Kuliner's posts with tag: bali
|  | Pesta Layang-layang di Pantai Padanggalak
Langit biru di atas Pantai Padanggalak, Denpasar, Bali, awal Juli lalu, terasa semarak oleh ratusan layang-layang berwarna-warni. Layang-layang tradisional Bali, yakni janggan (ular), bebean (ikan), dan pecukan (oval), serta modern (layang-layang dua-tiga dimensi) saling ”bersaing” memperlihatkan keelokan dan kegesitan di atas cakrawala dalam Festival Layang-layang Bali atau Bali Kite Festival Ke-30.
Festival Layang-layang Bali pertama kali digagas budayawan yang juga mantan Gubernur Bali, Ida Bagus Mantra, pada tahun 1978. Dari tahun ke tahun jumlah peserta terus meningkat. Tahun ini, festival diikuti 735 layang-layang yang pesertanya datang dari sekitar 690 banjar se-Bali, sejumlah daerah di Tanah Air, seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan; plus kelompok atau perorangan mewakili 40 negara, antara lain Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Selandia Baru.
Bagi masyarakat Bali, layang-layang adalah bagian integral budaya agraris mereka. Hal ini tercermin dari cerita rakyat tentang Betara Rare Angon yang kerap digunakan sebagai acuan mengenai sejarah kedekatan layang-layang dengan kehidupan masyarakat Bali. Layang-layang menjadi bentuk ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan petani atas keberhasilan panen mereka kepada Dewa Siwa, satu dari tiga manifestasi Tuhan dalam kepercayaan Hindu.
Permainan layang-layang menandai waktu panen, khususnya padi, di banjar-banjar. Kebetulan, panen raya biasanya datang pada bulan Juni-Agustus, bertepatan dengan tibanya musim kemarau. Permainan itu tetap dilakukan, bahkan dilembagakan di sejumlah banjar, dengan pemain utama anak-anak dan remaja. Festival layang-layang lalu menjadi sarana berbagi kebahagiaan bersama bagi seluruh warga, sekaligus menjadi atraksi wisata.
Foto: Priyombodo Teks: Benny Dwi Koestanto © 2008 Kompas |
 Jukung
Jika Anda berlibur ke Bali di akhir pekan ini, jangan lewatkan parade jukung di Sanur. Acara yang digelar satu tahun sekali ini berlangsung sejak Kamis (7/8/2008) hingga Minggu (10/8/2008).
Wisatawan mancanegara dan nusantara yang sedang berlibur di Pulau Dewata menyempatkan diri untuk menyaksikan parade jukung atau perahu tradisional, Kamis kemarin. Kegiatan ini merupakan rangkaian memeriahkan kegiatan Sanur Village Festival (SVF) ke-3 yang berlangsung selama lima hari hingga 10 Agustus. Vionny Lica wisatawan asal Australia di Sanur, Bali, Kamis mengungkapkan kekagumannya dapat menyaksikan parade jukung yang dilakukan oleh kelompok nelayan Desa Sanur. "Saya merasa senang dan kagum menyaksikan parade jukung tersebut, karena untuk dapat menonton atraksi itu harus menunggu waktu setahun lagi," ucap perempuan yang senang dengan kegiatan budaya. Parade jukung yang diikuti 100 peserta yang mengambil start di Pantai Mertasari dan berakhir di depan Pantai Segara dengan jarak tempuh mencapai enam kilometer. Koordinator parade jukung, I Wayan Jelantik mengatakan, penyelenggaraan kegiatan parade jukung itu merupakan agenda rutin SVF yang diikuti oleh semua nelayan Desa Sanur. "Kegiatan ini merupakan sebagai pelestarian masyarakat pesisir, disamping juga memberikan porsi khusus dalam ajang tahunan ini," ujarnya. Tampak para bendega atau nelayan pada parade tersebut mengenakan busana Bali, begitu juga jukungnya dihiasi dengan janur guna menambah kesemarakan pada kegiatan tersebut. Sementara itu Ketua Panitia SVF, Ida Bagus Gde Sidartha Putra mengatakan, keterlibatan para bendega ini merupakan bagian dari komunitas Sanur yang dikenal dengan kehidupan nelayan. "Obyek wisata Sanur sebagai destinasi wisata tertua tak lepas dari kehidupan masyarakat Desa Sanur sebagai nelayan," kata Sidharta menambahkan.
MBK © 2008 Kompas 
|  | Nasi Campur Kedewatan, Favorit Mbak Mega
PULAU DEWATA bukan cuma pemandangan indah. Makanan enak yang menggoda selera bisa ditemui di banyak tempat. Salah satunya adalah Nasi Campur Kedewatan di Ubud. Dari Kota Denpasar rumah makan milik Ibu Mangku ini bisa dicapai setelah menempuh perjalanan 45 menit.
Lurus saja melalui Batu Bulan ke arah Ubud, rumah makan Nasi Campur Kedewatan bisa ditemukan. Anda akan menemui sebuah bangunan khas Bali yang disulap menjadi rumah makan dengan konsep terbuka. Bisa memilih lesehan atau duduk di depan meja.
Nasi Campur Kedewatan berbeda dengan nasi campur ala Chinese Food atau nasi rames ala Warung Tegal. Kalau nasi campur Chinese Food biasanya ada potongan daging babi, sate babi, dan telur ayam, nasi campur dari Ubud ini terdiri dari ayam suwir (semacam bumbu kari), sambel goreng tempe kacang, sayur urap bali, dan kulit ayam goreng kering. Kemudian diguyur kuah ayam suwir itu dan diberi potongan telur.
Mengutip istilah orang Bali Nasi Campur Kedewetan itu memakai bumbu megenap yang artinya bumbu genap atau semua bumbu masuk. Rasa rempah-rempahnya sangat terasa. Bagi Anda penggemar rasa pedas, nasi campur ini bisa menjadi pilihan, sebab rasa sambel di dalamnya sangat menonjol. Tapi, bila Anda tidak ingin pedas, sambalnya bisa disingkirkan.
Namun, agar dapat menikmati makanan ini memerlukan perhitungan waktu yang tepat. Pasalnya, terlambat sedikit seluruh makanan pasti sudah habis. Buka jam 11.00, jam 15.00 biasanya sudah ludes. Kalau masih beruntung, pukul 17.00 masih ada sisanya. Saran bagi yang mencoba, silahkan mampir sebelum pukul 15.00 agar tidak kehabisan. Kalau hari libur sekolah, rumah makan ini dipenuhi turis domestik. Tak heran kalau pengunjung terkadang harus antre agar dapat menikmati sepiring nasi campur.
