Kuliner's posts with tag: balikpapan
|  | Berwisata ke Balikpapan
Balikpapan. Kota di wilayah Kalimantan Timur itu sedari dulu sudah populer. Menyebut Balikpapan, selalu menghubungkannya dengan minyak. Banyak yang menjuluki kota itu kota minyak, karena di situ terdapat kilang-kilang minyak Pertamina, belum lagi eksplorasi minyak di perairannya yang semakin menegaskan predikatnya.
Kadang orang mengira, Kota Balikpapan adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Timur. Padahal, ibu kota Kalimantan Timur adalah Samarinda. Namun, mobilitas orang ke dan dari Balikpapan melalui Bandara Sepinggan, konon lebih banyak ketimbang mobilitas ke dan dari ibu kota provinsi itu.
Aktivitas bisnis di kota itu, kabarnya memang lebih banyak. Bila Anda suatu ketika berkesempatan bertandang ke Kota Balikpapan, jangan gundah dulu jika hanya bisa menikmati kota itu di sela-sela urusan bisnis atau pekerjaan yang ditugaskan kepada Anda. Kota itu masih bisa dinikmati sebagai kota wisata. Wisata dalam hal ini tentunya adalah membeli barang-barang khas sebagai suvenir dan juga wisata jajanan.
Apa yang bisa dieksplorasi di kota itu? Coba kita mulai dari Bandara Sepinggan. Begitu mendarat di bandara itu, Anda masih diberi suasana Jakarta dengan adanya gerai Roti Boy di situ. Bolehlah sejenak menggigit roti aroma mocca dengan isian butter yang gurih manis itu dengan ditemani secangkir kopi atau teh panas agar penat di perjalanan udara sirna.
Selanjutnya, nikmati perjalanan darat Anda dengan menebarkan pandangan ke seluruh penjuru kota. Jalanan Kota Balikpapan berbukit-bukit dan Anda pasti akan terkesan dengan kebersihannya. Hampir tidak ada sampah bertebaran. Semuanya serbabersih, tak hanya jalan akses bandara, tetapi juga di setiap penjuru kota. Memang layak kota ini 13 kali mendapat Adipura karena kebersihannya itu.
Sensasi Kepiting Masih punya sisa waktu? Ingin mencicip menu khas ala Kalimantan Timur? Pasti pengelola hotel tempat Anda menginap atau warga Kota Balikpapan yang Anda tanya, akan menyarankan untuk mencicip kepiting dan menu makanan laut lainnya.
Restoran yang menyajikan hidangan laut (seafood) memang mendominasi kota itu. Sebut saja Jalan Marsma Iswahyudi. Di jalan itu antara lain bisa dijumpai Rumah Makan Kepiting Dandito dan Kepiting Kenari. Semuanya mengunggulkan menu kepiting dan udang dengan bumbu racikan khas masing-masing.
Rumah Makan Dandito misalnya, selain menyediakan saus tiram dan lada hitam untuk mengadon kepitingnya, juga mengunggulkan saus spesial Dandito yang rasanya sangat lezat. Bila menyukai saus tiram, tapi bosan dengan rasa dominan tiram yang kadang bikin eneg, saus Dandito itu menjadi alternatif. "Saus Dandito ini hasil uji coba saya di dapur dengan mencampur bumbu-bumbu seperti jahe, bawang, dan sebagainya," kata Rudi Setiawan, pemilik rumah makan tersebut kepada SP baru-baru ini.
Sementara itu, bila menjajal menu kepiting di Rumah Makan Kepiting Kenari, Anda akan dihadapkan pada pilihan saus asam manis dan lada hitam. Bagi penyukai rasa manis, menu kepiting asam manis adalah pilihan tepat. Kepiting berukuran besar yang memang menjadi andalan rumah makan itu, dibelah menjadi beberapa bagian dan dimasak dalam genangan kuah asam manis yang kental.
Menyantapnya dengan mencocolkan potongan kepiting pada sambal yang juga rasanya manis, tetapi menggigit lidah karena pedas cabai merahnya yang berpadu dengan cuka yang kuat. Bila semula merasa saus asam manis itu kemanisan, Anda akan susah berhenti menyantap kepiting dalam menu itu, akibat sensasi sambalnya.
Bagaimana dengan menu kepiting lada hitamnya? Di Rumah Makan Dandito, saus lada hitam ini disajikan kental dengan rasa dominan manis gurih dengan tingkat kepedasan lada hitam yang pas, yang menggenangi setiap potongan kepiting. Menyantap kepitingnya, Anda tak akan berhenti menyendok saus lada hitamnya yang kental, dan membubuhkannya pada daging kepiting.
