Yogya Mungil di Pasar Cikini
Pasar Cikini Ampiun, Jakarta Pusat, menyimpan seabrek kisah. Bukan hanya tentang pasar itu sendiri, namun juga tentang penghuninya. Pasar yang didirikan tahun 1962 pada masa Gubernur DKI Soemarno itu sempat menjadi pasar kelas atas. Tak mengherankan sebab kawasan tersebut memang jadi kawasan permukiman elite. Lantas kenapa namanya Pasar Cikini Ampiun? Menurut Alwi Shahab, di belakang Pasar Cikini, pada masa lalu, ada kampung Cikini Kramat Kamboja. Kampung itu juga dikenal sebagai Gang Ampiun dan dilintasi kereta api barang yang mangkal di Gang Kenari (di samping FK UI).
Spesialis Gudeg Untuk kali ini, pasar masih akan menjadi latar belakang cerita, sebab Warta Kota mencoba mengajak pembaca untuk menelusuri jejak kuliner yang bahkan hingga kini masih terus bertahan sebagai 'pemanis' pasar yang makin kusam itu. Gudeg Bu Harjo adalah salah satu pemanis tadi. Berada di antara kios buah, makanan kecil, dan peralatan rumah tangga, tempat makan mungil ini menjadi begitu ingar-bingar manakala jam makan tiba. Meski tempat tak memadai, akal tak mati. Selain kursi panjang, yang setengahnya bisa dipakai duduk, beberapa kursi plastik bertumpuk siap digunakan pelanggan yang memulai paginya di sini untuk sarapan, juga bagi mereka yang mencari makan siang. "Tapi paling banyak pesanan dari kantor untuk makan siang," ujar Bu Nil, penjaga warung mungil ini. Tak sedikit orang yang menjadi saksi atas rasa gudeg racikan Bu Harjo yang usianya tak terlalu jauh beda dengan usia pasar itu sendiri. Seporsi nasi gudeg komplet ayam kampung, berisi gudeg, krecek, telur ayam negeri, dan suwiran ayam kampung dipatok Rp 35.000. Sementara nasi gudeg komplet ayam negeri dibanderol Rp 30.000. Tentu saja ada yang langsung berdecak mendengar harga seporsi gudeg tadi. Tapi tentu harga itu sepadan dengan rasa yang disajikan. Memang, soal rasa tergantung selera, tapi jika membandingkan beberapa gudeg yang ada di Jakarta, rasanya gudeg ini terbilang pas. Tak terlalu manis, gudegnya pun kering. Suwiran ayam terasa empuk, rasanya menjadi begitu klop ketika semua itu dibenamkan dalam areh (kuah gudeg). Areh inilah yang membuat Gudeg Bu Harjo bertahan hingga nyaris setengah abad. Kini usaha Bu Harjo itu dilanjutkan oleh putrinya, Sri Rahayu.
Rames dan pecel Meski spesialisasinya gudeg, mendiang Bu Harjo rupanya tak lantas terpaku hanya pada satu menu itu saja. Ia juga memperkenalkan nasi rames ala Yogya. Isinya, sayur asem-asem (terdiri atas buncis, potongan tahu, dan daging), mi goreng, kering tempe, serundeng daging, telur, dan acar. Harga yang harus dibayar Rp 25.000. Tapi dengan lauk seabrek rasanya pantas-pantas saja. Apalagi serundeng dagingnya empuk. Terlebih lagi, seberapa sering warga Jakarta asal Yogya bisa menemukan serundeng daging seperti ini? Selain dua menu tadi, ada menu lain yang tak kalah menggoda, yakni nasi pecel. Bumbu kacangnya begitu kental dengan rasa yang tak kalah kental. Pedas, manis, asin, bercampur pas mengguyur rebusan dedaunan. Meski demikian, primadona menu tetap saja gudeg. Warung yang buka setiap hari mulai pukul 08.00-15.00 ini bahkan sudah kehabisan dua baskom ayam, kampung dan negeri, ketika jam makan siang belum terlalu jauh beranjak. Kini kelangsungan warung ini tentu tak lepas dari peran Pemprov DKI untuk mengayomi kekayaan wisata kuliner yang ada. Gudeg Bu Harjo adalah Pasar Cikini, demikian sebaliknya. Sebuah warung tradisional di sebuah pasar tradisional bersejarah yang tak boleh lenyap berganti mal atau plasa.
Pradaningrum Mijarto © 2008 Kompas
Pecel pincuk
Nasi gudeg 2 Comments
|