Jangan pernah berharap rumah makan ini sepi, karena penggemarnya bukan cuma orang yang berdomisili di sekitar Ubud. Mereka yang tinggal di Denpasar atau bahkan di luar Bali banyak yang menyukainya. Ssst...Ketua Umum PDI Perjuangan yang juga mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri adalah salah satu penggemar Nasi Campur Kedewatan. Mau coba?
Nama: Nasi Campur Kedewatan Lokasi: Kedewatan - Ubud Pemilik: Ibu Mangku Harga: Rp. 8000/porsi Halal: Ya
Franciska Savitri © 2008 Kompas |
 Layang-layang
Ratusan layang-layang dalam beberapa jenis dan ukuran dari sejumlah negara mengudara dalam kegiatan "Bali Kite Festival (BKF)" ke-30 tahun 2008 di Lapangan Pantai Padanggalak, Denpasar yang berlangsung pada 11-13 Juli 2008. Layang-layang sebanyak itu, sebagian besar berasal dari peserta lokal Bali yang mencapai sekitar 739 buah, sisanya dari daerah lain dan beberapa negara di dunia. Ketua BKF, I Gusti Putu Rai Adnyana, di Denpasar, Jumat mengatakan, sebanyak 11 negara ambil bagian untuk eksibisi dalam kegiatan tersebut. Mereka itu antara lain pencinta layang-layang asal Australia, Rusia, Taiwan, Selandia Baru, Pilipina, Malaysia, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, India, dan China. "Peserta dari luar negeri itu akan tampil di nomor layang-layang kreasi, sementara layang-layang tradisional ditampilkan peserta dari dalam negeri," ucapnya. Untuk layang-layang tradisional, ditetapkan tiga jenis yang disertakan dalam festival yakni janggan, pecukan, dan bebean. Sementara layang kreasi, bentuk dan modelnya diserahkan sepenuhnya kepada para peserta. Ditanya menurunnya peserta lokal dalam lomba kali ini, Adnyana mengatakan, bahwa bulan ini masyarakat Bali disibukan dengan kegiatan politik dan adat. "Dua hari lalu warga disibukkan dengan kegiatan pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Dalam pekan ini juga ada berbagai kegiatan upacara adat seperti upacara Pitra Yadnya," katanya. Oleh karena itu "sekaa" (perkumpulan) yang dulunya bisa mengikutsertakan layang-layangnya hingga tiga buah, karena kesibukan, mereka hanya mengirim satu buah.
Sumber: Ant © 2008 Kompas

2007 surf trip to Bali From: Edzsurfing Import.flv (22.1 MB)
 Enak seken ne
Bali memiliki sejumlah menu masakan yang dijamin menggoyang lidah, tetapi bubur bali tidak termasuk dalam jenis makanan yang populer untuk orang dari Pulau Dewata itu.
Salah satu tempat untuk menyantap bubur bali adalah di Warung Tresni di Jalan Drupadi, Denpasar. Warung milik Made Suwarka (35) ini buka dari pukul 08.00 sampai sore. Namun, bila ingin mencicipi buburnya, jangan datang setelah pukul 10.00 pada hari hujan atau datanglah sebelum pukul 12.00 pada hari terang supaya masih kebagian.
Cara memasak bubur yang dijual dengan harga Rp 7.000 sepiring itu sama seperti membuat bubur di mana-mana: beras dimasak dengan banyak air ditambah daun salam untuk membuat wangi bubur.
Keistimewaan bubur bali adalah pada menu penyerta bubur itu, yaitu urap sayuran dan gecok yang terdiri dari suwiran daging ayam dengan kuah betutu yang rasanya pedas menggigit. Suwarka menyediakan buburnya dengan urap sayuran yang ditaburi kacang goreng, usus goreng, serta popcorn. Tidak lupa tentu saja sambal matah khas Bali.
Tentang popcorn, jagung letus buatan Suwarka itu cara pembuatannya sedikit berbeda dibandingkan dengan popcorn yang biasanya dibuat dengan dibubuhi garam atau margarin. Suwarka mengolahnya dengan memberi bawang putih lalu digoreng dengan minyak. ”Kalau ingin hasilnya lebih baik, jagung dijemur terlebih dahulu,” tutur Suwarka.
Gara-gara inovasi Suwarka dengan jagung letus itu, bubur Suwarka menjadi salah satu bubur bali yang populer di Denpasar.
Urap bali Bubur dari Bali berbeda dengan bubur daerah lain di Indonesia karena teman menyantapnya adalah urap sayuran dan gecok. Sayuran urap terdiri dari daun singkong dan rajangan kasar kacang panjang. Sayuran rebus itu lalu dicampur dengan bumbu-bumbu, kelapa parut dari kelapa yang telah dibakar, bawang goreng, dan cabai yang dirajang kasar.
Teman makan bubur yang lain adalah gecok. Menu ini terdiri dari adukan daging ayam suwir, kaldu ceker ayam, santan matang, serta bumbu kalas. Bumbu kalas terdiri dari, antara lain, kencur, ketumbar, bawang merah, dan bawang putih lalu dicampur dengan parutan kasar kelapa yang dibakar terlebih dulu.
Untuk lebih menarik, cara penyajian bubur pun dibuat sedekat mungkin dengan cara yang aslinya memakai daun pisang. Hanya saja, Suwarka meletakkan daun pisang di atas piring. ”Daun pisang tidak bisa ditinggalkan karena itu menjadi pemanis sajian sekaligus sedap di buburnya sendiri. Kalau saya tak lagi menggunakan, wah langganan bisa protes,” ujar Suwarka.
Bermacam racikan Seperti lazimnya tawaran makanan di mana-mana, bubur bali pun memiliki racikan berbeda-beda sesuai dengan resep setiap pedagang yang dipengaruhi daerah asalnya. Menurut Suwarka, buburnya memakai racikan Denpasar. Adapun daerah lain bisa saja memakai sayuran yang berbeda atau kuah betutu berbeda pula.
Sebenarnya di pasar-pasar tradisional juga bisa dijumpai bubur bali, hanya saja soal rasa tentu tidak bisa sama. Begitu juga rasa kuah dan jenis sayuran yang disajikan pun berbeda-beda. Dari beberapa orang yang ditemui, mereka menyatakan paling enak adalah bubur Tresni karena ada popcorn-nya.