Apalagi bila memesan kepiting betina, telur kepiting yang gurih padat berwarna oranye, bercampur dengan saus kental lada hitam itu, pasti membuat Anda lupa kandungan kolesterol kepiting yang tinggi! Tentang kolesterol ini, Rudi menyarankan untuk meminum air kelapa muda sebagai penetralisir.
Bagaimana dengan menu yang sama di Rumah Makan Kepiting Kenari? Menu kepiting lada hitam di rumah makan itu sangat berasa pedas lada hitam. Potongan kepiting pun, setiap cangkangnya dipenuhi bintik-bintik lada hitam yang ditumbuk kasar. Dengan kuah minimalis yang encer, menu kepiting lada hitam itu hanya diolah dengan irisan bawang bombay. Sensasi rasa pedas lada, bikin Anda, sekali lagi, susah berhenti mencari daging kepiting di sela cangkang kerasnya.
Kenikmatan menyantap kepiting itu, berefek sama ketika memesan udang galah dalam racikan bumbu yang sama. Di kedua rumah makan tersebut, udangnya juga sulit diacuhkan. Semuanya diracik dengan bumbu yang tepat oleh koki yang cerdas memuaskan konsumennya.
Mantau Menyerah dengan efek kepiting dan udang yang mungkin menyebabkan ambang batas kolesterol Anda memberikan sinyal lampu merah? Ingin mencari menu khas lainnya di hari berikutnya? Cobalah mencicip soto banjar. Soto banjar ini aslinya memang masakan khas Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang bila ditempuh dari Kota Balikpapan melalui jalan darat memakan waktu sekitar enam hingga tujuh jam perjalanan.
Soto banjar ini sajiannya seperti soto ayam biasa, dengan soun, sedikit taoge, suwiran ayam, dan pelengkap berupa perkedel kentang dan emping goreng. Tetapi, bumbunya yang kuning bening, membuat rasa soto berbeda. Di samping bumbu soto ayam pada umumnya yang terdiri dari kunyit, bawang, merica, dan kemiri, soto banjar juga dibubuhi adas dan kayu manis. Porsi kayu manis yang sedikit, dan bertempur dengan adas, membuat soto banjar jauh dari wangi kayu manis. Setiap suap hangatnya bikin Anda tidak akan berhenti menyantap hingga soto tandas dari mangkoknya.
Makanan khas lain di kota itu adalah mantau. Mantau adalah bakpao padat. Anda pasti pernah menjumpai mantau kemasan di toko swalayan, di bagian frozen food. Di Kota Balikpapan, mantau menjadi menu utama yang disantap dengan aneka menu masakan ala Tionghoa. Bisa disantap dengan daging sapi atau ayam bumbu kungpao, atau bumbu merica.
Ada dua pilihan mantau yang bisa dinikmati, kukus atau goreng. Satu mantau berukuran diameter 10 cm, dihargai Rp 2.500 untuk penyajian kukus yang berwarna putih dan Rp 3.000 untuk penyajian goreng. Pastikan Anda memesan mantau goreng.
Jangan takut dengan minyak yang dipakai untuk menggoreng. Kendati digenangkan dalam minyak, mantau goreng tidak berminyak. Tampilannya berwarna cokelat sawo matang, dengan permukaan kering mengkilat. Ini karena mantau diolah padat. Saking padatnya adonan, tidak memberi kesempatan minyak goreng menelusup dan menggenangi mantau sehingga membuatnya basah berminyak.
Penjual mantau kesohor di Kota Balikpapan bisa ditemui di Restoran Suky di ruko baru Balikpapan dan Depot Simpang 4 Jalan Pandansari. Mantau-mantau itu bahkan disantap dengan daging menjangan yang dibumbu kungpao dan ditaburi kacang mede, dikenal dengan sebutan masak mede. Sepertinya, penjual tidak mengetahui bahwa berdasarkan lampiran PP No 7/1999 tanggal 27 Januari 1999, hewan menjangan termasuk fauna yang dilindungi.
Oleh-oleh Puas mencicip dan perut sudah tak bisa menerima asupan lagi, kini saatnya berburu suvenir dan penganan kering. Di seantero Kota Balikpapan banyak yang menjual amplang kuku macan. Amplang adalah camilan yang terbuat dari ikan, bentuknya seperti kerupuk ikan ala Palembang dengan rasa yang nyaris sama, gurih ikan. Dibentuk kecil-kecil gemuk seperti kuku macan, kerupuk ikan ini disebut amplang kuku macan.
Amplang bisa diperoleh di setiap toko kue. Beberapa toko mengemasnya lengkap dengan tulisan "oleh-oleh khas Balikpapan". Bila ingin membawa oleh-oleh berupa makanan, menu kepiting tersebut di atas juga bisa dibawa. Dua rumah makan tersebut mengemas kepiting dalam bungkus plastik bening yang tebal, untuk kemudian dimasukkan ke dalam kardus-kardus kecil yang ditutup rapat sehingga tidak berbau.
