Kampung Kuno Tamkesi"Tamkesi itu kampung kuno yang keunikannya sudah terkenal luas, bahkan hingga pelosok dunia. Keunikan paling utama adalah karena perkampungan tumbuh di puncak bukit melalui susunan batu bertangga tujuh," begitu penjelasan Antonius Benge, seorang pejabat lingkungan Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara di Pulau Timor bagian Nusa Tenggara Timur, pekan ketiga Juli lalu.
Tentu saja pernyataan sang pejabat ini begitu menggoda, terutama dari keunikan kampung berupa susunan batu bertangga tujuh hingga puncak kampung tua. Tanpa pertimbangan panjang, langsung diputuskan untuk berkunjung ke Tamkesi yang berjarak sekitar 60 km dari Kefamenanu (lazim hanya disebut Kefa), ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara. Niat berkunjung ke kampung tua di wilayah Kecamatan Biboki Selatan itu makin kukuh ketika Antonius Benge mengingatkan agar hati-hati karena jaringan jalannya sudah hancur.
Apa keunikan Tamkesi dibandingkan dengan kampung tua lainnya di Nusa Tenggara Timur (NTT)? Menurut

berbagai sumber, Tamkesi adalah bekas istana atau pusat Kerajaan Biboki di waktu lampau, yang juga disebut istana kaiser atau sonaf oleh masyarakat setempat. Di waktu lampau, kerajaan itu dipimpin oleh seorang kaiser yang lazim disebut kaser atau atupas neno. Tidak diketahui secara pasti kapan kerajaan ini berdiri. Sebuah catatan menyebutkan pusat kerajaan itu dibangun sekitar abad ke-17.
Sejumlah masyarakat di Kefa dan Manufui mengakui, pengaruh kerajaan masih terasa hingga sekarang. Mengutip penuturan para tetua, kata Biboki diambil dari nama seorang leluhur asal Pulau Timor bagian timur (Timor Leste). Sang leluhur bernama Biboki, bersama keluarga besarnya di waktu silam merupakan kelompok masyarakat nomaden. Konon mereka melakukan pengembaraan ke arah barat pulau yang sama (kini wilayah NTT). Dan Tamkesi adalah titik terakhir dari pengembaraan panjang leluhur Biboki.
Sebagaimana pernah disaksikan delapan tahun lalu,
keunikan lain dari Tamkesi adalah sosok kampungnya. Bangunan perumahan berbentuk khas,