Menikmati bubur Warung Tresni ini nikmatnya berpasangan dengan kerupuk dan teh manis panas. Teh manis panas di warung ini pun pasti dihiasi dengan irisan jeruk nipis.
Ia sendiri telah berkecimpung lebih dari 10 tahun berawal dari bisnis coba-coba ala kaki lima di pinggiran lapangan Puputan Renon. Belum lama berjualan di lapangan, penikmat bubur buatannya pun semakin bertambah setiap hari. Berbekal porsi sekitar 100 piring bubur seharga Rp 5.000 pun ludes setiap hari.
Karena terkena gusuran petugas ketertiban, Suwarka pun menyewa tempat di Jalan Drupadi. ”Saya pun mulai dari nol lagi. Saya berkeyakinan pembeli setia saya pasti akan mencari. Jadi, yakin saja, kalau enak, pasti dicari terus,” ujar dia mantap.
Selain menawarkan bubur bali, Warung Tresni juga menyediakan nasi campur dan jajan khas Bali. Enak seken ne (enak sekali)!
Ayu Sulistyowati © 2008 Kompas 

. Bubur Mengguh.Bahan:- 200 gr beras, cuci bersih
- 1200 cc air
- 2 sdt garam
- 2 lembar daun salam
- 500 cc santan kental
- 500 gr dada ayam
- 200 gr kacang panjang, iris 1 cm
- 100 gr kacang tanah, goreng
- bawang goreng secukupnya
Bumbu Halus:- 6 butir bawang merah
- 4 siung bawang putih
- 2 buah cabai merah
- 2 cm kunyit, bakar
- 4 buah kemiri
- 1/2 sdt merica
- 1 sdt ketumbar
- garam secukupnya
Bahan Urap:- 100 gr kelapa parut setengah tua
- 200 gr kacang panjang, potong 4 cm
- 2 siung bawang putih
- 2 buah cabai merah
- 1/2 sdt terasi
- 2 cm kencur
- 2 sdm gula merah
- 2 lembar daun jeruk
- garam secukupnya
Cara Membuat:- Panaskan 2 sdm minyak, tumis bumbu halus hingga harum.
- Masukkan daging ayam, daun salam, lengkuas, dan kaldu bubuk.
- Tambahkan air 500 cc.
- Masak sampai ayam matang dan bumbu meresap, angkat.
- Pisahkan ayam dengan kuahnya.
- Rebus beras hingga lunak.
- Tambahkan santan, garam, dan daun salam.
- Masak lagi sampai bubur mengental.
- Masukkan kacang panjang.
- Masak sampai kacang panjang matang, aduk rata, angkat.
- Buat urap: haluskan semua bumbu urap.
- Tambahkan dengan kelapa parut, aduk rata.
- Kukus bumbu urapan sampai matang, angkat.
- Campur bumbu urapan dengan kacang panjang rebus.
- Sajikan bubur dalam mangkuk.
- Tambahkan kacang tanah goreng, dan urap kacang panjang.
- Sajikan selagi hangat dengan taburan bawang goreng dan suwiran ayam.
Untuk: 5 porsi © Tabloid Nova
 | Besakih | May 13, '08 8:31 PM for everyone |
Besuch des Muttertempels in Besakih auf Bali an einem Feiertag, mit Einblick in das religiöse Leben der Hindu auf Bali. From: oldiesurfer Import.flv (22.1 MB)

. Tenggiri Bumbu Bali.Bahan:- 1 kilogram ikan tenggiri, potong-potong
- 2 sendok makan air jeruk
- 1/2 sendok teh garam
- 2 sendok makan kecap manis
- minyak goreng
- 1 potong asam jawa
- 1 tangkai serai, dimemarkan
Bumbu halus:- 8 butir bawang merah
- 3 siung bawang putih
- 4 buah cabai merah
- 3 butir kemiri sangrai
- 2 cm jahe
- 1 potong terasi
- garam
Cara membuat:- Rendam ikan dalam garam dan air jeruk.
- Diamkan 30 menit lalu goreng sebentar.
- Tumis bumbu halus dan serai sampai harum.
- Masukkan ikan. Aduk sampai ikan terbungkus bumbu.
- Bubuhi asam jawa, kecap manis.
- Aduk hingga bumbu meresap.
Untuk 6 porsi sumber: Sedap Sekejap
 Tajen
Permainan “bermandi darah” ini amat dekat hubungannya dengan judi. Meski juga melibatkan dua pihak yang saling bertarung, yang ini bukan pertandingan tinju. Itulah tajen, adu jago khas Bali. dalam edisi ini. Sabung ayam, alias tajen, sudah lama tumbuh dan berkembang di Pulau Dewata. Sejak belasan generasi sebelumnya hingga kini, tajen telah merasuk ke sebagian warga, terutama laki-laki.
Dulu tajen biasa dilakukan di tempat khusus, yakni di wantilan yang umum ada di setiap desa. Gedung beratap “bertumpang” (kubah ganda) itu, bagian lantainya terdiri atas beberapa undak, mengerucut miring ke pelataran, yang jadi arena adu ayam. Dengan demikian, semua pengunjung dalam wantilan dapat dengan jelas menonton pertarungan tersebut.
Tapi sejak ada larangan pemerintah terhadap segala bentuk perjudian di tahun 1981, tajen tak lagi bertempat di wantilan. “Adu jotos” ayam jago pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi di rerimbunan kebun kopi, ladang jagung, tumpukan jerami usai panen, bahkan ... sudut pekuburan. Datangnya era reformasi memberi angin segar. Tajen tak lagi perlu “mengungsi”. Malah, belakangan tajen menjadi sarana untuk menggalang dana.
Godek di kaki Sebagaimana tak sembarang jagoan bisa terjun di ring tinju, demikian pula ayam aduan. Ia harus memiliki ciri dan syarat khusus. Selain bentuk kaki, jambul, atau jejuangan (keturunan), juga dilihat apakah ia berasal dari trah ayam berkualitas. Warna bulu, bentuk leher, bahkan komposisi warna bulu (ules) pun dipertimbangkan.
Malah ada kepercayaan mistis berkaitan dengan ayam seperti apa saja yang diizinkan masuk ring tajen. Tapi asal daerah ayam bukan masalah. Tak heran saat ini ayam aduan dalam tajen tidak melulu ayam lokal bali, tetapi juga ayam lombok, jawa, jepang, filipina, bahkan ... amerika! Yang penting ia tidak mempunyai satu flek hitam di kakinya yang disebut raja wilah, atau tidak bercirikan warna merah di seluruh urat, lidah, maupun kulit, yang disebut ayam camah (Brahma). Kedua ayam itu pantang diadu dalam tajen.