Suvenir apalagi yang bisa ditenteng dari Kota Balikpapan? Cobalah ke Pasar Inpres Kebun Sayur. Beli sayur? Sekilas namanya memang berkonotasi seperti itu, tetapi Pasar Kebun Sayur ini justru menjajakan aneka barang dan hiasan kerajinan khas Kalimantan Timur.
Di pasar itu Anda bisa membeli segala macam jenis kain batik dari batik bintik Kaltim hingga sasirai, sarung Samarinda, aneka batu untuk cincin, hiasan dinding, gelang, lukisan dan sebagainya. Tampilannya nyaris seperti Pasar Sukawati di Tabanan dan Pasar Kumbasari di Denpasar Bali yang isinya kerajinan. Bila terobsesi dengan nama Kebun Sayur dan bersikeras membeli sayur, ya tak mengapa, tinggal berjalan ke pasar di sebelahnya yang memang menjual sayur-mayur.
Bila senja mulai menjelang, cobalah menikmati pemandangan matahari terbenam di kota itu. Anda bisa menuju salah satu bukit dekat kawasan Pertamina, untuk melihat pemandangan Kota Balikpapan. Jika penjaga portal kawasan itu berbaik hati, di malam hari Anda bisa menikmati terangnya instalasi minyak di kawasan milik Pertamina itu. Kalaupun kesempatan itu tidak datang, di siang hari Anda bisa melihat gedung-gedung kuno peninggalan Belanda yang dijadikan kantor milik Pertamina.
Apalagi yang bisa dinikmati dari kota itu? Sebagai kota yang memiliki pantai, pantai di Kota Balikpapan bisa dinikmati tanpa terganggu pemandangan tanker minyak yang sedang berlabuh.
Pantai yang umum didatangi masyarakat adalah Pantai Lamaru dan Pantai Manggar. Pasir putihnya yang tebal, asyik ditapaki hingga ombak menghapus jejak-jejak kaki. Selain dua pantai tersebut, Pantai Monumen yang terletak di depan Taman Monumen, juga menjadi tempat masyarakat berkumpul dan sekadar lari pagi atau sore.
Tidak hanya itu, pantai lain yang tidak bernama, seperti pantai di depan Hotel Le Grandeur, juga sering disambangi penduduk setempat. Entah untuk bermain layangan, bola, ataupun menjaring ikan. Karena lokasinya yang dekat Bandara Sepinggan, di pantai itu pula, pemandangan take off dan landing pesawat bisa dinikmati. Nyaris seperti Pantai Jimbaran Bali.
Pantai itu juga menawarkan tumpukan pasir tebal dan yang pasti bersih, tak ada sampah. Jadi, sudah tidak ragu lagi bukan menikmati Kota Balikpapan di sela-sela menunaikan tugas?
Nuke Ernawati © 2008 Suara Pembaruan |
 Bakso Kepiting
ANDA penggemar bakso dan mie? Rasanya belum lengkap disebut penggemar bakso dan mie jika belum mencicipi bakso dan mie kepiting. Daging kepiting dijadikan campuran dalam bakso dan mie yang biasa menggunakan daging sapi dan ayam.
Tanpa direncanakan, Tribun Kaltim mencicipi bakso dan mi kepiting di salah satu stand Expo UMKM Borneo 2008 yang digelar menyambut PON XVII di Gedung KNPI, Balikpapan hingga 17 Juli mendatang.
Seperti bakso biasanya dalam satu mangkuk berisi mie kuning, mie putih, empat bakso berukuran sedang dan satu butir bakso yang ukurannya lebih besar. Rasa mie memang seperti biasanya. Taburan daging kepiting yang lembut membuatnya semakin nikmat.
Pentolan, begitu biasanya orang Balikpapan menyebut bakso yang berbentuk bulat itu rasanya cukup enak. Pentolan yang ukurannya sedang memang secara keseluruhan terbuat dari daging sapi. Tapi, tunggu saat membelah pentolan yang ukurannya paling besar. Di bagian tengahnya ada campuran daging kepiting yang halus. Rasanya makin nikmat. Tidak ada rasa amis yang mengikutinya.
Jangan lupa cicipi pula, mie kepiting. Jika biasanya mie ayam dengan menggunakan daging ayam, maka kini diganti dengan daging kepiting. Rasanya juga nikmat. Tak ketinggalan ada juga beberapat pentolan bakso dalam satu mangkuk mie kepiting. Pentolan yang paling besar juga dicampur dengan daging kepiting.
Sebagai pelengkap bersantap, Peno, pemilik warung bakso dan mie kepiting ini menyediakan aneka es dengan nama yang unik. Mulai dari es sejuta rindu, es patah hati, dan es tebar pesona. Nama-nama ini bukan dibuat begitu saja.