tumbuh melingkar mengikuti hamparan puncak tangga-tangga batu. Susunan anak tangga batu itu sekaligus merupakan benteng
istana hingga menyulitkan musuh yang datang menyerang. Benteng dari susunan batu ini hanya menyisakan dua jalan setapak bagi pengunjung dan warga istana lainnya, sedangkan satu jalan setapak lainnya khusus bagi kaser bersama keluarganya.
Menurut penuturan masyarakat, tangga-tangga batu tidak sekadar benteng pertahanan istana. Anak tangga berjumlah tujuh sekaligus merupakan simbol tujuh rahmat Tuhan yang harus dilestarikan karena merupakan sumber hidup masyarakat. Ketujuh rahmat dimaksud merupakan bahan makanan pokok masyarakat berupa padi/jagung, sayuran, buah-buahan, ubi, tanaman obatan, dan tanaman untuk pakaian. Terakhir adalah hewan piaraan, seperti kerbau, sapi, ayam, dan babi.
Coba merangkak
Tertarik atas keunikan kampung itu, John Nunu, pengemudi mobil sewaan jenis Kijang pun turut mendukung niat mengunjungi Kampung Tamkesi. "Bagi saya tak soal, kita berangkat saja. Kalau ternyata jaringan jalannya memang sangat buruk, ya... kita balik saja," katanya.
Pulau Timor, yang sebagiannya merupakan wilayah negara baru Timor Leste, sejak lama
memiliki jaringan jalan utama, lebar dan mulus, sejak tahun 1970-an. Lazim disebut sebagai Lintas Timor, khusus di Pulau Timor bagian NTT, jaringan jalan itu panjangnya sekitar 300 kilometer (km) dari Kota Kupang hingga Motatain, pintu perbatasan dengan Timor Leste. Jaringan jalan beraspal mulus itu menghubungkan SoE (kota Kabupaten Timor Tengah Selatan), Kefa dan Atambua (kota Kabupaten Belu).
Kupang-Kefa berjarak sekitar 200 km. Selanjutnya perjalanan menuju Tamkesi masih bisa menikmati jaringan jalan mulus Lintas Timor hingga persimpangan di Nunbai, sekitar 40 km. Benar saja, perjalanan selanjutnya langsung menerobos medan berat sejak persimpangan di Nunbai. "Maaf Pak, kita terpaksa harus pelan karena jalannya sudah berlubang-lubang," kata John Nunu ketika kendaraannya mulai melintas jalan menuju Tamkesi sejak belokan di
Nunbai.
Perjalanan menuju Tamkesi hingga saat ini hanya dimungkinkan dari arah Nunbai, berjarak lebih kurang 20 km. Jaringan jalannya melewati antara lain Kampung Palaman di Desa Lanaus, Kecamatan Insana; Kampung Opo di Desa Pantae, Kecamatan Biboki Selatan; dan Manufui (kota kecamatan tersebut).
Sebenarnya sejak memasuki persimpangan di Nunbai, jaringan jalannya, meski sudah sempit, masih berbalut aspal. Namun, lapisan asplanya sebagian sudah terkelupas dan hancur sehingga kendaraan harus melaju dengan kecepatan rendah. Ternyata jaringan jalan yang masih menyisakan lapisan aspal sejak Nunbai hanya sejauh lebih kurang 3 km atau hingga Kampung Palaman. Selebihnya merupakan jalan tanah sehingga kendaraan berjalan lebih pelan lagi karena harus menyilih jebakan lubang, gundukan batu, atau gundukan tanah liar akibat desakan roda kendaraan ketika melintas pada musim hujan.

"Jaringan jalan ini telah dirintis sejak hampir 20 tahun lalu. Namun, hingga sekarang belum pernah tersentuh peningkatan. Kami sungguh kecewa karena kondisi ini adalah contoh bahwa kami warga di kawasan ini terabaikan," keluh Laurens Leu Meta, pemangku adat sekaligus tokoh masyarakat Desa Lanaus, saat terlibat dalam sebuah percakapan di depan Sekolah Dasar (SD) Katolik Tualeu, Desa Lanaus, bulan Juli lalu.
"Masyarakat di kawasan ini sebenarnya sudah sangat berterima kasih kalau jaringan jalannya diaspal. Sekarang ini masyarakat merasa terisolasi," sambung Yohanes Atanus, Kepala SD Katolik Tualeu yang pada Tahun Ajaran 2007/2008 ini didukung 254 siswa. Meski medan jalan kian berat, John Nunu masih memberanikan diri merangkak maju. Namun, ia akhirnya menyerah juga ketika perjalanan hingga kampung Opo di Desa Pantae, Kecamatan Biboki Selatan. Padahal, posisi kampung itu baru berjarak sekitar 6 km dari persimpangan Nunbai atau sekitar 14 km sebelum Tamkesi.
"Keunikan Tamkesi telah menempatkan kampung kuno ini sebagai salah satu andalan wisata budaya di NTT. Namun, sayangnya, prasarana jalannya belum mendukung," sambung Nicolaus Muti (34), warga Desa Lanaus lainnya.
Sebenarnya puncak bukit Tamkesi yang ditumbuhi kampung kuno sudah kelihatan sayup-sayup dari Kampung Opo. Namun, karena jaringan jalannya kian berat dilalui, keputusan pengemudi John Nunu untuk tidak melanjutkan perjalanan terpaksa harus dituruti.
Dengan demikian, terpaksa harus puas saja menyaksikan gundukan bukit Tamkesi dari kejauhan.
FRANS SARONGSabtu, 01 September 2007© 2002 Harian KOMPAS