Bila pemilik ayam nekad, risikonya bisa berupa perkelahian, atau serangan penyakit dadakan. Tak hanya si pemilik, anggota keluarganya pun bisa menjadi korban.
Dalam kitab anutan bebotoh (petaruh), disebut sebagai Lontar Pengayam-ayam, banyak disinggung tentang ayam yang dijamin tidak keok saat diadu. Selain ciri bawaan ayam yang mendatangkan keberuntungan, hari pertandingan pun berpengaruh. Siapa sangka, setiap jenis ayam memiliki hari baik tersendiri?
Soal perawatan menjadi faktor penting lainnya. Menjelang hari bertarung perhatian ekstra dicurahkan mulai soal makanan, perawatan dengan cara memandikan, mengurut, membedaki kakinya, menjemur, serta melatih si jago agar siap tempur di arena tajen.
Yang unik, arena aduan membedakan ayam berdasar warna dan keadaan bulu sekaligus. Buik (bulunya berwarna-warni), kelau (berbulu abu-abu), bihing (berbulu merah), wangkas (dadanya berbulu putih, sayapnya berwarna merah). Brumbun untuk “petarung” dengan kombinasi bulu merah, putih, dan hitam. Ayam berbulu putih disebut sa.
Sedangkan berdasarkan keadaan bulu, ayam dengan bulu leher sangat lebat dinamai ook. Bila tumbuh bulu (jambul) di kepala, disebut jambul. Godek, untuk ayam yang berbulu di ... kaki!
“Kode” bertaruh Konon, keberadaan bebotoh amat menentukan ramai-tidaknya tajen. Bahkan tajen dan bebotoh ibarat dua sejoli yang tak terpisahkan.
Betapa tidak, karena arena tajen sering diramaikan teriakan-teriakan istilah yang tak lazim, antara lain gasal, cok, pada, telude, apit, dan kedapang. Gasal adalah sistem taruhan dengan perbandingan lima banding empat. Cok, sistem taruhan tiga lawan empat, pada (sama) adalah taruhan satu lawan satu. Telude, dua banding tiga, apit menggunakan satu banding dua, sedangkan kedapang sembilan banding sepuluh.
Biasanya sebelum pertarungan dimulai, dua pakembar, “petugas” yang melepas ayam sebelum bertarung, terlebih dahulu memperkenalkan setiap ayam dengan cara meletakkannya dalam sebuah segi empat di tengah wantilan. Saat itu, akan tampak mana ayam yang pantas diunggulkan dan mana yang tidak. Misalnya seorang pakembar membawa ayam jambul, sedangkan yang lain membawa ayam kelau.
Jika ada bebotoh yang menjagokan ayam jambul, ia berteriak menyambut. Jika hingga pakembar selesai dengan acara perkenalan itu tidak ada bebotoh yang mengunggulkan ayam kelau, otomatis ayam jambul menjadi unggulan. Selanjutnya, para bebotoh riuh menawarkan taruhan.
Bebotoh yang ingin mendapatkan “musuh” biasanya meneriakkan sistem taruhan yang dipilih dari tempatnya, tanpa perlu berkeliling arena. Maka, yang menimpali teriakannya akan menjadi lawan taruhan. Bebotoh pun dapat menggunakan jari tangan sebagai isyarat sistem taruhan yang ia inginkan. Maka lawan yang berminat pun membalas dengan isyarat serupa.
Setelah seekor ayam dinyatakan sebagai “petarung unggulan”, seseorang yang meneriakkan “cok” berarti memegang ayam yang menjadi lawan si unggulan. Syaratnya, kalau menang ia akan mendapatkan uang sebesar taruhan, sedangkan kalau kalah ia hanya membayar tiga perempat dari jumlah taruhan yang disepakati.
Dalam tajen pun ada wasit, yang disebut saya. Di setiap tajen ada empat saya yang bertugas yakni saya kemong, ketek, garis, dan lap. Saya kemong biasanya selalu didampingi gong kecil yang disebut kemong, paling tinggi jabatannya. Ia menentukan kapan memulai dan mengakhiri pertarungan. Jika salah seekor ayam aduan sudah terkapar, bebotoh yang kalah akan menghampiri lawan untuk menyerahkan uang taruhan.
Sejak zaman Majapahit Dalang wayang kulit sekaligus pelaku tajen IB Eka Darma Laksana menuturkan, tajen berasal-usul dari tabuh rah, salah satu yadnya (upacara) dalam masyarakat Hindu di Bali. Tujuannya mulia, yakni mengharmoniskan hubungan manusia dengan bhuana agung. Yadnya ini runtutan dari upacara yang sarananya menggunakan binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, dan berbagai jenis hewan peliharaan lain.
Persembahan tersebut dilakukan dengan cara nyambleh (leher kurban dipotong setelah dimanterai). Sebelumnya pun dilakukan ngider dan perang sata dengan perlengkapan kemiri, telur, dan kelapa. Perang sata adalah pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang dilaksanakan tiga partai (telung perahatan), yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan dunia. Perang sata merupakan simbol perjuangan hidup.
“Tradisi ini sudah lama ada, bahkan semenjak zaman Majapahit. Saat itu memakai istilah menetak gulu ayam. Akhirnya tabuh rah merembet ke Bali yang bermula dari pelarian orang-orang Majapahit, sekitar tahun 1200,” ujar Gus Eka, panggilan akrab IB Eka Darma Laksana.
Serupa dengan berbagai aktivitas lain yang dilakukan masyarakat Bali dalam menjalani ritual, khususnya yang berhubungan dengan penguasa jagad, tabuh rah memiliki pedoman yang bersandar pada dasar sastra. Tabuh rah yang kerap diselenggarakan dalam rangkaian upacara Butha Yad-nya pun banyak disebut dalam berbagai lontar. Misalnya, dalam lontar Siwa Tattwapurana yang antara lain menyebutkan, dalam tilem kesanga (saat bulan sama sekali tidak tampak pada bulan kesembilan penanggalan Bali - Red.), Bathara Siwa mengadakan yoga, saat itu kewajiban manusia di bumi memberi persembahan, kemudian diadakan pertarungan ayam dan dilaksanakan Nyepi sehari. Yang diberi kurban adalah Sang Dasa Kala Bumi, karena jika tidak, celakalah manusia di bumi ini.