Tapi, namanya disesuaikan dengan perasaan yang ada. Misalnya es patah hati, ada citarasa kecut. Atau penampilan si tukang tebar pesona yang diterjemahkan dalam es tebar pesona dengan aroma duriannya yang menarik. Jadi, jangan lupa kunjungi Expo UMKM Borneo 2008 yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Selamat mencoba.
(amalia husnul) Tribun Kaltim/Fachmi Rahman © 2008 Kompas 
 Kepiting Kenari
Belum lengkap rasanya ke Balikpapan, kota minyak di Kalimantan Timur, kalau belum mencicipi kepiting di Restoran Kepiting Kenari di Jalan Iswahyudi, tidak jauh dari Bandar Udara Internasional Sepinggan.
Restoran tersebut, bagi penyuka makanan laut, sangat kondang. Pejabat tinggi negara dari Jakarta yang ke Balikpapan atau yang ke Kalimantan Timur biasanya mampir di tempat itu. Restoran tersebut juga menjadi salah satu pilihan favorit perusahan minyak, batu bara, atau yang bergerak di bidang perkayuan di Balikpapan kalau menjamu tamu.
Datanglah pas jam makan siang. Jika datang terlalu sore boleh jadi kepiting sudah habis dan restoran sudah tutup. Biar aman, lakukanlah reservasi untuk pukul 11.00 hingga 14.00.
Selepas waktu itu, revervasi Anda mungkin akan ditolak. Itulah yang kami, saya dan rombongan dari Tanoto Foundation, alami. Kami baru saja memantau program pelatihan guru di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), sebelah barat Teluk Balikpapan, Rabu pekan lalu. Dian Lestari dari Tanoto Foundation beberapa kali mencoba melakukan reservasi via telepon untuk pukul 15.00-16.00.
Pihak restoran tidak bersedia menerima reservasi itu. Pengelola punya kebiasaan menutup restoran begitu persediaan kepiting habis, dan itu bisa terjadi pada pukul 14.00 atau sebelum pukul 15.00. Jam operasional restoran tersebut sesungguhnya dari pukul 11.00 sampai pukul 22.00.
Pihak pengelola tampaknya tidak mau ambil risiko untuk sebuah reservasi tanpa uang muka yang kemudian batal. Rencana makan kepiting yang sudah dijadwalkan beberapa hari sebelumnya itu pun terancam buyar.
Meski reservasi ditolak, kami berharap restoran itu masih buka saat kami sampai. Speedboat yang mengantar kami dari PPU ke Balikpapan melaju kencang. Belum genap pukul 15.00, kami sudah sampai di Balikpapan. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil. Sempat terlontar rencana untuk mencari tempat makan lain.
Sopir yang mengantar kami mengusulkan, "Coba saja lihat dulu, siapa tahu restorannya masih buka." Kami pun setuju. Restoran itu ternyata memang belum tutup saat kami tiba sekitar pukul 15.30. Aha... itu artinya stok kepiting masih ada! Kepiting saus lada hitam merupakan primadona di sini. Selain itu ada kepiting rebus, kepiting goreng, tanco dan saus tiram. Ada juga aneka menu ikan.
Kami pesan kepiting saus lada hitam. Porsinya ternyata jumbo, cukup untuk tiga sampai empat orang. Kepiting yang disajikan dari jenis yang besar-besar. Kata Lisa, salah seorang anggota keluarga pemilik restoran tersebut, kepiting-kepiting itu berasal dari perairan Tarakan. Kepiting dikirim dalam kondisi hidup ke cabang restoran di Balikpapan, Samarinda, dan Surabaya. Daging kepitingnya terasa lembut, gurih, dan sedikit manis. Aroma ladanya sangat terasa sehingga terasa panas di lidah.
Harga per porsi kepiting berbeda berdasarkan jenis kelamin. Seporsi kepiting jantan rasa apa saja harganya Rp 105.000 dan seporsi kepiting betina Rp 125.000. Harga tersebut belum termasuk PPN. Mengapa harga kepiting jantan dan betina berbeda? "Karena kepiting betina ada telurnya," kata seorang pelayan.
Anda bisa menjadikan masakan dari restoran itu sebagai oleh-oleh. Beberapa penumpang pesawat jurusan Jakarta yang terbang bersama kami sore itu membawa oleh-oleh masakan kepiting dari restoran tersebut. Kemasannya dari plastik dan kardus yang dibuat sangat rapi sehingga aroma masakan tidak menyebar keluar.
Hemm... kalau ke Balikpapan jangan lupa kepiting ya.
keterangan foto: Kepiting Kenari saus lada hitam. foto: Egidius Patnistik
Egidius Patnistik © 2008 Kompas 
| |