar. Secara umum perbedaan-perbedaan yang terdapat pada durian jenis unggul tersebut terletak pada penampilan, warna, serta daging buahnya. Kehadiran durian monthong (asal Thailand), memiliki keharuman nama tersendiri. Sifat-sifat yang dikatakan unggul pada durian monthong adalah rasa daging buahnya yang manis, berwarna kuning, tebal serta berbiji kecil, bahkan kadangkala kempes, aroma tajam dan khas. Keunggulan lainnya adalah penampilan tajuk pohon yang bercabang rendah dan berbuah lebat.

Selain durian unggul di atas terdapat jenis buah lain, yaitu durian parung. Buah durian parung berbentuk bulat memanjang berwarna hijau keabuan, daging buah tebal dan berwarna kuning, sedikit berserat dan biji berukuran kecil.

Semakin Berlemak, Semakin Gurih
Bagian yang dapat dimakan dari satu buah durian adalah sekitar 22%, yaitu bagian daging buahnya. Bagian lainnya adalah kulit luar (pericarp) dan biji (pongge). Bagian kulit biasanya dibuang, sedangkan bagian biji dapat diolah menjadi tepung, keripik atau dimakan setelah direbus. Daging buah durian dapat dimakan dalam keadaan segar atau diolah menjadi berbagai produk olahan. Di Palembang dan daerah Sumatera lainnya, daging buah durian umumnya diolah menjadi tempoyak, yaitu bubur buah yang ditambah garam dan difermentasi (diragikan), dapat digunakan sebagai lauk pauk.

Selain itu, daging buah durian juga dapat diolah menjadi dodol durian, keripik durian (seperti keripik nangka), bahan campuran es krim atau es putar. Daging buah yang hampir masak dapat digunakan untuk sayuran. Dalam perkembangannya saat ini, daging buah durian juga dapat diawetkan dengan cara dibekukan atau dikalengkan. Komposisi gizi buah durian sangat beragam, tergantung dari jenis, umur buah (kematangan) serta tempat tumbuhnya. Namun secara umum, buah durian mempunyai kandungan gizi yang cukup.

Prof. DR. Made Astaman, MS,
Dosen di Departemen Teknologi Pangan dan Gizi IPB
Copyright Kompas Cyber Media


Blog EntryJajanan tradisional yang lezatAug 12, '07 10:58 AM
for everyone




















.
Talam Durian

Bahan 1:
  • 4 buah roti tawar, sisihkan kulitnya
  • 150 gr daging durian
  • 120 gr gula merah sisir
  • 1/4 sdt garam
  • 2 sdm tepung sagu
  • 2 sdm tepung beras
  • 200 cc santan kental
Bahan 2:
  • 75 gr tepung beras
  • 50 gr tepung sagu
  • 400 cc santan kental
  • 1/2 sdt garam
  • 1/4 sdt vanili
Cara membuat:
  1. Adonan 1: campur roti tawar dengan santan dan daging durian, lalu haluskan.
  2. Tambahkan gula merah, garam, tepung sagu, dan tepung beras, aduk sampai rata.
  3. Siapkan cetakan talam, tuangkan adonan 1 sampai 3/4 cetakan.
  4. Kukus selama 20 menit sampai matang.
  5. Adonan 2: campur semua bahan 2, aduk sampai rata, lalu saring.
  6. Tuangkan adonan 2 di atas adonan 1 sampai penuh.
  7. Kukus lagi selama 10 menit sampai lapisan atas matang.
  8. Angkat, dinginkan.
Untuk: 10 buah

© 2001 TabloidNova

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.