Sedangkan dalam lontar Yadnya Prakerti dijelaskan, pada waktu hari raya diadakan pertarungan suci misalnya pada bulan kesanga patutlah mengadakan pertarungan ayam tiga sehet dengan kelengkapan upakara. Bukti tabuh rah merupakan rangkaian dalam upacara Bhuta Yadnya di Bali sejak zaman purba juga didasarkan dari Prasasti Batur Abang I tahun 933 Saka dan Prasati Batuan tahun 944 Saka.
Macam-macam tajen Lantas bagaimana ritual suci semacam tabuh rah berubah menjadi tajen? Menurut Gus Eka, itu tidak lepas dari daya pikat yang ditampilkan dari seni bertarung dua ayam jagoan. Asal tidak melampaui batas secara hukum adat, tajen tidak dilarang. Apalagi aturan main antarsesama bebotoh harus dipatuhi. Aturan itu ternyata juga disebutkan dalam lontar Darma Pajuden. Kalaupun ada yang curang, otomatis tidak akan ada yang mengajaknya bertaruh lagi.
Maka, muncul pemahaman, ada perbedaan jelas antara tabuh rah dan tajen, meski awal mula tajen memang dari pelaksanaan tabuh rah. Tabuh rah adalah rangkaian upacara, berbeda dengan tajen atau krecan (dari kata ica yang artinya tertawa). Jadi, falsafah tabuh rah dan tajen tidak boleh dibaurkan agar tidak menimbulkan degradasi tatwa (nilai).
Meski tergolong sebagai ritual upacara, ternyata tabuh rah tidak dilakukan di semua daerah di Bali. Tapi bila suatu daerah sudah berkeyakinan harus melaksanakan upacara tabuh rah, maka mutlak pula dilakukan. Kalau tidak, justru akan mendatangkan musibah (sima) bagi daerah tersebut.
Pakar hukum adat dari Universitas Udayana Prof. Dr. Nyoman Sirtha, M.S. menyatakan, tajen berawal dari kebiasaan yang bersumber dari pelaksanaan upacara agama saat ada odalan (perayaan tahunan) di pura, yang selalu menghadirkan caru (kurban). Contohnya, upacara pada Dewa Yadnya diikuti dengan persembahan caru, salah satunya dengan menyembelih ayam yang ditujukan kepada butha kala.
Perkembangan selanjutnya, beberapa daerah menyimbolkan penyembelihan ayam dengan mengadu kelapa dengan telur, sampai telurnya pecah. Namun, ada daerah yang mengganti kebiasaan itu dengan cara mengadu ayam, yang akhirnya berkembang menjadi tajen, berasal dari kata tajian, karena setiap kaki kiri ayam aduan selalu dipasangi taji.
Namun secara sosiologis, lanjut Nyoman Sirtha, pelaksanaan tajen ada tiga macam. Pertama, tajen dalam ritual tabuh rah yang lazim diadakan berkaitan dengan upacara agama. Tabuh berarti mencecerkan dan rah adalah darah. Pelaksanaan tajen dalam tabuh rah dianggap sebagai bagian dari rangkaian pelaksanaan upacara sehingga pelaksanaannya tidak dilarang.
Kedua, tajen terang sengaja digelar desa adat untuk menggalang dana. Berdasarkan hukum adat, tajen terang tidak dilarang, bahkan setiap desa adat memiliki awig-awig yang mengatur tata cara tajen meski tidak tertulis. Tajen terang dilakukan terbuka dengan melibatkan pecalang, saya. Bahkan didahului dengan upacara kepada Dewa Tajen agar tidak terjadi perselisihan selama acara berlangsung.
Ketiga, tajen branangan yang tanpa didahului izin kepala desa adat serta semata-mata berorientasi judi.
“Ada perbedaan mendasar. Kalau tajen terang, meski memakai taruhan, soal menang dan kalah bukan hal terpenting. Yang utama, mendapat hiburan. Berbeda dengan tajen branangan yang bisa disebut pelalian (bermain), karena rata-rata yang terlibat lebih mengutamakan berjudi, bahkan sampai lupa diri,” ujar Nyoman lagi.
Terlepas dari pandangan serta sorotan tentang tajen, sebenarnya kegiatan ini telah mengacu kepada aktivitas budaya yang rasanya amat sulit untuk dilepaskan dari dinamika kehidupan masyarakat Bali. Beberapa waktu lalu, tajen bahkan telah dikemas sebagai atraksi wisata bagi wisatawan asing. Nyatanya wisatawan asing yang disuguhi atraksi langka itu sangat antusias sewaktu menyaksikannya. Agar lepas dari pendapat pro dan kontra, tajen memang lebih pas bila diteropong dari kacamata budaya Bali.
Tri Vivi Suryani, di Denpasar sumber: majalah Intisari 
 Bali Timur
JIKA Anda ingin mencari senang di Pulau Dewata, datang saja di Bali bagian selatan. Di sana ada hingar bingar Kuta, Legian, hingga pusat Kota Denpasar. Namun, apabila ketenangan yang Anda inginkan, pergilah ke Bali bagian timur. Mulai dari tempat peristirahatan, obyek wisata bernuansa spiritual dan sejarah, hingga aktivitas wisata bahari tersaji di depan mata.
Sudah sedemikian lama, Bali bagian timur dan utara berada di bawah bayang-bayang Bali bagian selatan, maupun kawasan wisata lain di Bali, seperti Ubud dan Kintamani, di Bali bagian tengah. Terpangkasnya waktu tempuh dari Denpasar ke Karangasem, pusat kota di Bali bagian timur, dari sekitar 3 jam men jadi paling lama 1,5 jam, setelah pembangunan Jl By pass Ida Bagus Mantra selesai, belum juga mampu mendatangkan lebih banyak wisatawan ke wilayah itu.
Padahal, Bali bagian timur punya sejumlah kawasan wisata yang tidak saja elok panoramanya, tapi juga punya cerita yang tak kalah dengan kawasan wisata lain yang lebih mendunia, seperti Pantai Kuta, Pura Tanah Lot, serta Pura Uluwatu. Di sana antara lain ada Pura Besakih, yang merupakan pura terbesar di Bali, serta tiga istana air (Tirtha Gangga, Jungutan, serta Taman Ujung) yang kental dengan nuansa sejarah, berupa taman dan bangunan di atas air yang dibangun oleh Raja Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut, sekitar tahun 1919.
Meski harus diakui panoramanya tidak seelok Kuta dan Nusa Dua yang termasyur karena bibir pantainya yang panjang dan berpasir putih, tapi wisatawan yang menginap di kawasan Candidasa, sebuah kawasan wisata di Manggis, Karangasem , dengan 300 kamar hotel kelas bintang dan 400 kamar hotel kelas melati, akan disuguhi pemandangan lautan di S elat Lombok yang khas: laut yang teduh, tenang, dengan sejumlah gugusan pulau-pulau kecil yang terletak antara Pulau Bali dan Nusa Penida. Perairan di sekitar gugusan itu menjadi pusat kegiatan wisata bahari, tentu saja dilengkapi dengan kawasan yang suda h lebih dulu dikenal, yakni Amed dan Tulamben, dua kawasan di ujung timur Pulau Bali.
Bupati Karangasem I Wayan Geredek, kepada Kompas di kawasan wisata Candidasa, Karangasem, sehari setelah Hari Raya Nyepi 2008 lalu mengakui, selama ini Karangasem belum dikenal oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Bahkan daerah di ujung timur Bali itu seperti terlupakan dalam setiap promosi pariwisata Bali maupun nasional.
Lihat saja tanda penunjuk jalan atau area wisata, daerah di Bali bagian timur tidak pernah tercantum di sana, kata Geredek berusaha menggambarkan daerahnya. Data Badan Pariwisata Bali tahun 2007 mencatat, tingkat hunian hotel di kawasan Candidasa baru sekitar 50 persen, jauh di bawah kawasan lain di Bali yang bisa mencapai 90 persen sepanjang tahun. Hal itu pun secara otomatis memengaruhi tingkat kunjungan wisatawan ke sejumlah obyek pariwisata di Karangasem.
Dikatakan Geredek, selain promosi yang masih kurang , persoalan infrastruktur juga tetap masih menjadi kendala. Tiga tahun terakhir, Pemkab Ka rangasem telah menghabiskan anggaran sekitar Rp 3 miliar untuk memperbaikinya, mulai dari memperbanyak penerangan jalan hingga pembangunan kawasan parkir dan tempat wisata di Pantai Candidasa.
Pelabuhan kapal pesiar Salah satu momentum yang tengah ditungg u oleh Pemkab dan pelaku pariwisata di Karangasem untuk mengoptimalkan kondisi kepariwisataan setempat adalah pembangunan pelabuhan kapal pesiar bertaraf internasional yang diharapkan selesai semester pertama tahun 2009. Pelabuhan itu terletak di Labuhan Amuk, Manggis, sekitar 5 kilometer arah barat kawasan Candidasa. Kawasan itu bersebelahan dengan Pelabuhan Padangbai yang merupakan pelabuhan penyeberangan.
Menurut Geredek, pelabuhan itu kelak diharapkan dapat secara nyata mengangkat dunia pariwisata Bali bagian timur serta meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Pelabuhan itu juga sekaligus diharapkan menjadi pintu gerbang maupun penghubung pariwisata dengan daerah lain di kawasan Indonesia bagian tengah, khususnya Lombok dan Nusa Tenggara Timur.
Bali timur tidak kalah elok dengan belahan Bali lainnya. Jika Bali bagian selatan menawarkan wisata hingar bingar, Bali bagian timur punya ketenangan. Pelabuhan kapal pesiar nanti diharapkan tidak mengusik ketenangan itu, namun justru menjadi persinggahan yang pas bagi penggemar wisata bahari maupun spiritual, kata Geredek.
Pelabuhan kapal pesiar di Labuhan Amuk, sekitar 60 kilometer arah timur Denpasar, menelan dana APBN Rp 70 miliar, APBD Provinsi Bali sekitar Rp 15 miliar, dan APBD Karangasem 3,5 miliar khusus untuk penyediaan lahan inti seluas 1,5 hektar. Pelabuhan itu akan memiliki dua dermaga sepanjang 150 meter yang memungkinkan dua unit kapal pesiar berukuran besar melakukan bongkar muat dalam satu kali kesempatan.
Geredek optimistis, pelabuhan itu akan mulai dioperasikan sesuai jadwal, awal tahun 2009, dan nantinya mampu menarik minimal 200 kapal pesiar per tahun dengan penumpang rata-rata 1.000 wisatawan di setiap kapal. Wayan Kariasa, Sekretaris PHRI Karangasem yang juga Manajer Alam Asmara Dive Resort Candidasa mengungkapkan, selama ini kapal pesiar praktis tidak memiliki tempat bersandar yang aman dan nyaman untuk bersandar. Akibatnya, seringkali Pelabuhan Padangbai dipaksakan menjadi tempat bersandar sementara.
Ironisnya, karena pertimbangan kondisi pelabuhan itu yang berupa pelabuhan penyeberangan, kapal-kapal pesiar maksimal hanya berlabuh sekitar 1-2 malam saja. Akibatnya, pendapatan perhotelan dan restoran di Candidasa, yang notabene hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari Padangbai, kur ang maksimal.
Bupati Geredek mengungkapkan, Pemkab Karangasem terus secara aktif berkomunikasi dengan sejumlah desa adat di Manggis agar bersiap menyambut keberadaan pelabuhan itu. Pemkab juga telah rajin menggelar pelatihan, khususnya di bidang perhotelan dan jasa lainnya untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia menghadapi para wisatawan mancanegara. Dengan demikian, warga setempat nantinya tidak terasing dan tersingkir oleh kehadiran pelabuhan internasonal itu.
keterangan foto: Suasana tenang di sebuah pantai di Bali timur. foto: Benny DK
Laporan Wartawan Kompas, Benny Dwi Koestanto © 2008 Kompas 
 | Ngaben | Mar 15, '08 8:44 PM for everyone |
Bali Ngaben Singaraja Cremation Ceremony
Ngaben or the Cremation Ceremony is the ritual performed to send the dead through the transition to his next life. The village Kul Kul, hanging in the tower of the village temple, will sound a certain beat to announce the departure of the deceased. The body of the deceased will be placed at Bale Delod, as if he were sleeping, and the family will continue to treat him as if he were still alive yet sleeping. No tears are shed, for he is only gone temporarily and he will reincarnate into the family.
The Priest consults the Dewasa to determine the proper day for the ceremony. On the day of the ceremony, the body of the deceased is placed inside a coffin which is then placed inside a sarcophagus in the form of a buffalo (called Lembu) or a temple structure called Wadah made of paper and light wood. The Wadah will be carried to the village cremation site in a procession.
The climax of Ngaben is the burning of the Wadah, using fire originating from a holy source. The deceased is sent to his afterlife, to be reincarnated in the future.
From: harrieTV Import.flv (11.4 MB)
 Mesem
Anda penyuka kartun? Mau puas menikmati kartun Indonesia? Silakan kunjungi Museum Kartun Indonesia. Museum ini adalah museum kartun pertama di Asia Tenggara, lokasinya di Sunset Road Nomor 85, Kuta, Bali. Masih fresh from the oven karena baru saja diresmikan kemarin, Kamis (13/3/2008). Di "rumah para kartunis" ini Anda bisa menikmati puluhan lukisan atau gambar kartun. Saat pembukaan dipamerkan 600 karya kartunis-karikaturis Indonesia. Namun, kartun di tempat ini merupakan gambar sindiran alias karikatur.
Museum yang didirikan oleh Persatuan Kartunis Indonesia (PAKARTI) ini memuat puluhan gambar baik yang telah dimuat di media maupun yang tertolak di media. Bahkan pengisinya juga karikaturis ternama seperti GM Sidharta, Dwi Koen, Poernomo, dan berbagai daerah se-Indonesia seperti Kokang dari Jogja.
"Kami berharap museum ini mampu menjadi motivator para kartunis agar tidak pesimis. Mari kita bekerja tidak untuk diri sendiri tetapi juga untuk masyarakat," kata Adi Jangkrik 85, salah satu pemrakarsa museum. Kartun dan karikatur merupakan gambar sederhana yang lucu. Di balik gambar yang membuat orang mesam mesem sendiri ini biasanya ada pesan yang ingin disampaikan. Oleh karena itu, gambar dalam kartun dan karikatur selalu memiliki makna. Mau mesam-mesem sampai puas? Kini, Anda tahu harus kemana.
Ayu Sulistyowati © 2008 Kompas 
|  | Beriringan Membersihkan Batin
Sepekan hingga tiga hari menjelang Hari Raya Nyepi, umat Hindu secara bergantian melaksanakan upacara melasthi, atau di Bali biasa disebut melis, mekiyis.
Melasthi berarti “nganyudang malaning gumi ngamit tirta amertha” yaitu menghanyutkan segala kekotoran dalam kehidupan dan mengambil air dari laut, sungai, danau, dan sumber air lainnya sebagai simbol penyucian diri, batin, dengan memohon dari Sang Sumber Kehidupan. Umat Hindu di Denpasar dan sekitarnya, Selasa (5/4) pagi, beriringan menuju pantai-pantai terdekat, salah satunya Pantai Padanggalak, satu kilometer utara Pantai Sanur.
Pakaian khas berwarna dominan putih akan terlihat begitu banyak dipakai oleh umat yang melaksanakan upacara melasthi. Mereka yang datang dari desa adat yang jaraknya dekat memilih berjalan kaki, sementara yang relatif jauh menggunakan kendaraan bermotor, mulai sepeda motor, mobil, hingga truk.
Mereka membawa banten (sesaji) persembahan serta simbol-simbol sakral (pretima) dari pura desa masing-masing. Sesampai di sumber air itulah upacara puncak melasti dilangsungkan. Intinya berupa upacara menghaturkan bhakti pada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Baruna atau dewa laut. Umat bersembahyang bersama dan diperciki air suci oleh para pemangku.
Lalu, mereka beranjak turun ke laut, beriringan melintasi ombak atau mencelupkan kaki serta benda-benda sakral sebagai simbol penyucian diri, seiring dengan sejumlah pemulung yang berusaha mengais rejeki dari sisa-sisa sesaji. Setelah semua itu selesai, proses iring-iringan kembali lagi menuju ke pura. Benda-benda sakral kembali ditempatkan di pura, sementara umat pulang ke rumah masing-masing dengan semangat kebersihan batin.
Foto dan Naskah: Kompas / Benny Dwi Koestanto |
Persiapan ogoh-ogoh .. From: yanikjw Import.flv (16.6 MB)
A seven minute demonstration of Bali & Beyond's Wayang Kulit Shadow Theater. The company offers both full length traditional Bali style shadow play as well as educational presentations and contemporary performances. For more information visit: http://www.balibeyond.com Import.flv (15.9 MB)
 | Bali | Mar 2, '08 12:34 PM for everyone |
Exotic Balinese local culture, resort, girls, friendly people, art, amazing food and music from Bali. Paneeda and Besakih Beach resorts, Batu Bata restaurant with its famous #1 steak in Bali. Import.flv (23.0 MB)
|  | Terumbu Listrik dari Pemuteran
Seperti menyusuri sebuah kompleks kota mini di dalam air, berbagai jenis struktur besi berbentuk kubah, terowongan, cawan, persegi empat, dan lainnya berdiri di dasar laut yang landai. Sebagian struktur masih tampak wujudnya, di antara kumpulan terumbu karang yang baru tumbuh di berbagai sudut. Namun, sejumlah struktur mulai sulit dikenali bentuk aslinya karena telah rapat ditumbuhi terumbu karang.
Sekitar 33 konstruksi besi, pada lahan sekitar dua hektar di dasar laut, masing-masing tersambung pada sebuah kabel listrik yang menjulur bermeter-meter dari sekitar enam power station yang tersimpan di pantai. Berbagai jenis ikan berenang di antara struktur, juga di antara kabel-kabel tersebut. Terumbu karang buatan ini telah menjadi rumah baru, menggantikan rumah lama, koloni terumbu karang di Teluk Pemuteran, Bali barat, yang sebelumnya rusak akibat kegiatan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.
Terumbu karang buatan yang dipatenkan dengan nama Biorock ini dikembangkan oleh dua peneliti, almarhum Prof Wolf Hilbertz (Jerman) dan Dr Thomas Goreau (AS). Struktur besi yang dialiri listrik tegangan rendah menimbulkan reaksi electrolytic yang mendorong pembentukan mineral alami pada air laut, seperti calcium carbonat dan magnesium hydroxide. Pada saat bersamaan, perubahan elektrokimia mendorong pertumbuhan organisme di sekitar struktur. Akibatnya, ketika sebuah bibit, berupa potongan terumbu karang, ditempelkan pada struktur besi tersebut, pertumbuhan yang lebih cepat akan terjadi.
Revitalisasi terumbu karang di Teluk Pemuteran ini dimulai sejak Juni 2000, di bawah naungan Proyek Konservasi Karang Lestari. Meski telah lima kali meraih penghargaan lokal dan internasional, keberlangsungan proyek ini selalu dalam tantangan. Dukungan masyarakat lokal rupanya menjadi kunci penting keberhasilan. Di Pemuteran, kelompok nelayan dan pecalang laut (polisi desa adat) menjaganya dari kegiatan penangkapan ikan dengan bom atau sianida. Pengembang wisata, yaitu Hotel Taman Sari dan Amerta, Pondok Sari Hotel, serta Bali High Academy Dive Shop, pun ikut membiayai pengeluaran listrik yang biayanya mencapai lebih dari Rp 5 juta per bulan itu.
Dalam berbagai pergulatan, Biorock di Pemuteran dinilai memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi, dibandingkan dengan 19 negara lain di dunia yang juga menerapkan Biorock. Selain selalu menjadi proyek percontohan, Biorock juga telah menjadi magnet yang mampu menarik turis lokal dan mancanegara yang penasaran melihat kota mini di dasar laut tersebut.
Foto dan Naskah: Kompas / Lasti Kurnia |
 Wayan Tegag
Sawah-sawah subur yang banyak digambarkan dalam kartu pos tentang citra Bali masa silam itu kini menjelma vila-vila mewah. Kemewahannya menutupi kehidupan petani yang tergusur ke sudut-sudut gelap.
Siang itu sangat terik. I Wayan Tegag (75) dan istrinya, petani di Banjar Umu Sari, Kecamatan Kuta, Bali, tengah menyabit rumput. ”Tanah untuk vila itu dulu milik kami, tapi kami jual,” kata Wayan Tegag, yang biasa dipanggil Rano, sambil menunjuk vila tepat di hadapannya. ”Pemiliknya orang asing, entah dari mana,” tambahnya. Sawah miliknya, seluas 20 are (satu are 100 meter), ia jual awal 1990-an ketika hampir semua wilayah Kerobokan masih berupa sawah. ”Waktu itu sawah saya dihargai Rp 10 juta per are. Sangat tinggi untuk harga saat itu,” katanya.
Tegag pun tergiur. Apalagi, sejak dulu, dia memang ingin punya rumah tembok. ”Tanah itu saya lepas, lalu saya membangun rumah dan membeli sapi,” kisahnya. Beberapa tahun kemudian, Tegag baru sadar bahwa kawasan itu tengah dikembangkan menjadi kawasan vila dan perumahan eksklusif. Di atas bekas sawah Tegag kini berdiri vila megah berlantai tiga. Harga tanah di sana pun meningkat berlipat-lipat hingga Rp 100 juta-Rp 300 juta per are.
Kini, penyesalan Tegag juga berlipat-lipat. Dia menyesal, mengapa dulu mau menjual tanah warisan. ”Makelar tanah yang dulu membujuk menjual tanah pasti dapat untung besar,” kata dia.
Untuk menopang hidup, saat ini dia nandu (mengerjakan sawah orang lain), dengan pendapatan dibagi tiga; satu bagian untuk pemilik sawah dan sisanya untuk Rano. Dia masih harus mengeluarkan biaya untuk membayar dua karyawan, masing-masing Rp 20.000 per hari, serta biaya pemupukan sebesar Rp 400.000. Padahal, setiap panen, sawah garapannya hanya menghasilkan Rp 2 juta. Hasil panen itu hanya pas-pasan untuk membiayai kehidupan Tegag, istri, dan dua anaknya.
Di usia senja, Tegag memang masih menjadi tulang punggung keluarga. Dua anaknya, keduanya laki-laki berusia pertengahan 30-an, hingga kini masih menganggur. Anak pertamanya yang lulusan SMA mencoba melamar jadi pelayan di vila-vila di sekitar Kerobokan. Tetapi, ternyata tidak semudah itu mencari kerja di tanah sendiri. Sebagian besar karyawan vila berasal dari daerah lain, seperti Jakarta atau daerah-daerah di Jawa. ”Anak saya enggak diterima kerja di vila. Kata mereka, usianya sudah terlalu tua dan dia dianggap enggak punya kemampuan,” ujar Tegag.
Menuju kehancuran Normal saja mendengar sorak gembira menyaksikan laju industri pariwisata Pulau Seribu Pura itu. Juga fenomena terkini model kepariwisataan di Tanah Air, khususnya Bali dan Lombok, yang kian mengglobal terkait kehadiran investor asing yang ”membeli” dan menjadi ”pemilik” tempat-tempat pelesiran tersebut. Hanya saja, kemajuan yang digapai itu tetap saja menyisakan kecemasan. Bahkan, dalam kasus pariwisata Bali, berbagai pihak berani melukiskan bahwa derap perekonomian Pulau Dewata yang bertopang pada dunia kepariwisataan itu kini sedang menuju ke kehancuran.
Wayan Windia, pakar subak (sistem irigasi tradisional di Bali) dari Universitas Udayana, mengingatkan bahwa landasan utama pengembangan pariwisata Bali adalah pertanian. Sementara pertanian itu sendiri yang didominasi persawahan pasti bersentuhan dengan sistem subak. Alasannya karena seluruh aktivitas persawahan di Bali dikelola oleh sebuah sistem bernama subak.
”Napas subak itu sangat ditentukan oleh keberadaan lahan dan air. Kehadiran pariwisata di sisi lain ternyata terus menggerogoti lahan petani serta kandungan air yang dimiliki. Ini semua merupakan ancaman serius, yang pada saatnya akan menghancurkan pariwisata sekaligus perekonomian Bali,” tuturnya.
Kecemasan senada disuarakan Ketut Suardika (36), Wayan Suada (56), dan sejumlah petani lain di lingkungan Subak Deloh Tunduh, Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Gianyar. ”Karena itu, kami bersepakat untuk tetap menutup kawasan subak di lingkungan Deloh Tunduh dari akses jalan raya. Ada banyak contoh kalau jalan raya sudah masuk, areal subak langsung terancam,” tutur Suardika, koordinator subak itu.
Alhasil, semua pihak diingatkan untuk tidak cepat bergembira menyaksikan geliat pariwisata Bali sebagai kesuksesan gemilang. Geliat itu sesungguhnya berjalan seiring langkah negatif yang terus menggerogoti pertanian sebagai landasan utama pariwisata Bali. Lihatlah I Wayan Tegag yang terlempar ke sudut gelap di balik sukses itu....
keterangan foto: Petani di Desa Kerobokan, Kecamatan Kuta, Badung, Bali, kini dikepung vila-vila mewah yang dibangun di atas sawah bekas milik mereka, Kamis (7/2/2008). foto: Ahmad Arif
(ANS/BEN/AIK/IRN) © 2008 Kompas 
| |